Willkommen…zu meiner Website

buat wahid

Posted on: Juni 5, 2008

Buat Wahid

Yang sedang berdiri ragu di tepian lautan

Sophos alaikum…

Salam alaikum…

Tak perlu kaget dengan salam yang pertama, karena jika salam pembuka—dan salam-salam lainnya—merupakan do’a, maka itulah do’a (semoga kebijaksanaan menaungimu). Tak salah bukan?

Bagaimana kabarmu, Kawan? Semoga disana yang kau jumpai bukan persoalan-persoalan yang membuatmu terpuruk kehilangan akal. Paling sial-sialnya orang adalah ketika akalnya tak bisa lagi bekerja. Tak sedikit—bahkan kebanyakan orang—kesana kemari, ngalor-ngidul, bukan didorong oleh pilihan sadar dengan pertimbangan akal, melainkan dorongan hal di luar dirinya. Coba lihat dan rasakan, bagaimana nalar disia-siakan dalam situasi dimana manusia sedang membenamkan diri dalam kesehariannya?

Sebenarnya sudah berkali-kali kita menerima pelajaran, bahwa nalar adalah potensi terbesar kita…nalar adalah anugerah…nalar adalah satu-satunya barang berharga…dengan nalar, manusia bisa memilah dan memilih…dengannya pula kita mampu memahami ciptaan-Nya….dan seterusnya… Coba tanyakan pada seseorang: apa alasanmu—dengan pertimbangan rasional yang jelas dan sadar—kita harus berbuat baik? Atau, apa alasan mendasar kenapa kita harus begini dan begitu?

Konon, dimengerti dan dikonsepsikan bahwa manusia itu unik…seluruh denyut nadi semesta, terkandung secara potensial di dalam akalnya…sehingga kita bisa tahu, bagaimana hujan itu turun, kilat menyambar, bulan beredar, air mendidih, salju mencair…manusia lahir dan mati…dan seterusnya. Maka, konon pula manusia dikatakan semesta-kecil (mikro-kosmos).

Bukan lantas manusia itu maha-tahu, mengetahui segala hal yang terjadi di semesta ini. Konsepsi itu dibenarkan, kita membenarkannya, dalam pengertian bahwa peristiwa dan kejadian yang terjadi di alam ini terbuka dan membuka-diri (kata Imam Ghazali: mukasyafah, atau kata Heidegger: aletheia) bagi manusia untuk diketahui esensinya. Uniknya manusia, pada batas-batas tertentu, terletak pada aspek ini: bahwa semesta dengan suka rela menyingkapkan dirinya bagi kita.

Lalu ada apa dengan nalar? Apa yang bisa dilakukan nalar? Apa yang sudah disumbangkan nalar bebas selama ini? Filsafat? Filsafat itu apa dan bagaimana ia? Adakah urgensi dan signifikansi dari nalar? Bagaimana posisinya dalam filsafat? Pertanyaanmu sederhana: bagaimana menjelaskan kepada orang yang memandang sebelah mata terhadap filsafat?

Aku bisa membayangkan bagaimana seandainya pertanyaan itu dilontarkan kepadaku. Tentu yang menanyakan datang dan mengajakku berbincang. Jika orang itu sebaya denganku, pertanyaan itu menjadi bagian dari alur dialog. Dialog membuat kita bisa berbincang hangat. Tak ada represi, tak ada beban pendiktean. Kalau ada, kita bisa memperdebatkannya…atau mengelak dengan jawaban-jawaban yang dikonstruk supaya menjangkau model lain dari logika yang mungkin. Dari logika 3 + 3 = 6 menuju logika (2 x 2) + (-4 x -1/2) = 6

Toh hasilnya tak mengecewakan nalar, bisa dipertanggungjawabkan, meski melalui logika yang tak biasanya. Okelah…kita bisa mempertanggungjawabkan suatu pilihan sadar dengan cara mendialogkannya bersama orang lain. Justru apa yang ditentukan nalar, supaya bisa dibenarkan, adalah dengan menguji melemparkannya pada dunia diskursus. Dan inilah persoalannya….ketika dunia diskursus dihuni oleh orang-orang yang bernalar dan berpikir dengan acuan logika tradisional…logika biasanya…logika konvensional….logika populer…logikanya orang kebanyakan….

Pendek kata, persoalan yang kamu utarakan timbul dari dunia diskursus yang hanya mengacu pada satu jalan pikir. Aku bisa membayangkan masyarakat tradisional, dimana aku hidup bersama mereka, yang berpandangan bahwa agama tak boleh sembarangan dinalar…karena agama adalah syariat Tuhan…diberikan kepada manusia supaya selamat tak tersesat.

Bagi mereka, nalar adalah tak diperlukan selain untuk membantu memahami apa yang diwariskan orang terdahulu kepada kita. Orang tak perlu sulit untuk mencoba menyimpulkan, apakah kita hanya pewaris dari sesuatu yang telah lampau? Mereka jawab “iya”. Aku menjawab “tentu tidak.” Bayangkan, karena kau mewarisi harta Bapakmu, kau mewarisi hasil dari pekerjaan ayahmu, tapi untuk menjaga harta warisan itu, kau harus berpekerjaan sebagaimana Bapakmu dulu. Kamu menolak pilihan seperti ini dengan alasan masa depanmu adalah milikmu, bukan miliknya…bapakmu hidup dalam sejarah yang bukan sejarahmu. Demikianlah….

Dalam masyarakat yang hidup dengan acuan-acuan konvensional, warna merah bisa dikatakan warna hijau seandainya agama mengatakan demikian. Kebudayaan kita, di aspek mental-kognitif yang manifestasinya ada di benak kepala masyarakat, adalah kebudayaan agama. Sesuatu itu baik dan benar atas dasar ketentuan agama. Konvensi (semacam ijma’ sukuti, dalam istilah Ushul Fiqh) dari masyarakat kita adalah agama sebagai lembaga yang paling otoritatif, meyakinkan, yang paling bisa dipercaya…”agama adalah hakim paling adil” dan ketetapannya sudah barang tentu “self-evident.”

Pendek kata, siapa yang menyatakan pernyataan yang berbeda, lain dari konvensi biasanya, maka oleh masyarakat dipandang melenceng, subversif, melawan kebenaran, ahli bid’ah, murtad, zindiq…bahkan kafir! Padahal keberbedaan kita timbul karena memakai alur logika tersendiri. Jadi akar persoalannya terletak pada masyarakat kita, yang masih seperti itu: menganut pandangan “transendentalitas agama”…: mereka berpandangan bahwa agama adalah selembar jubah Tuhan yang jatuh ke bumi…yang harus dijaga jangan sampai dimakan rayap sejarah! Kalau analogi itu tak tepat, agama dipandang masyarakat seperti pikiran Tuhan yang didiktekan…ia abadi…seperti al-Qur’an yang adalah Kalam Tuhan yang azali.

Tentunya bulu kudukku merinding, bahkan aku akan menangis, aku bisa jadi lebih memilih pura-pura gila, supaya aku bisa berkata “apakah diturunkannya agama adalah untuk membuat nalar manusia kerdil, seperti anak kecil, yang tak mampu berpikir sendiri kecuali mengacu belaka pada otoritas di luar dirinya?” Kamu bertanya kepadaku, bagaimana solusi menghadapi masyarakat seperti itu? Bagaimana menjawab dengan jujur, sopan, dan tak merasa benar sendiri kepada orang yang jauh lebih tua yang bertanya “apakah filsafat bisa membuatmu hidup? Bisa memberikan kehidupan?”

Apa yang bisa diberikan filsafat untuk seorang Wahid? Dan membuat orang tuanya bangga. Istrinya mendapatkan nafkah dan anak-anaknya tak kelaparan karena, dengan filsafat itu, Wahid menunjukkan profesinya: barangkali penulis novel, barangkali pengajar filsafat di universitas ternama, bisa aktifis atau advokat kritis. Atau berkat filsafat, Wahid dikenal sebagai intelektual muslim yang mengkampanyekan Renaissance dunia muslim…atau… Dus, di sisi lain, kita bisa menduga bahwa akar persoalannya adalah kita sendiri. Maksudku, kita belum bisa menunjukkan partisipasi dan kontribusi kongkret dari dunia pemikiran filsafat.

Itupun agak janggal. Filsafat memberikan kita sesuatu yang kongkret. Bagaimana memahami pernyataan itu? Ada seorang mahasiswa fisika bertanya, apa yang bisa diberikan filsafat? Apakah filsafat memberikan kebenaran dan kebahagiaan? Aku heran…tentu kita bisa balik bertanya: apakah fisika yang kau pelajari memberimu gerak mekanik pada tanganmu? Pada kakimu? Pada pikiranmu? Filsafat tak memberikan kebahagiaan, tapi ia memberikan pemahaman kenapa/bagaimana manusia mendambakan kebahagiaan dan kebenaran. Aktif dengan suatu profesi dan ikut terlibat dalam kehidupan manusia ternyata bukan ditentukan oleh spesifikasi yang kita pilih.

Adakah jaminan seorang alumni fakultas hukum pasti bergerak di bidang itu? Dan lebih jauh lagi, seandainya aku mahasiswa teknik, apakah kelak aku hanya bisa hidup jika dan hanya jika bergerak di bidang teknik? Tentu tidak. Hidup menderivasikan teknik sebagai yang berasal-usul dari pengalaman dan pilihan. Bukan sebaliknya. Coba kita renungi, intensitas terjerumusnya orang ke dalam kemusyrikan akan semakin tinggi, potensinya kian besar, jika spesifikasi benar-benar dianggap sebagai penentu masa depan satu-satunya! Disinilah mungkin benar apa yang dipikirkan kaum marxis: manusia teralienasi dari pekerjaannya sendiri lantaran proses spesialisasi (pengkotak-kotakan) yang terjadi dalam struktur sosial tertentu. Sudah musyrik, teralienasi pula! Bagaimana kau akan memahami ini? Apakah kau masih yakin dengan asumsi “hanya bisa hidup seorang teknisi dari hasil pekerjaan tekniknya”?

Selain itu, masyarakat kita memiliki tolok ukur atau semacam ancer-ancer (atau standar) bahwa keberhasilan dari pendidikan adalah terbebasnya kita dari pengangguran (tentunya bukan peng-anggur-an). Artinya, seberapa berhasil kita mengarungi pengalaman pendidikan, sekolah disini sekolah disana, dari SD sampai eS tiga. Lihatlah betapa masyarakat kita memiliki sisa nalar yang sudah retak! Sementara kebudayaannya tradisional, acuan benar-salah dan baik-buruknya sebatas agama-lembaga (yang diasumsikan transendental dari pemadatan pikiran Tuhan), tapi keinginannya pragmatis dan materialistik! Di satu sisi, agama adalah nomor satu. Di sisi lain, mental psikisnya menunjukkan tolok ukur keselamatan duniawi adalah materialitas.

Agaknya menjadi sedikit terang bahwa ada beberapa latar belakang yang menyebabkan orang-orang sedemikian sentimen-nya dengan filsafat: (1) sekarang realitas menuntut pada kekongkretan. (2) filsafat diejawantahkan melalui pemikiran bebas yang tidak mengacu pada logika awam (yang dibentuk melaui konvensi-konvensi sosial kultural). (3) asumsi-asumsi paradigmatik yang sudah dipelihara/di-muhafazhoh-kan sejak lama di kepala masyarakat.

Mungkin ada lagi. (4) sudah ditetapkannya agama sebagai institusi transendental satu-satunya, dimana filsafat dianggapnya pesaing agama. 4 hal itu baru hipotesa, prediksi ilmiah. Benar atau tidak, tentunya kamu bisa mengkajinya dengan mengujinya di lapangan dimana kamu hidup bersama masyarakatmu. Aku hanya menebak, seandainya orang tuamu menuntut kekongkretan dari apa yang bisa kau lakukan dengan filsafat, apa yang orang tuamu pandang kongkret? Profesi? Material finansial? Kecerdasan pemikiran solutif? Peranmu yang brillian dalam percaturan masyarakat? Tampakkan saja bahwa kau bekerja demi kebaikan.

Atau perlihatkan kepada orang tuamu, tulisanmu yang dimuat di harian-harian umum. Katakan kepada mereka, kau ingin menjadi penulis. Tulisan adalah ekspresi ilmiah. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa menjelajah segala sudut kenyataan yang mungkin dijelajah. Tak mungkin itu dilakukan tanpa wawasan filsafat yang mendalam. Sudahkah kau pelajari bahwa filsafat selalu berorientasi pada apa yang belum dijelajah oleh nalar manusia? Coba bacalah buku “Memoar Seorang Filosof” terbitan Mizan. Baru-baru ini aku membacanya, meski hanya sekilas karena memang ketemu buku itu juga cuma sekilas.

Ah! Aku tak mau memberikan jawaban apa-apa. Karena pemahamanku berasal dari pengamatanku sendiri. Jika kau benarkan asumsi-asumsiku, maka kau bisa mengira-ngirakan sendiri bagaimana sikapmu semestinya di tengah orang-orang di sekelilingmu. Bersikaplah yang familiar…hadapi orang-orang yang pertanyaan-pertanyaan mereka menjadi persoalan bagimu. Tapi satu hal yang tak boleh kau lupa: berikan jawaban setelah kau pastikan karakter, watak, latar belakang—bahkan kalau perlu, ketahui dulu—model pemikirannya, pendirian sikap intelektual dan emosinya dan sebagainya.

Dirimu tak salah dengan pilihanmu (kuliah di fakultas filsafat). Masyarakatmu juga tak salah sepenuhnya. Kesalahan adalah ketika dua hal kontradiktif tak bisa kita sinkronkan, tak mampu kita harmonikan. Jangan salahkan pilihanmu karena bertolak belakang dengan kondisi dan situasi di sekelilingmu, sebagaimana kondisi situasi itu juga tak bisa disalahkan dengan alasan tak sesuai dengan keinginanmu.

Hadapi dengan sabar. Siapa tahu batu cadas keras akan luluh jika kau sabar mengguyurkan argumentasi rasional, dengan metafora-metafora yang menyentuh, persis dulu yang dilakukan al-Quran melalui seorang Nabi bernama Muhammad. Bukankah ia dicap gila, subversif, dan melenceng dari logika konvensi masyarakat tradisional Mekkah saat itu? Atau seorang Galileo Galilei yang terpaksa membayar mahal dengan pengasingan dan hukuman dari Gereja, agama-lembaga saat itu.

Atau ada cara paling praktis untuk meyakinkan bahwa filsafat merupakan barang mahal yang sangat berguna: tunjukkan peranmu dalam memperbaiki kondisi dengan memilih jalur mana yang bisa kau akses. Dunia tak selebar daun kelor, Bung! Hahaha…

Sebelum aku tutup tulisan ini, aku mau menakut-nakutimu…begini:…Filsafat itu dalam…jangan-jangan kau terbenam disana…dan tak kembali sampai kau dapati dirimu bernasib sama seperti al-Hallaj! Karena dia terbenam, tak sadar ia bahwa tubuhnya masih berdaging seperti manusia. Maka, berfilsafatlah tanpa meninggalkan kemanusiaanmu sendiri. Berfilsafat mirip olahraga pikiran, capek dan melelahkan, suatu jenis olahraga yang mirip olahraga selam….menyelami benak pikiran Tuhan!! Lakukan itu dan jangan lupa kembali ke daratan tempat kaki semua manusia berpijak…

Selamatkan diri…

Selamatkan jiwa…

Sophos alaikum…

Salamu alaikum…

Yogyakarta, 30 Mei 2008

Kawanmu, Muhammad Tijany

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: