Willkommen…zu meiner Website

keluh yg membagkitkan dan mimpi yg melukai

Posted on: Juni 5, 2008

buat kawan2Q…
yg menari bersamaQ, yg tarianQ bersama mrka

Aku tak tahu, apa yang sudah aku lakukan untuk kebaikan. Apakah aku orang baik? Kupikir, hanya orang jahat yang bilang dirinya orang baik. Dengan demikian, kita hanya bisa menyadari bahwa kita belum jadi orang baik-baik. Apa itu kebaikan? Ketidakbaikan yang semua manusia tak bisa hidup dengan baik tanpanya. Persis apa kata Nietzsche: kebenaran tak lain hanyalah ketidakbenaran yang semua makhluk tak bisa hidup tanpanya. Sebuah aforisme yang hanya “Ulil Albab” bisa mencandranya.

Sekarang coba kita tengok ke belakang, ke masa lalu kita. Tak perlu jauh-jauh, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, setahun yang lalu. Adakah kebaikan yang kita rindukan itu kian tampak di depan mata ataukah justru sebaliknya menghilang sedikit-demi-sedikit? Kebaikan adalah sebuah mimpi, kupikir. Kebaikan bukanlah makhluk yang hadir begitu saja, tiba-tiba, dan yang manusia tak perlu berkorban demi mencapainya.

Hanya karena kita, makhluk kerdil tapi sombong, mampu bermimpi dan menciptakan harapan, kebaikan itu menjadi sesuatu yang berarti. Jadi, apanya yang salah jika aku katakan bahwa kebaikan adalah seonggok mimpi? Sejenis makhluk asing yang muncul pelan-pelan dari dasar telaga harapan? Ya. Bersyukurlah, karena kita diciptakan dengan potensi melahirkan mimpi, harapan akan kebaikan menjadi sesuatu yang sangat berarti. Tak salah orang bilang: semuanya boleh mati, kecuali harapan.

Aku mau tanya kepada kalian. Singkat saja. Apakah hanya dengan perasaan, potensi nalariah, potensi naluriah, segenggam pengalaman dalam bergaul dengan kalian, persoalan seperti ini lahir? Ini bukan persoalan perasaan. Bukan persoalan wacana. Bukan persoalan filosofis, apalagi. Ini adalah persoalan kompleks gabungan dari semua yang mengisi ruang ke(tidak)sadaran historisku disini, di sepotong waktu ini, yang sejenak mengganggu sadarku.

Aku bukan dewa. Aku bukan orang paling sempurna, jika dibanding kalian. Tidak. Kenapa aku riwa-riwi bersama kalian, sejak awal aku menyandang embel-embel sialan “ketua BEM”? Alasan jelasnya kalian tahu sendiri. Aku sudah sering menceritakan. Mulai dari persoalan organisasional, kapabilitas, tanggung jawab, dan satu hal yang perlu aku tegaskan sekali lagi: harapan dan mimpi. Kenapa aku punya mimpi membesarkan “Sarkem Sokrates”, dari bentuk sehelai kertas Mading, lalu bikin rame-rame Expresso Ergo Sum, lahir kemudian “Linkaran KosongEnam”, lalu aku harus grudak-gruduk dengan tradisi baru yang agaknya sudah jadi ritus baruku (ngopi, nongkrong), lalu lahir FOSAT, diskusi-diskusi, dari seminar sampai bedahbuku…dan seterusnya….

Konon, itu adalah sebentuk kekuatan Civil Society dari kebudayaan baru “bangsa AF”. Sekali lagi aku tegaskan “aku bukan dewa”. Justru aku menginsyafi bahwa kalian lebih dewa tinimbang aku. Lalu kemudian ada LABFIL, media Sophos alaikum, persoalan-persoalan menyebalkan di seputar jurusan AF lalu kita hadapi, mulai dari dosen-dosen yang menyebalkan sampai presensi yang diwacanakan “a-historis” alias “tidak cukup kontekstual”….dan seterusnya. Semuanya kita bicarakan dengan terbuka dan bebas-dominasi. Jika ada, setidaknya kita sadar untuk segera meminimalisir “rezim-makna” dari apa yang kita bicarakan.

Aku gak tahu pasti, apakah FOSAT akan tetap berdiri, bertahan, dan mencetakkan sejarahnya sendiri. Pula demikian “Linkaran KosongEnam”, akankah hanya sebuah nama yang sebentar lagi akan menguap karena orang-orangnya capek mengurus. Juga LABFIL, masihkah kita ramaikan hiruk pikuknya disana. Juga masih adakah Sophos Alaikum dan Sarkem-Sokrates terbit dan beredar, di kalangan kawan-kawan kita. Aku gak tahu pasti.

Aku hanya bersyukur bisa bertemu dengan kalian: Asep, Yoga, Muhib, Yayan, Amri, Ujang, Misbah, Fya, Ludya, Uswah, Saiq, Opan, Sulaiman, Anwar, Rif’an Ivan, Wahab, Brekele, mungkin masih ada yang terlupa. Pengalamanku di BEM mempertemukanku dengan kalian. Dan Asep! Ya Aseplah yang pertama kali aku surati. Genap sudah setahun yg lalu surat itu kulayangkan padanya. Aku diajarinya minum micmac sampai Bintang yang asli kencing kuda itu (sialan!).

Agaknya tak sulit mengakui bahwa pertemuan itu mengintensif sampai terjalinlah ikatan emosional yang kuat karena kita sering bertemu dan merencanakan hal-hal besar yang bisa kita lakukan. Kita dipertemukan dan ditalikan oleh “mimpi-mimpi besar di siang bolong”. Aku juga gak tahu, kapan kita terentas dari mimpi-mimpi itu: entah karena kita terkapar karena tak sanggup mencapainya atau karena kita berhasil merealisasikannya. Masih segar di tempurung kepalaku kata2 Asep “kita buktikan, batu itu hancur atau kita yang terkapar di depannya!”

Ya…karena mimpi dan idealisme, kita dipersatukan, bukan? Kita adalah dewa, pencipta segalanya, di sebuah dunia mimpi! Dunia nyata ini, yang kita selami selama ini, tak lain adalah dunia mimpinya Tuhan. Lalu, apakah kita tak bisa menjadi tuhan-kecil bagi mimpi kita sendiri? Dengan satu pertanyaan, aku mau menutup surat ini: pintu sebelah mana yang mengantarkan kita menjadi sosok-sosok idealis, sosok-sosok pemimpi? Kupikir, bentuk-bentuk ciptaan kita, mulai dari Sarkem-Sokrates sampai Sophos Alaikum, dari Linkaran KosongEnam sampai FOSAT, dari wacana Civil Society sampai filsafat Posmo, adalah pintu yang telah mengantarkan kita pada harapan besar. Apakah itu semua bakal tak berumur lama?

Apakah permainan itu sudah cukup sempurna lalu kita pantas mengkiamatkannya?
Salam…
Kawan dan saudaramu,
yang sedang terpuruk karena mimpi yang terus menggelegak

[ Mamarx Tijaney ]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: