Willkommen…zu meiner Website

buat cak Kuswaidi Syafi’ie

Posted on: Juni 5, 2008

Yang terhormat Cak Kuswaidi

Mursyid jamaah Burdah Mata Air

Assalamu alaikum wr.wb.

Segenap pujian kita haturkan kepada Allah, Yang memberikan kepada kita buhul-buhul maujud sedemikian rupa sampai kita menyadari keberadaan kita…Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada penghulu para Nabi SAW. beserta para ahli bait dan sahabatnya yang bijak dan rasid. Amin…

Saya termasuk pelayan rendahan di jamaah Anda, nama saya Muhammad Tijany, kelahiran Rembang, Jawa Tengah, dan bersama kawan-kawan Mata Air berkesempatan mengenal Anda. Saya bersyukur bisa dipertemukan Allah dengan Anda, karena dari pertemuan itu saya diajak berpikir dan merenung tentang hal-hal yang selama ini tidak terlalu saya hiraukan. Anda mengajak saya memahami suatu panorama yang aneh dan unik: “Tasawuf”. Anda seringkali membuat pikiran saya merangkak-rangkak di hadapan pemahaman Anda tentang Tasawuf.

Mungkin pemakaian “tentang” disini agak tak berkenan menurut Anda. Tapi disini, lebih baik kita sepakati dulu bahwa sejauh Tasawuf dibicarakan, yang menuntut pemahaman dengan segenap potensi rasional yang kita punyai, ia adalah sebuah “pemahaman tentang” sesuatu. Jadi, untuk membicarakan ini, lebih baik kita pisahkan dulu mana tasawuf sebagai dunia yang dihayati dan dialami, dan mana yang dipahami dan dimengerti: Tasawuf amaly dan Tasawuf Nazhary. Ini penting karena, menurut hemat saya, selama Tasawuf dibicarakan atau di-kalam-kan, maka ia memiliki logika sendiri yang kita semua harus berada di bawah cahaya terangnya ketika membicarakannya.

Sebagaimana ilmu-ilmu ketuhanan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah melalui logika Ilmu Kalam, maka Tasawuf pun demikian juga. Entah, Cak Kus menggunakan istilah apa, yang jelas tak ada sesuatu yang bebas dari tuntutan pertanggungjawaban akal. Disana, di dunia akal, dihuni oleh tajalliyat-tajalliyat Tuhan sebagai Wujud-Yang-Mengetahui. Tak terkecuali dunia Tasawuf, yang dilempangkan oleh Tuhan sebagai suatu jalan kecil untuk melakukan loncatan kuantum melampaui fenomen-fenomen duniawi.

Bagaimana bisa Tasawuf dipilih oleh para Arif dan wali, jika ia tak bisa dicandra oleh manusia secara niscaya? Maka, sejauh manusia menghadapi sesuatu sebagai keniscayaan, maka akal bukan barang murahan yang bisa disingkirkan.

Pembicaraan ini barangkali membosankan bagi Anda, karena saya tak meragukan pengalaman-pengalaman Anda dalam mengarungi dunia itu. Tapi tidak bagi saya. Oleh karena itu, sudilah kiranya Anda, Cak Kus yang terhormat, mengijinkan saya memberikan respon-respon atas pengalaman saya pribadi ketika bersama Anda di majelis Burdah selama ini.

Tanpa bermaksud menelanjangi sekian ajaran-ajaran sufistik yang Anda pahami, dan oleh sebab setiap manusia yang memiliki potensi berpikir, saya hanya menyampaikan sedikit dari beberapa permasalahan yang tertangkap dalam pikiran saya. Pertama, terkait dengan sikap intelektual Cak Kus. Kedua, terkait dengan posisi jama’ah yang bermakmum kepada Anda.

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari rekayasa ke-masuk-akal-an (as-siyasah al-‘aqlaniyyah), ketika hal mendasar ini di-kalam-kan. Amien.

Persoalan pertama, sikap Anda di ranah intelektual. Intelektual adalah sikap sekaligus area. Semacam udara yang kita hirup, ia melingkupi kita di saat mencoba mendapatkan pengertian tentang sesuatu. Sedangkan sikap merupakan pilihan, ketika pengertian yang didapatkan harus disampaikan oleh banyak orang. Kebenaran harus disampaikan. Jika tidak, ia berhenti pada tataran keberadaan kita sebagai makhluk yang memahami dan mengerti (eksistensial).

Disinilah ada persinggungan intensif antara sikap seorang individu, dengan segenap pengalaman dan kesejarahannya, dan udara yang murni yang dihirup oleh siapapun tanpa pandang bulu. Menyampaikan kebenaran—atau kalau itu dirasa berlebihan, cermin-cermin kebenaran—berarti mengkonseptualisasikan apa yang Anda alami. Demikianlah, saya memahami Anda melalui medium konsep-konsep yang Anda pergunakan.

Sejauh yang saya mengerti, konsep adalah perantara yang menghubungkan manusia dengan Akal Universal, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya distorsi karena, bagaimanapun cakrawala Anda menjalin kontak dengan Akal universal, akar-akar pengalaman manusia yang sepotong-sepotong ikut terseret di dalam kontak itu. Maka, disinilah kemungkinan salah-paham itu terjadi. Sikap intelektual yang saya maksudkan adalah terkait dengan keseorangan Cak Kuswaidi yang terhormat ketika konsep-konsep yang Anda pergunakan dianggap seolah-olah konsep universal, yang mengatasi segala hal.

Sekali lagi saya tidak meragukan Anda sebagai seorang yang telah menerima pencerahan di dunia yang sampai hari ini Anda selami dan layari. Tapi, sikap intelektual Anda akan berbicara lain, memperlihatkan sesuatu yang menarik sekali diperhatikan dan direspon balik. Terutama ketika Anda sampai pada kesimpulan bahwa dunia akal berbeda dengan dunia perasaan-hati, filsafat dan tasawuf. Dan menyimpulkan bahwa filsafat hanya dihuni oleh orang-orang yang mempermainkan kesementaraan waktu. Maksud saya, filsafat cenderung menghabiskan waktu untuk “mengaspal jalan kecil” untuk bisa mengerti dunia Wujud-Mutlak.

Anda bersikap intelektual sedemikian rupa bahwa filsafat tidak mendapat tempat berpijak dalam dunia Tasawuf, filsafat harus minggir, filsafat adalah ilmunya orang-orang mutasyabbih (tak jelas, ambigu), dan ia sendiri tak lebih ilmu syubhat yang musti dijauhi. Demikian seterusnya sampai Anda mengulang-ulang untuk menegaskan bahwa para wali benar, sedangkan filosof keliru, perbedaan keduanya adalah perbedaan baik-buruk, benar-salah, malaikat-setan. Tidakkah jika toh itu benar, baik-buruk adalah atribut konsekuensial dari manifestasi Wujud Tuhan di level maujud, di level partikular dan sejarah? Anda pernah menyatakan hal ini, bahwa baik di tempat pelacuran maupun di majelis pengajian, disana ada manifestasi Tuhan.

Inilah yang hendak saya cari penjelasannya sejelas-jelasnya, karena saya tak tahu, seorang sufi adalah melampaui jaman dan waktu dalam level pengalaman sufistiknya. Artinya, jika benar sufisme adalah dunia kosmik yang melampaui kemajemukan dan keberbeda-bedaan, maka ia tak perlu menghardik bahkan mengusir orang lain karena berbeda dengan dirinya.

Apakah mungkin, jika pengetahuan kita memenuhi kemutlakannya lantas kita menutup kemungkinan lain, yang barangkali saja ia menyempurnakan pengetahuan kita, atau paling buruknya, mengupasinya. Apakah perangkat-perangkat konseptual dalam dunia sufisme bersifat nir-kritik? Dan sufisme adalah kemungkinan tertinggi dalam menjangkau segala maujud? Dan sikap kita terhadap sufisme adalah sikap malik terhadap milk-nya?

Jika sikap itu merupakan keniscayaan bagi kemutlakan pengetahuan yang mungkin dimiliki manusia, tidakkah itu menyalahi prinsip Allah sendiri: Dia Mutlak secara Wujud, dan masih menyempatkan Diri meluapkan Kesadaran-Nya supaya Dia dikenal dan diagungkan, sebagaimana hadis Qudsy yang sudah Anda buktikan sendiri kebenarannya.

Kenapa tidak meluapkan pemahaman pada jamaah, dan bukannya menentukan, men-tahkim, dan men-taqrir, sehingga tidak menutup kemungkinan munculnya pemahaman lain dari mereka? Agaknya, seperti yang saya rasakan, Anda memberikan banyak pemahaman yang mengejutkan. Sementara di sisi lain, Cak Kus yang terhormat terlihat “kesana-kemari” untuk mengulang-ulang ketidakberartian filsafat untuk memahami apa yang diselami Tasawuf. Seolah-olah Cak Kus khawatir bahwa di hadapan akal filsafat, konsep yang Anda pergunakan tidak swa-bukti, dan ini bagi saya, adalah kekhawatiran yang tak perlu. Dengan demikian, menegaskan Tasawuf tidak harus dengan mencaci filsafat. Memuji Tuhan tidak harus dengan memaki setan, dan melantunkan selawat kepada Nabi tidak harus dengan mencela Abu Jahal. Bukankah kebenaran itu benar dan cukup pada dirinya sendiri?

Persoalan kedua, terkait dengan posisi jama’ah yang bermakmum kepada Anda, termasuk saya. Disana ada banyak orang, masing-masing dengan potensi kemanusiaan sendiri-sendiri: potensi pengalaman, potensi nalar, perasaan, bahkan yang masih awam dalam ketiga-tiganya pun ada. Anda mengajak kami berbicara, dan oleh sebab itu, akan mengisi pemahaman dalam ceruk yang berbeda-beda. Selama tidak mengurangi tingkat eksistensi mereka, tasawuf akan lebih bermakna. Jika tidak, tasawuf akan berpotensi menanamkan distorsi-distorsi di dalam benak dan hati mereka. Dan melalaikan mereka dari apa yang sedang dan harus mereka pahami terlebih dulu.

Saya tertarik dengan semua hal yang Anda sampaikan, yang terdengar merdu dan mengalir seperti air jernih. Dan tak sadar, bahwa aliran itu kadang membanjir dan kadang meluap. Inilah yang diperingatkan Quran: alhaakumu t-Takatsur….berlebih-lebihan, membuat kita lalai. Hatta Zurtumul Maqabir….Anda, saya yakin, tahu bagaimana perspektif sufistik menafsirkan ayat ini… Kira-kira, tak jauh-jauh dari tafsiran bahwa lalai oleh suatu hal besar, yang dibesar-besarkan atau besar namun akal kita tak proporsional, akan menggiring kita berziarah kepada kehampaan, liang kubur eksistensi dan kesadaran diri. Dan inilah yang merupakan potensi terbesar yang dapat terjadi ketika orang belum memenuhi sistem pemikirannya, sudah digiring kepada dunia yang mendistorsikan cerapan-cerapan indrawinya.

Persoalan kita adalah bagaimana Tasawuf menjadi terapi bagi orang-orang sakit, yang terlalu jauh mengembara di suatu dunia yang hiruk pikuk, bising dan dipenuhi oleh nomad-nomad pemuja tubuh, keseharian yang dangkal, adakah secercah embun untuk sekadar membasahi tubuh-tubuh yang penuh debu-debu banal ? Jika demikian, itulah “lahan kerja” yang bisa ditawarkan oleh Tasawuf dan filsafat…karena bagaimanapun, keduanya punya tanggung jawab dalam mengkonstruk nilai-nilai baru yang manusiawi sekaligus ilahy… Jika benar bahwa dunia faktual ini terlalu bising, jamaah Burdah tentu adalah orang yang datang, bersalawat kepada Nabi, tidak untuk memperebutkan tetes-tetes embun, melainkan belajar menemukan cinta dari embun itu. Tidak untuk menikmati embun, tapi dengannya kita mengenal diri sendiri dan kembali kepadanya.

Sekian…terimakasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kekeliruan dan kelancangan saya.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

5 Tanggapan to "buat cak Kuswaidi Syafi’ie"

dasar!kurang ajar banget sehhh!??

aduh……..
teruskan perjuanganmu nak
Hidup FPI
Hidup Mbah Mansur
Hidup Heattle
Hidup masih berjalan

Aku googling nama Cak Kus dan ternyata menemukanmu, kawanku. Aku baca tulisan ini dan menarik–antara dunia filsafat dan tasawuf, dan potensi diri-manusia itu sendiri. Saya berharap tulisan ini dibaca oleh Cak Kus…..

Salam

Bje

kurang menarik tulisannya…

tasauf itu hanya bisa di pahami oleh yang paham akan tasauf., guru kita itu mengajak untuk mengenal Allah lebih dekat lewat tasauf., tapi kadang kadang tasauf itu membut fikiran kita jadi goyah jika tak ada dasar yang kuat.,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: