Willkommen…zu meiner Website

lagi-lagi kekerasan

Posted on: Juni 5, 2008

Kekerasan terjadi kembali di negeri ini. Dua pihak berhadap-hadapan. Satu pihak menyerang. Sepihak lainnya diserang. Front Pembela Islam menyerang Aliansi Kebangsaan. Islam dan Kebangsaan. Kita akui, belum ada pijakan mendasar untuk memahami bagaimana meletakkan kesadaran sebagai seorang muslim dan kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Ada banyak dugaan yang dipakai untuk mereka-reka kenapa kejadian ini bisa terjadi. Tapi dugaan-dugaan itu belum tentu bisa dijadikan pegangan. Kita menduga, kejadian itu terjadi karena perbedaan ideologis. Karena sentimen. Karena sepihak merasa dengki terhadap pihak lain. Karena sepihak mengaggap dirinya benar dan pihak lain salah. Tapi kita sudah terlebih dahulu mempersepsikan bahwa FPI adalah oraganisasi massa berbasis doktrin Islam garis keras. Melihat fenomena itu, di kepala kita sudah tersimpan asumsi bahwa FPI itu keras dan kasar dalam gerakannya. Mereka adalah aparat sipil yang bertujuan memberangus “kejahatan”, apa yang mereka anggap jahat.

Selain itu, kita berasumsi bahwa FPI itu preman-preman berjubah dan bersorban. Mereka mengkampanyekan Islam sebagai ketentuan hukum formal dari Tuhan yang harus diterapkan dalam kehidupan sosial manusia, sedangkan hukum formal dari manusia harus mengacu pada hukum formal Tuhan. Jika demikian, asumsi kita adalah FPI adalah penjaga moral dan etika, penerjemah hukum Tuhan yang berkenaan dengan baik-buruk, sebagai logika hukum yang bersifat transenden.

FPI bertindak kasar dan keras, adalah dikarenakan doktrin mereka bahwa Islam tidak bisa diberi pilihan untuk dialog untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, yang semestinya dan mana yang tak semestinya. Dari namanya saja, kita bisa memaklumi bahwa mereka hadir sebagai front, barisan terdepan, dalam usaha-usaha “Pembela”an terhadap “Islam.”

Jika demikian, dasar pemikiran mereka untuk menjustifikasi bisa dibenarkannya tindak kekerasan adalah bahwa Islam adalah sesosok wujud yang harus turun berhadapan dengan dunia. Islam vis a vis dunia. Manusia harus memilih, supaya tetap berada pada garis yang benar, pada Islam karena ia merupakan titisan Tuhan. Berkomitmen pada Islam adalah menolak dunia: memeranginya dan memberangus kejahatannya.

Apakah memang kita berperang melawan dunia? Dunia adalah seluruh manifestasi dari kehidupan manusia. Memahami dunia adalah memahami bagaimana dunia berdenyut, berevolusi, bergerak dan berubah, bersama kehidupan manusia. Singkatnya, dunia sebagai yang dihadapi Islam adalah dunia-hidup manusia. Konteks ruang-waktu diandaikan oleh FPI sebagai medan perseteruan antara Islam dan dunia-hidup manusia.

Apakah Islam seperti itu? Jawabannya kupikir adalah tak jelas, ngglambyar, ambigu. Asumsi FPI tentang Islam tentu berbeda dengan asumsiku, asumsimu, dan asumsi konvensional yang dipakai oleh masyarakat Islam dan non-Islam. Perdebatan masih terjadi dimana-mana, dengan masing-masing mempergunakan argumentasi beragam. Jadi kita musti sadar bahwa hanya asumsi FPI—sebagai organisasi garis keras—bahwa Islam harus dimenangkan atas dunia kita, tanpa perlu ada dialog. Apakah memang tak ada lagi dialog, antara Tuhan dan manusia, Islam dan realitas? FPI menjawab, tak perlu.

Hemat saya, doktrin ideologis FPI sangat bermasalah karena mengandung internal-contradiction. Antara pengertian Islam sebagai agama menurut FPI di satu sisi, dan hubungan antara iman-amal, teori-praxis, di sisi lain. Jika Islam adalah agama sebagai ketentuan Tuhan maka Islam tak perlu dibela karena yang ditentukan Tuhan menjadi realitas dengan sendirinya. Sehingga praxis atau amal manusia kehilangan makna, kehilangan arti dan relevansinya.

Tapi nyatanya tindakan FPI menjadi indikasi bagi asumsi tentang masih relevannya praxis karena Tuhan kurang berkuasa mewujudkan ketentuannya menjadi realitas. Bisa dikata: kalau toh Ahmadiyah keliru, karena mengingkari kenabian terakhir Muhammad SAW, FPI lebih sesat karena menganggap keberadaan mereka sebagai titisan Tuhan yang sah menghukum para pendosa.

Inilah yang bisa kita ambil pelajaran berharganya, betapa manusia telah meyakini bahwa kehadiran prinsip-prinsip universal pada subjektifitas manusia adalah mungkin. Sehingga dunia bisa dipaksa untuk mewujudkan prinsip-prinsip universal itu, dengan dalih bahwa ini tanggung jawab manusia. Inilah kenapa orang-orang “kepala batu dan buta hati”nya sulit diajak negosiasi, karena jauh di bawah kesadarannya dia yakin bahwa apa yang dilakukannya merupakan tanggung jawab manusia terhadap prinsip-prinsip universal itu.

Gaten, 5 Juni 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: