Willkommen…zu meiner Website

unek2

Posted on: Juni 6, 2008

Negara menempatkan rakyat sebagai warga negara belaka. Agama menempatkan kita sebagai mukallaf saja. Artinya, dua institusi itu memperlakukan kita sebagai yang terbebani, objek individuasi, atau bukan lagi pemilik dan penentu masa depan. Negara berwenang mengkontrol sebagaimana agama demikian pula. Darimana kekuasaan untuk mengontrol itu berasal?

Memandang demikian sama halnya memperlakukan manusia sebagai piaraan. Maka tak heran jika kekerasan silih berganti, bertubi-tubi. Siapa membantah bahwa FPI memandang umat Islam tak jauh beda dengan perlakuan negara, penentu kebijakan, terhadap rakyat. Keduanya berasumsi, mengandaikan begitu saja bahwa rakyat (di hadapan negara) dan umat Islam (di hadapan agama) adalah elemen yang harus menempatkan diri di dalam sistem dengan baik.

Aku tak habis pikir, apakah Tuhan demikian juga? Jika semesta dipaksa untuk membentuk dirinya sesuai yang direncanakan Tuhan, bukankah itu sia-sia Tuhan beri kita akal pikiran dan kesadaran? Bukankah itu tak relevan dengan pernyataan-Nya “Aku (Allah) ingin diketahui, maka Kuciptakan semesta seisinya supaya Aku diketahui”. Aneh rasanya jika pengetahuan makhluk terhadap Tuhannya merupakan pengetahuan yang tak didasarkan pilihan-bebas dan kesadaran.

Dengan analogi, kita bisa membedakan. Jika robot diciptakan untuk membuatkan segelas kopi panas, maka apakah ketika ia melakukannya kita menilai robot itu baik, sebaik seorang kawan yang mengerti kebutuhan kita lalu membuatkan segelas kopi yang sama? Jika robot itu “baik”, bukankah itu sudah sewajarnya. Maka, bagaimana pula kita menilai “mengetahui Tuhan” itu sebagai kebaikan jika memang sudah sewajarnya? Tentu, ada perbedaan: baik dan buruk adalah dasar etika yang mengandaikan manusia sebagai makhluk yang berkesadaran dan berpilihan-bebas.

Aku tak habis pikir, bagaimana negara menjadi penopang peradaban. Agama menjadi penopang kesantunan dan kemanusiaan, jika keduanya menafikan kesadaran dan kehendak-bebas? Artinya, negara ini gagal mengaktualisasikan demokrasi dan kemajuan peradaban karena tidak ada tempat bagi refleksi baik-buruk, kecuali harus mengacu pada tata-hukum yang hari ini sudah bersifat artifisial belaka.

Kita dipaksa menyembah demokrasi tanpa diberi kesempatan untuk merefleksikan apa itu demokrasi. Kita dipaksa memberhalakan doktrin agama tanpa ada waktu kita bisa merenungkannya. Hari ini, baik negara maupun agama, telah menjelmakan dirinya sebagai sistem transendental yang tak bisa turun untuk tawar-menawar dengan kenyataan, berdialog dengan kesadaran, dan mempertimbangkan apa yang pengalaman-sejarah katakan.

Maka, sebagaimana FPI telah mengklaim diri “atas nama Islam dan Allah”, dan negara mengklaim diri “akal universal yang mengatur semesta”, kita sibuk melupakan keduanya secara bersamaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: