Willkommen…zu meiner Website

uniquisitas pengalaman

Posted on: Juni 5, 2008

Apa yang akan kita peroleh dari sekian pengalaman? Pertanyaan ini memang pantas dan lumrah kita lontarkan. Selain karena kita sebenarnya miskin, yang memerlukan sesuatu, pertanyaan itu menandakan bahwa kita ingin memanfaatkan segala yang bisa dihadapi untuk melengkapi diri. Pengalaman kita seperti untaian peristiwa yang kita jalani sebagai bentuk hubungan dimana kita pada dasarnya sedang memerlukan sesuatu. Istilah “memanfaatkan” tentu bukan konotatif dan peyoratif yang terkesan tak baik maknanya, melainkan untuk melukiskan bahwa ada maksud yang hendak dituju pada seluruh pengalaman.

Tak seperti hewan, ketika kita mencoba menghadapi suatu objek, maka kita mencoba menarik analisis mendalam, sehingga objek tersebut dapat lebih jelas digambarkan. Maka konsep pun lahir, untuk memberikan gambaran konseptual di dalam benak kita. Dengannya kita menemukan batasan-batasan, mana yang kita perlukan dan mana tidak. Dengan demikian, konsepsi manusia tentang dunia, sebagai kumpulan dari objek-objek adalah konsepsi manusia tentang keperluannya sendiri. Artinya konsep itu sebenarnya merangkum watak-watak dari diri kita sendiri.

Pemikiran ini kemudian melahirkan banyak konsekuensi, seturut dengan ranah pemikiran kita. Di wilayah pengetahuan atau epistemologis, lahirlah apa yang dinamakan rasionalisme, empirisisme, dan hasil pertautan keduanya: kritisisme Kant. Masing-masing menandaskan bahwa dunia ini sudah ada begitu saja, dimana hukum-hukum keteraturannya ada di dalam benak manusia. Untuk membuktikannya, peran indra dikedepankan sampai pada taraf hakim tertinggi, eksperimentasi dan verifikasi. Kesemuanya melandasi kebermaksudan dari pengetahuan.

Menganggap bahwa dunia sudah ada begitu saja, berarti meyakini bahwa peristiwa dan dunia ini bersifat lumrah dan alamiah. Maka ketika yang alamiah ini diakui sebagai objek yang independet, sulit kiranya kita berkesempatan untuk mempertanyakan apa-apa yang dibalik peristiwa dan dunia. Dunia dianggap realitas murni, sementara ada banyak timbunan-timbunan anggapan masyarakat yang rancu. Maka, pengetahuan dan hikmah menjadi sesuatu yang lepas hubungannya dengan manusia, menjadi sekadar piranti yang memuaskan sementara.

Dari sudut pandang kealamiahan dunia, pengalaman keseharian yang menghubungkan manusia dengan dunianya menjadi bersifat teoretis. Padahal sebenarnya hubungan itu bersifat familiar dan apa adanya. Tentu disini tiada niatan untuk membuang urgensi teori. Tapi oleh karena teori, kita sudah sejak awal mengidentikkan dunia keseharian dengan gambaran konseptual, yang lepas dari posisinya sebagai peristiwa.

Konsekuensinya, berhadapan keseharian melalui teori sama halnya dengan menghadapi tawanan. Oleh teori, keseharian menjadi kehilangan hubungannya dengan sisi humanitasnya. Manusia bukan lagi manusia dalam berhubungan dengan kesehariannya. Ia menjelma subjek yang mengatasi dinamika keseharian, menggeneralisir keunikan yang terjadi, dan mengendalikan arah transformatiknya dalam satu tarikan rumusan teoretis.

Sangat mungkin dikatakan bahwa keseharian itu bukan bersifat humanis lagi, melainkan suatu ke-ajeg-an yang menempatkan manusia melulu bersifat subjek dan dunia keseharian sebagai objek. Subjek diatas objek, dan akhirnya, hubungannya bersifat mendistorsikan dan represif, bahkan eksploitatif. Padahal pada awalnya relasi itu lebih bersifat pengalaman, penghayatan, kehidupan yang hidup dan humanis. Masing-masing mencoba membuka diri dan menyingkapkan apa yang tertutup dari keduanya.

Bagaimana kita memahami kehidupan beragama? Kehidupan beragama bukan kehidupan yang diandaikan ada begitu saja. Agama pun punya asal-usul, dan keberagamaan kita demikian juga. Bagaimana kita bisa melacak asal-usul kita menjalin hubungan kita dengan agama? Atau pengalaman beragama? Apa yang mendasar dari pengalaman religius kita? Tentunya kita musti melepas anggapan-anggapan sektarian, yang secara teoretis, telah membuatkan anggapan-anggapan yang juga sektarian.

Keseharian religius kita telah mengalami konstruksi oleh berbagai opini dan teori yang tanpa memberikan pada kita pilihan selain mengacu pada sekte tertentu. Ada banyak institusi-institusi agama yang telah memberikan pada kita acuan-acuan untuk melakukan penilaian terhadap apa itu religiusitas, bagaimana ritual itu musti dikerjakan, dan bahkan menentukan mana yang bidah dan yang tidak, yang lurus dan melenceng, yang mukmin dan yang kafir.

Bisa dikatakan, religiusitas kita terbentuk melalui kecenderungan untuk mengacu. Dengan demikian, manusia beragama bukan sebagai manusia yang memerlukan agama, untuk mencoba mengaktualisasikan kelengkapan etisnya, melainkan manusia yang mendistorsikan pengalaman keberagamaannya pada acuan yang telah dikonstruksikan terhadapnya. Imbasnya, dalam pengalaman itu orang tak perlu mempertanyakan rumusan-rumusan agama. Terhadap sesamanya, rumusan-rumusan itu juga diberlakukan untuk melakukan penilaian, dan pola keberagamaan itu menempatkan manusia sebagai yang selalu mencurigai.

Dalam sehari-hari kita bergulat dengan pekerjaan. Bagi pekerja seni, dunianya adalah dunia kreasi, tak ada pilihan lagi kecuali berkarya. Bagi petani, dunia pertanian ia geluti. Tak ada pertanyaan terlontar, selain bahwa dunia yang mereka selami ada begitu saja dan alamiah sifatnya. Setiap dunia memiliki elemen-elemen utama. Saat melukis, seseorang akan menghadapi alat-alat lukisnya, sesama pelukis, dan benda-benda yang tak berhubungan dengan seni lukis. Berhadapan dengan alat-alat lukis, tak sama dengan berhadapan dengan sesama pelukis. Tapi tak jarang, perbedaan ini tak diindahkan sehingga ketegangan-ketegangan pun muncul.

Sikap keseharian pun telah sedemikian terbawa pada kecenderungan yang tak semestinya. Oleh karena rumusan-rumusan mengenai profesionalisme, seorang dosen bisa saja menganggap murid sebagai objek pekerjaannya. Mendidik tentu baik, tapi jika proses pendidikan yang dijalankannya dimatikan oleh kode etik, wajib bersepatu misalnya, tentu mahasiswa menganggap sepatu lebih penting daripada pelajaran kesukaannya. Akibatnya, pendidikan sebagai peristiwa humanis menjadi institusi yang menempatkan mahasiswa tak lebih subjek-subjek yang terbebani belaka. Tentu prosesnya akan lain karena kemungkinan munculnya kreatifitas akademik tak muncul dari subjek yang terbebani.

Apa yang mendasar dari keseharian adalah pengalaman. Dengan pengalaman, manusia memiliki diri sendiri. Jika kita percaya bahwa pengalaman dihayati oleh seorang individu, maka bukannya orang lain yang kesadarannya akan terbentuk oleh pengalaman itu. Kesadaran seseorang yang tertuju pada pengalamannya tidak mungkin didapatkan dari kesadaran orang lain, meski sama dalam hal apa yang dialami. Oleh karena itu, satu kesadaran tidak mungkin terbelah dua untuk dimiliki oleh dua orang berbeda. Konsekuensinya, kebersamaan dalam satu pengalaman hanya berada pada level komunikasional, tidak secara eksistensial.
Disinilah kita musti bertanya, apakah benar kesadaran beragama orang-orang beragama itu sama secara eksistensial, hanya karena ada satu institusi ajaran agama yang menggeneralisir keyakinan mereka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: