Posted by: geistijany on: September 15, 2008
Selembar ruh
Tampak meringis oleh kepedihan
Kenapa ia? Bukankah kematian berarti kembali pada asal?
Adakah asal yang berupa ketiadaan?
Aku ingin berkenalan dengan sosok malaikat telanjang itu…
Begitu polos dan lugu, tapi sekaligus sadis dan keras
Kepalanya botak, tapi belum tentu ia bisa berpikir
Yang ia bisa lakukan, sendika dhawuh dengan ketentuan Mutlak
Terkadang ingin juga, bagaimana rasanya keadaan nihil pikiran itu?
Kendaraannya awan…penyimpan air hujan, dan peneduh saat kepanasan
Seperti lakon dragon ball: protagonisnya berkendara awan kintoun..
Kurasa malaikat bukan protagonis, seperti juga setan bukan antagonis…
Dan dia juga bukan penakluk alam, pengendara angin ataupun awan…
Tapi sang ruh tetap saja tampak meringis…
karena tak kuasa menolak ketika dicerabut dari sang tubuh
tiba-tiba ingin rasanya ‘ku menghajar malaikat itu:
betapa ia tak hormati selembar jubah Tuhan, jubah yang dikenakan-Nya saat turun ke alam sejarah
Halo Bro…
Ini Tyjani yang dulu kukenalkah? Wah banyak menulis sekarang ya…Salam! keep in touch Bro!
kalo sempet tengok2 blogku ya
http://www.muallaqatforum.blogspot.com
http://www.tjlatjapanpoetryforum.wordpress.com
http://www.buletincangkir.wordpress.com
bim, kamu makin progresif aja, keep your good job!
September 20, 2008 pada 5:22 am
ck ck ck..untung aja RUU pornografi dan pornoaksi belum disahkan…
sungguh, sebentuk luaran yang biasanya luar biasa!
–masih berkarya