Willkommen…zu meiner Website

putus? maksud loh?

Posted on: Juni 2, 2008

Seorang kawanku terdiam, di gardu kecil dari bambu di depan rumah kontrakannya. Aku jadi heran, karena tak seperti biasanya ia seperti itu. Sekadar menyapa, aku tanya darimana kamu? Ia masih mengenakan sepatu, yang belum dilepaskan setibanya ia di rumah kontrakan itu. Tasnya yang tergeletak di tanah menunjukkan bahwa ia tidak sedang tanpa masalah.

Aku lihat dia senyum kecil dan bilang bahwa ia baru saja diputus pacarnya. Kali ini aku heran sekali, padahal sebelumnya aku sering mendapati kawanku berdua dengan pacarnya.

Oya? Kenapa?, kali ini aku tak begitu mengharap jawabannya seketika. Otakku sibuk mengingat-ingat perawakan pacarnya: kecil, berwajah childist, dan manja. Melihat pacarnya, seperti melihat seorang anak perempuan seumuran SMU kelas satu. Tapi kepalanya berjilbab. Dia kekanak-kanakan, demikian aku mencoba menarik kualifikasi subjektifku yang buru-buru melekat pada pada sosok pacarnya.

Dia kekanak-kanakan. Minta putus tanpa alasan jelas…., ia bergumam. Capek aku, Mak, harus mengajarinya bersikap dewasa. Selontar pernyataan itu kemudian menyisakan tampilan wajahnya yang berubah. Seketika. Kali pertama ia tampak sedih, kali kedua mukanya seperti orang yang baru saja melepas beban. Ini aneh.

Ya kupikir dia memang sedih. Pacarnya minta putus tanpa alasan. Sedihnya karena dua sebab: dia kehilangan pacar, orang yang disayanginya dan tak ada sebab, tak ada alasan jelas, yang bisa membenarkan pilihan pacarnya itu. Aku mencoba memahami fakta ini.

Kawanku mencintai pacarnya. Gambaran cintanya kutahu dari ceritanya bahwa ia yakin pacarnya akan jadi istrinya. Ini luar biasa. Bahkan ia sudah dianggap anak sendiri oleh orang tua si pacar. Baru kali ini ia pacaran dan diperlakukan seperti itu oleh ‘mertua’. Tentunya ini melempangkan jalan buatnya. Selangkah lagi ia sangat mungkin mengajukan lamaran.

Fakta pertama ini menandakan bahwa mungkin tidaknya ia diangkat menjadi menantu ‘mertua’ tergantung pada kemauannya. Ini persoalan pilihan. Jika ia mau melakukannya sekarang, tentu bisa-bisa saja dan mudah. Atau ia membatalkan kemauannya, pun juga sangat mungkin. Pendek kata, semua tergantung padanya. Nasib masa depannya, untuk persoalan ini, adalah berada di bawah kontrolnya, di bawah pilihan-bebasnya.

Kita bisa saja langsung menyimpulkan bahwa keyakinan kita pada suatu hal dikondisikan oleh fakta-fakta yang melingkupi hal-hal tersebut. Kawanku menemukan dasar-dasar: kepercayaan si ‘mertua’ padanya dan kemauannya pada terwujudnya nasib baik.

Kawanku pernah cerita, bahwa pacarnya berkeluarga darah biru atau kerabat bangsawan asli Jogja. Tentu baginya ini tak boleh disia-siakan. Nasib baik tergantung pada pilihan-bebas, kita sendirilah yang menentukan bahwa kemauan kita akan terwujud atau malah sebaliknya.

Tapi sementara lain, ada hal-hal yang terpisah dari persoalan ini. Pacarnya memiliki pilihan-bebas sendiri, terkait atau tak terkait dengan pacaran. Atau kita bisa mengatakan bahwa alam manusia, pikiran dan mentalnya, memiliki keunikan. Manusia yang satu tak sama dengan yang lain, dalam hal kemauan, pengalaman, pemahaman, karakter, watak dan sebagainya.

Hanya dari aspek biologis saja kita bisa memandang semua manusia itu sama: sama-sama butuh makan, punya hidung untuk bernapas, dan bergerak dengan sepasang kaki. Selebihnya, manusia itu unik satu sama lain.

Disini mencintai dan hal-hal mental yang mengiringi fenomena itu menjadi tak bersifat pilihan-bebas sepenuhnya. Dan keyakinan tentang kontrol masa depan, terwujudnya kemauan kawanku menjadi menantu keluarga bangsawan karena kepercayaan keluarga itu, menjadi kehilangan dasar. Atau setidaknya, tak sepenuhnya berada di bawah kontrolnya. Ada kemungkinan-kemungkinan lain yang selalu membayangi keyakinannya.

Menyimpulkan bahwa putus pacar adalah prediksi yang meleset juga tak bisa mengantarkan kita memahami fenomena ini. Lebih mungkin untuk memahami fakta ini adalah melacak asal-usul dari beberapa persoalan dibaliknya. Pertama, bagaimana ia yakin bahwa pacarnya akan dikawininya. Hanya ada kejelasan pada cerita tentang bagaimana si ‘mertua’ bersikap dan memperlakukannya, inipun cerita yang tampaknya sepotong-sepotong alias tak utuh. Ini kesulitan dari sisi fakta mana yang bisa diinterpretasikan.

Solusinya, adalah mencoba memahami asal-usul keyakinan yang terkait—dan secara bersamaan berpengaruh—pada meletupnya ketidakpenuhan dari perasaannya: sakit hati dan rasa lega. Fenomena yang aneh dan menarik untuk dipahami ini ternyata bersumber dari tidak memadahinya kawanku dalam hal memandang bahwa kepercayaan si ‘mertua’ terpisah sepenuhnya dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam kesadaran si pacar.

Artinya, konsepsi konvensional yang biasa terjadi adalah jika si pacar sudah lengket dan ‘mertua’ percaya, bagaimana pun rupanya si pacar akan bisa direkayasa, dikondisikan. Ternyata ini meleset. Ini menandakan bahwa di dalam pengalaman murni, alam perasaan subjektif, di dalam dunia-otentik seseorang, selalu dibebani dengan konsepsi-konsepsi yang menggeneralisirkan. Sikap yang ditunjukkan kawanku tampak retak, tidak proporsional. Dia meletakkan pengalaman cinta sebagai objek lepas, objektif dan bisa diprediksi dan direkayasa.

Agaknya ini menggejala dimana-mana. Tak sulit kita mendapatkan bukti dari kekeliruan mendasar yang tak kunjung disadari bahwa ada dua macam dunia yang menjadi matriks pengalaman kita: (1) dunia internal perasaan-penghayatan yang unik dan asimetris, tak bisa diprediksi, bukan berbasiskan objektifitas. (2) dunia eksternal-objektif, fakta kasar, material dan simetris, yang bisa diprediksi melalui objektifikasi dan hitung-hitungan rasional-logis-matematis.

Kita tampak sakit, phobia, psikopat, saiko dan seterusnya ketika tidak bisa menyikapi dua dunia berbeda itu semestinya. Mengidentikkan keduanya, atau menukarkan watak keduanya satu sama lain, mendominasikan yang satu atas yang lain, dan sebagainya. Putus cinta memang hanya bisa dimengerti oleh pelakunya, tapi sikap-sikap yang bermunculan dari korbannya menjadi pertanda dari suatu pola retak di dalam struktur kesadarannya.

1 Response to "putus? maksud loh?"

..panjang banget bahasannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: