Willkommen…zu meiner Website

filsafat tak sekadar gambar

Posted on: Juni 5, 2008

Aku menulis, untuk seorang sahabatku yang juga belajar filsafat: “kebenaran itu kelembutan, mirip perempuan. Tak bisa kita paksa dia menyerahkan kewanitaannya. Kagumi dia, cintai dia, mengemislah di depan pintunya. Siapa tahu dia berkenan, meski hanya menoleh sekejap pada kita. Jangan pernah berpikir bisa menyetubuhinya, karena itu sudah terhitung dosa pemerkosaan yang tak terampuni.”

Lama ia tak kasih balasan. Agaknya ia harus memilih-milih kata untuk membalasnya. Dengan agak terburu, akhirnya ia membalas pesanku: “ketika filsafat mulai percaya diri, ia selalu menciptakan dunia menurut gambarannya sendiri dan tidak dapat sebaliknya.” Aku mulai menduga-duga, meski ini tak semestinya kulakukan, balasannya itu dimaksudkan untuk menghardikku. Dikiranya aku mempermainkan filsafat. Dikiranya aku menjadikan filsafat sebagai alatku menggambar dunia. Dan filsafat sebagai gambaran dunia, biasa dilakukan oleh orang-orang yang sok tahu. Aku sok tahu? Aku merasa cukup dengan filsafat, sebuah dunia yang belantara?

Sahabatku itu salah-paham. Tak seharusnya ia menilaiku sudah percaya diri dengan filsafat. Selain salah alamat, dia tak menangkap maksud awal aku kirimkan pesan padanya. Tapi ada yang menarik disini. Seorang pengkaji filsafat yang membangun asumsi tradisional, bahwa filsafat adalah gambar. Filsafat sebagai sketsa mendasar dari suatu kenyataan, suatu dunia. Filsafat merepresentasikan bentuk dan pola dari jalinan yang mengkonstruk dunia dan realitas. Dengan demikian, filsafat adalah simbol-simbol dan kode-kode, tanda-tanda dan jejak-jejak dari segala-galanya.

Filsafat adalah gambaran? Benarkah? Apa yang dilakukan oleh filosof-filosof? Apa yang dikerjakan orang-orang bijak? Untuk apa mereka mengerjakannya? Jika mereka menggambar, oleh karena filsafat adalah gambaran, tentunya dunia ini bisa dan harus digambar. Gambaran itu mensketsakan dunia, dan tentunya ia meminiaturkan kenyataan yang sebenarnya. Tukang gambar tak lebih merekayasa objek yang sedang digambarkannya. Maka, filsafat adalah pekerjaan orang-orang yang mengerdilkan dunia. Dengan kata lain, filsafat mendistorsikan dunia. Dan asumsi ini tidak sejalan dengan maksud “kebijaksanaan” yang dikandung oleh “falsafah.”

Dan ini menunjukkan padaku tentang salah-pahamnya orang-orang, termasuk (bahkan) pengkaji filsafat. Tentunya ada tendensi pragmatis di balik asumsi itu. Ada unsur-unsur untuk mengambil manfaat dibalik kajian-kajian sejarah filsafat dan filsafat itu sendiri. Aku heran sekaligus sangsi, jangan-jangan aku termasuk yang demikian itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: