Willkommen…zu meiner Website

simetrisitas dan asimetrisitas dunia

Posted on: Juni 2, 2008

Siapa bilang filsafat hanya pemikiran? Jika filsafat adalah peta pemikiran manusia pada level mendasar, bagaimana sudut pandang manusia terhadap hal mendasar itu? Bayangkan jika akal kita ibarat kamera, apakah foto yang dihasilkan sebatas menampilkan gambar-gambar simetris, menampilkan fakta-fakta garis lurus belaka? Tentu lebih tepat jika jawabannya adalah tidak. Simetris yang mengunggulkan keajegan-keajegan garis dan lengkung, yang logis-matematis, menafikan adanya dimensi estetisnya. Disana ada nilai estetika yang menyentuh mati hati, sebagai sesuatu yang tidak dapat diderivasikan sepenuhnya dari order simetrisitas.

Mata hati bukan barang remeh temeh. Seringkali hal-hal mendasar dari kenyataan, dipetakan oleh mata hati. Jika kita mengamati, nalar bekerja lebih terdorong oleh sisi estetik dari realitas. Inilah yang menunjukkan bahwa nalar itu bukan satu-satunya fakultas manusia untuk menjelajah sudut-sudut kenyataan, melainkan ada mata hati yang—bahkan mendahului nalar—terlibat secara intensif dalam proses itu. Pendek kata, filsafat tak sebatas akal dan logika. Filsafat memberi tempat, secara terhormat, bagi mata hati.

Disini kita tidak sedang membicarakan hubungan akal dan hati. Tema bahasan ini sudah lama dibicarakan filsuf-filsuf dan orang-orang bijak kuno. Baik di Yunani, di Persi, Babilonia, Mesir dan Romawi, hampir tema hubungan dua fakultas manusia itu tak pernah dan tak bisa diacuhkan. Maka, mudah saja ditunjukkan, bahwa dimana-mana kebudayaan manusia dapat dikaji dari tradisi seni-budaya dan pemikirannya, dan manifestasi relasi antar keduanya di dalam gerak kebudayaan manusia. Ini membuktikan eksistensi keduanya secara bersamaan, secara ontologis dan teleologis, hadir dalam dunia-hidup kebudayaan manusia, bersumber dari simetrisitas dan asimetrisitas dunia kenyataan.

Dengan demikian, hubungan antara manusia dan realitas kehidupannya sebenarnya disketsakan melalui medium-medium yang melibatkan nalar dan mata hati, secara terpisah maupun sekaligus. Tradisi menulis puisi sama halnya dengan tradisi menulis karya ilmiah. Keduanya berbicara tentang lanskap kehidupan manusia yang sama meski menggunakan instrumen dan medium yang berbeda. Perbedaan itu timbul dari karakteristik kode masing-masing. Sehingga disini kita tak bisa mengasumsikan adanya jurang pemisah, garis demarkasi jelas, untuk dipakai sebagai patokan untuk mendominasikan yang satu atas yang lain.

Tapi memang adakalanya pilihan ekstrim untuk mengunggulkan satu kode atas kode lainnya menjadi strategi kebudayaan. Jika kita mengakui strategi diperlukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, adalah fakta sejarah suatu kebudayaan bahwa tradisi teoretis-ilmiah lebih hidup dan gencar dikembangkan daripada tradisi seni budaya. Jamak diakui, dalam kajian sejarah filsafat, Plato dikenal sebagai yang pertama kali secara filosofis dan sistematis menonjolkan tradisi teoretis ilmiah ketimbang tradisi seni budaya. Inipun perlu diakui bahwa gagasan itu ditransformasikan untuk mengatasi tantangan sejarah: situasi dan kondisi kebudayaan Yunani klasik, yang dibenamkan oleh mitos-mitos tanpa memberikan ruang sedikitpun bagi hitungan-hitungan rasional.

Fakta sejarah ini terkadang memicu perdebatan mengenai status teori-teori ilmiah dalam kaitannya dengan kehidupan manusia yang nota bene merupakan sekumpulan subjektifitas-subjektifitas yang unik. Oleh karena kehidupan manusia adalah dunia yang unik, tak bisa disamakan begitu saja dengan dunia fisik kebendaan, maka kode-kode teoretis itu cenderung menggeneralisirkan semua peristiwa yang memiliki tingkat keunikan tinggi. Jika ada teori “pencurian didorong oleh kesulitan ekonomi”, misalnya, atau “kejahatan berasal dari kesempitan material”, maka tidak lantas orang kaya dan berpendidikan tak mungkin (atau tak akan) mencuri.

Sebenarnya kita tidak sedang mengambil satu persoalan dari status kode-kode teoretis dalam/terhadap kehidupan manusia, untuk menarik kesimpulan atau asumsi bahwa kode-kode itu tidak sejalan dengan kenyataan kehidupan manusia sebagai sekumpulan fakta unik. Tapi jika toh dunia teoretis ilmiah menggeneralisirkan pengalaman subjektif manusia, tentu ada alternatif lain yang sama-sama berkepentingan mesketsakan pengalaman manusia. Humaniora, demikian pengalaman dunia manusia kita sebut, tidak saja ditampilkan secara teoretis tapi sekaligus ekspresif. Ekspresifitas humaniora merupakan kenyataan lain yang tak bisa dipungkiri disamping kepastian teoretisnya.

Hal ini mendorong kita untuk mempertanyakan lebih lanjut, bagaimana solusi jika pada perkembangannya kita terlanjur menempatkan nalar sebagai sudut pandang pertama, dimana di awal-awal kemunculan modernisme, telah diletak-dasarkan oleh Rene Descartes? Apakah pilihan pada Rasionalisme sebagai strategi untuk melakukan objektifikasi atas dunia, baik manusia (humanoid) maupun non-manusia (non-humanoid), merupakan kekeliruan?

Maka dengan mengamati kecenderungan para peminat filsafat pada pendekatan filosofis berbasis fenomenologi dan hermeneutika, agaknya memang ada pergeseran-pergeseran signifikan. Konstruksi ulang secara proporsional mulai diwacanakan perihal hubungan antara manusia sebagai pelaku sejarah dan pribadi bebas yang unik. Ada persinggungan intensif yang coba diupayakan oleh sementara kalangan yang tak menghendaki filsafat lepas dari apa yang kita sebut “mata hati” diatas. Alam perasaan dan pengalaman dan bahasa keseharian menjadi alternatif asumsi baru yang dirasa cukup memuaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: