Willkommen…zu meiner Website

buat faisal kamandobat

Posted on: Juni 5, 2008

Kepada

Mas Faishal Kamandobat

Di Persemadian

Sophos alaikum…

Salam kata-kata!

Tanpa maksud merayu apalagi memuji, ada aura kata-kata yang menyelubungi sampean. Dan benar dugaan saya, bahwa kata-kata menyimpan sihirnya sendiri jika dilekatkan pada seseorang. Tentu kata-kata hanya menjadi bahan cemoohan orang kalau dilekatkan pada yang bukan seseorang. Tak aneh bila kita seringkali memaki, “berkata saja, tak ada kerja!”.

Saya ketemu sampean, dan makian itu tak keluar dari hati saya. Lalu saya mulai coba mengenal sampean…dan seterusnya entah sampai kapan, dengan tanpa bisa memaki sesuka hati saya. Agaknya ini difaktori oleh penampilan kata-kata sampean yang apa adanya, bernada joke, dan mengalir tanpa dimuati beban maksud (tertentu).

Jangan-jangan itu hanya pra-anggapan. Bisa jadi, lewat tulisan ini, saya justru akan menemukan banyak beban seperti itu dari respon balik sampean atas surat ini (kalaupun surat ini akan direspon). Atau sebaliknya, ketika saya mengomentari perkenalan saya dengan sampean, justru saya memadatkan pengalaman perkenalan itu menjadi kata-kata yang terbebani.

Apakah kata-kata harus dibiarkan merdeka dari maksud pengata-nya (bukan pekata, yang maksudnya apa yang dikatakan)? Baiklah….yang terakhir itu biar jadi bahan renungan saya, mungkin saya akan menemukan signifikasi lain yang baru.

Tadi saya ketemu sampean. Tidak saja sampean, ada kawan-kawan baru. Tapi sayang, oleh karena tak banyak bergerak-gerik, saya tak begitu memperhatikan mereka, yakni kawan-kawan yang tadi sore datang bersama sampean. Kita bertemu untuk sebuah acara yang bukan pertama kalinya bagi kami, anak-anak BEM AF. Tapi terhitung istimewa, dari sisi bahwa saya bisa berkenalan dengan sampean secara langsung. Dan inilah tragisnya.

Tepat yang sampean katakan, bahwa tak ada filsuf yang lahir dari UIN selama sastra dan syair tak diperhatikan. Dan saya termasuk bagian dari UIN. Artinya secara akademik saya terjauh dari sastra, tidak mampu mengenal aspek bisa dikajinya puisi, dan akhirnya tidak begitu tertarik dengan puisi selain anggapan bahwa puisi ibarat mainan kata-kata. Benarkah kata-kata bisa dipermainkan untuk menemukan makna lain?

Mungkin asumsi sampean tentang hal ini terkait erat dengan pandangan sampean bahwa sastra dan filsafat itu –bisa dikatakan– satu padu. Atau jika harus dipisahkan, keharusan itu sekadar untuk mempermudahkan keduanya dibicarakan. Konsekuensinya, menurut sampean, kata-kata adalah perwujudan logika yang mungkin bagi manusia mengungkapkannya. Atau, seperti yang anda yakini, syair itu logis sifatnya….teratur dan sistemik (bukan sistematis), seberapa pun tingkat metaforik dan metonimiknya.

Jika demikian, apa yang sampean katakan mengasumsikan bahwa syair bisa dibenarkan secara logis, dari sisi bisa diverifikasi sejauhmana ia dibenarkan oleh/melalui logika. Apakah benar demikian? Konon syair adalah cermin dari ajaran filsafat, pola signifikasi dalam “syair-syair logika” (kalau boleh disebut demikian) kemudian dianggap mendedahkan pencarian kebenaran yang direpresentasikan oleh filsafat, tapi bukankah konon syair tak sekadar kata-kata?

Bisa dikatakan, makna syair itu tidak bisa bersifat satu-dimensi dan pasti. Ada metonimi, ada metafora, dan itulah sejenis kata-kata yang harus dikembalikan pada rahim kondisi yang telah melahirkannya supaya kita bisa memahaminya. Tentunya ada yang lebih mendasar dari sekadar bisa-di-kata-kan-nya puisi lantas ia pun bersifat logis…atau bisa-di-pikir-kan-nya signifikasi estetiknya dalam pola metaforik, lalu ia identik dengan “konsep-konsep ideal.”

Jika kita ingat dan sadar akan ketidakmenentunya realitas, lalu tersingkapnya kebenaran lebih bersifat “mungkin-ya mungkin-tidak”, tergantung—kalau beruntung—pada sensitivitas manusia, akhirnya kita berasumsi logika tak lagi memenuhi untuk menemukan kebenaran. Logika tak cukup membantu, metode demikian pula. Seperti yang dipikirkan Gadamer itu.

Dengan demikian, jika syair adalah cermin ajaran filsafat (sebagaimana Bacon bilang), tentunya syair perlu melampaui batasan-batasan logis. Alasannya, jika tidak demikian, dia (lagi-lagi) terjebak pada lingkaran signifikasi makna yang sudah ada, yang sudah disistematisirkan, dibatasi. Alih-alih membukakan kemungkinan bagi pengertian-lain dari kebenaran, syair-logika kelihatan sebagai kumpulan kata-kata yang dipaksa logis padahal sama sekali tak logis. Bagaimana mengukur kelogisan dari “pohon melahirkan pohon”?

Sampean menulis puisi “aku ingin kau tetap pergi sampai kau temukan aku pada segala-galanya.” Saya mencoba memahaminya meski tak tahu dari mana harus memulainya. Jalin menjalin, kata-kata itu menjadi satu untaian. Tampak oleh saya bagaimana logika dibingkaikan di sekeliling untaian itu.

Logika merupakan hukum berpikir, supaya apa yang ditahkimkannya tidak melanggar koherensi internalnya. Inipun batasan minimalis dari pengertian logika. Ada kata “sampai” yang menunjukkan pada waktu. Waktu disini lebih bersifat subjektif. Tentunya ada nasalah koherensi jika untaian itu dianggap sebagai pernyataan logis, selogis pernyataan “air direbus sampai mendidih.”

Secara spontan saya memahami hubungan si aku dan si kau disitu bukan hubungan antara “aku” dan “kau” secara logis. Siapapun akan mengerti bahwa disana ada keunikan yang berbeda dibalik hubungan si aku dan si kau, suatu keberbedaan yang tak terhindarkan karena merupakan konstruksi sejarah dan pengalaman.

Dimana-mana logika adalah suatu hakim yang tak pernah pandang bulu, mau disini atau disana, mau sekarang atau nanti, hasil dari 2+2 ya =4. Logika tak pernah mau main-main dengan ketidakpastian. Dan tentunya ia juga tak pernah mengakui ada keunikan. Puisi itu lahir dari konstruksi sejarah, pada tingkat eksistensial dari pengalaman si penulisnya, yakni sampean. Sudah barang tentu, sampean akan kehilangan signifikasi eksistensial kalau ditahkim dari sudut pandang logika. Lebih parah lagi kalau yang sedang sampean ajak bicara mengatakan sampean sedang mengada-ada.

Bagaimana mungkin orang menemukan satu hal di balik segala hal yang plural, jika hanya berpegang pada logika? Katanya orang-orang teoretis, hanya hermeneutika yang bisa melakukannya. Atau kata Ali Harb, takwil saja yang bisa digunakan untuk menemukan hal yang tak terkatakan dari suatu uraian kata/teks.

Sampai disini saya mau bertanya saja kepada sampean. Baiklah kalau puisi sampean itu puisi-logika. Suatu jenis puisi yang mengkreasikan pola keberartian dari kata-kata dengan cara dinalar. Suatu jenis puisi yang disimbolkan melalui penalaran, pemikiran. Dengan tanpa batasan, akan tetap maknanya kapanpun dan dimanapun. Ia bersifat nir-waktu secara makna.

Tapi, bagaimana jika puisi itu harus berjumpa dengan pembacanya di lain tempat di lain waktu? Di lain pengalaman. Di lain pemahaman. Seorang yang tujuh belas kali putus pacaran, pastinya sudah malas untuk meyakini (logika selalu menyuruh kita untuk meyakini apa yang dinyatakannya) ada “sesosok kau” yang mau menjalani syarat seperti yang diajukan si aku dalam puisi itu.

Mungkin saya lebih ikhlas menerima bahwa sisi logis dari puisi-logika sebatas pada wujud kata-katanya. Puisi-logis berwujud kata-kata, kata-kata bersifat otonom. Kemudian oleh sebab tiada hubungannya dengan seseorang/subjek, maknanya bersifat objektif. Ini asumsi yang bermula dari posisi kata-kata sebagai yang berdiri sendiri, mengusung makna baik secara difference atapun secara struktural. Sampai disini saya hendak menekankan, bukankah pilihan si subjek yang meyakini makna bisa dikonstruksikan oleh satu struktur kata-kata? (Lagi-lagi) itu tak lain salah satu bentuk takwil yang mengembalikan independensi kata-kata kepada subjek.

Barangkali saya hanya sok tahu. Karena maklum, orang yang masih bodoh tentang dunia kata, dunia sastra, dan sebagainya hanya protes saja yang bisa ia lakukan. Maaf kalau ada kata-kata yang sampean tangkap cukup menyakitkan di hati sampean. Terima kasih kalau ada yang perlu diluruskan dari isi surat ini.

Sophos alaikum…dan,

Salam kata-kata!

Muhammad Tijany

4 Tanggapan to "buat faisal kamandobat"

mas msh ingt aq g?
nak queen,lali yo?

e msh djogja ta?
pngen nyri legend of zero ne……….

jangan lupa atas teologi. karena teologi adalah inti. bidang dalam filsafat yang inti teologi. ya, memang, kalau kita menelaah kembali teologi islam lebih condong kepada scientific. tapi memang peresapan materi yang ada seperti itu. seperti halnya yang dalam Al-Qura’an. coba kalau seandainya kita keluar dari materi yang ada itu, pastinya, kita akan dianggap menayalahi tatanan. dan pastinya menyalahi adat. karena memang islam di Indonesia telah menjadi adat. bukan agama lagi.

tulisan ini saya tujukan untuk Mas Faisal Kamandobat. semoga kita ketemu di cigaru. matur nuwun.

simpel dan transparan. khataman ketemu di cigaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: