Willkommen…zu meiner Website

bermain dadu?

Posted on: Oktober 21, 2008

Berpikir seperti melempar dadu, pikir Mallarme. Konon, Nietzsche juga menyangka demikian, seperti yang ditunjukkan Gilles Deleuze di bukunya tentang Nietzsche. Benarkah berpikir seperti melempar dadu?

Melempar dadu itu seperti main-main, tak serius: tak bisa dipastikan. Mempermainkan dadu, atau bermain dengan dadu, berarti juga bermain dengan kemungkinan yang serba tak pasti. Berpikir adalah permainan tentang/dalam keadaan yang serba tak pasti.

Sepertinya tak salah. Apa sih yang bisa dilakukan manusia selain bermain? Bukankah di diktat-diktat kuliah ilmu budaya, kita punya nama latin “Homo ludens”, selain “Homo sapiens”?

Namun orang-orang seperti masih saja tak mengakuinya. Mereka terlihat melempar dadu, tapi mengaku menghitung rumus matematika. Walhasil, ketika mereka sudah terlanjur percaya dengan hitung-hitungannya, yakin dengan kepastiannya, segera mereka mirip orang gila (tapi ngaku waras, bahkan menggilakan yang sebetulnya “waras”). Karena yakin, orang cenderung tak mengakui ada kemungkinan lain.


Seperti juga bermain dadu, berpikir adalah menemukan kemungkinan. Dengan cara melempar-lempar dadu, kita bisa mengkalkulasikan rentetan dari fluktuasi hasil lemparan. Begitulah saat kita berpikir.


Lalu, apa yang bisa diharapkan dari ketidakpastian saat kita berpikir? Tak lain dan tak bukan adalah bahwa berpikir masih mungkin kita lakukan! Taruhlah sebagai pembanding, “bagaimana mengetahui itu mungkin?” bisa diradikalkan dengan “bagaimana berpikir itu mungkin?” Artinya, masih ada hal dan banyak hal yang takkan habis dipikirkan, takkan habis dimainkan mirip permainan dadu.


Beruntungnya, sudah sejak lama Tuhan mengkabarkan bahwa Diri-Nya tak pernah menciptakan segala sesuatu hanya untuk kesia-siaan. Ngeklop dengan aforisma konyolnya Milan Kundera, yang mirip pepatah Yahudi, “manusia berpikir, Tuhan pun tertawa.” Dia tertawa karena melihat permainan dadu kita yang kita sendiri tak tahu bagaimana memainkannya.


Tak usah dibayangkan, bagaimana tertawa-Nya. Yang jelas, bukankah pemikiran manusia tak habis-habisnya? Dan akal tak pernah mati suri. Hanya saja, saat ini manusia dibunuh oleh kepastian, yang merembet menjadi malapetaka berupa memastikan—menganggap sebagai pasti—hal-hal yang tak-pasti.

Sejenak terlintas di benak saya, jika kita berhenti berpikir, tentunya Tuhan akan berhenti tertawa. Tentunya juga ini sangat menakutkan: lantas apa yang akan dilakukan-Nya, saat kita berhenti ‘bermain dadu?

Wallahu a’lam…

About these ads

7 Tanggapan to "bermain dadu?"

Bro! sepertinya kita semakin diajak bermain-main nih, sekarang ada banyak orang yang gemar membikin dadu, dikocoknya sendiri dadunya, dihitungya sendiri angkanya, dinikmatilah sendiri kebodohannya, dilemparkannya kembali hidupnya …

tuhan memberikan nikmat bagi orang yang berfikir yakni sedikitnya konstraksi fisik di tubuhnya

tetapi, sialnya kita selalu sendiri : he …rumah sunyi

salam logos yang membolos di negeri ini!

halo, salam kenal. saya perempuan biasa dari bandung

kau gemar memain-mainkan, pernahkah ada ekstase yang menjemukan kawan.

salam kenal juga, saya cowok biasa dari Jogja…hahaha.. lekas itu mak, best opportunity, ha!

Aku menangis bersama heningnya malam. Kuharap Tuhan menghapus air mataku. Aku sudah bosan dengan permainan tanpa henti. Buat aku tersenyum Tuhan!! Harapku.

buat gadiz: tersenyumlah…karena permainan ini bukan permainan itu sendri..ia menyembunyikan sesuatu yg dicari manusia…di sna ada jawab yg lamat-lamat…buka hati dan pikiran, agar Dia bersedia menghampiri-Mu, merengkuh-Mu, untuk mengajarimu menjadi manusia penuh…

Dadu bkanlah permainan biasa,tpi jga luar biasa…kdang orang sering menggunkan permainan dadu dngan d taruhi uang,pdahal to larangan,kdang jg da yg menggunakan kartu remi…shngga jrang d lhat orang..gtu kox..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: