Willkommen…zu meiner Website

berkabung untuk Pancasila

Posted on: Juni 7, 2008

Diambang kantuk aku ngobrol santai dengan dua anak perempuan. Tentunya tidak secara langsung, tapi lewat chatting yang sekarang sedang menggejala—sebagai trend alternatif baru—dimana-mana. Mereka kelas akhir sekolah menengah, yang sedang harap-harap cemas dengan kelulusan mereka pasca UAN

Seorangnya, aku kenal baik karena masih keponakanku sendiri. Dan seorangnya lagi aku hanya kenal lewat dunia maya (chatting) itu. Siapa nama aslinya, aku tidak tahu. Yang aku tahu, dia siswi SMUN 1 di kota Rembang, kampung halamanku. Sebenarnya mereka adalah kawan se-angkatan, satu sekolah yang sama. Anehnya, mereka tak saling kenal selain sekadar kawan chat. Di “mig33” kami ketemu, disana pula aku manyun karena orang bisa kenal, tapi tak pernah saling nyapa di dunia nyata.

Meski tak serius, aku “tagih” mereka: seandainya lulus, kalian mau syukuran apa? Traktir aku ya? Mereka balik menodong: kamu yang traktir kita. Oke, jawabku. Aku traktir kalian es lilin (kok masih ada ya?—haree geneee—), kalian traktir aku nasi gandhul (masakan khas Juana, yang ada juga warungnya di dekar rumahku). Salah satu dari mereka bilang: gak “adil” itu namanya. Yang satunya lagi nyeletuk: enak di kamu, gak enak di qt.

Ternyata mereka mengungkit persoalan “keadilan” dan persamaan gender, dengan mengutip sila ke-5 dari Pancasila! Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia! (luar biasa! Mereka hapal betul sila itu. Entah sudah berapa kali kalimat merdu itu diproklamirkan saat upacara bendera di sekolah mereka). Aku sendiri mengingatkan pada situasi kenapa traktir-traktiran itu perlu. Bukankah kalian yang syukuran, menyukuri kelulusan? Demikian aku mengirim pesan. Jika kalian menyukurinya, maka traktiran itu bentuk kongkret dari syukuran.

Aku bilang pada mereka, jika aku yang traktir, itu malah tidak wajar karena aku sedang berkabung. Ya aku sedang berkabung karena hari ini kita mendapatkan sisa Pancasila yang sudah menjadi bangkai di “rumahnya sendiri.” Masih segar di ingatan kita, belum genap sebulan kita memperingati seratus tahun kebangkitan nasional 20 Mei…belum seminggu kita merayakan ulang tahun si Pancasila 1 Juni, betapa simbol kebangsaan kita itu sudah dibunuh entah kesekian kalinya.

Tepat di saat orang-orang sedang sibuk menegaskan kembali komitmen kebangsaan “Bhineka Tunggal Ika”, serombongan orang berbaju putih, bersorban, dan berpanji-panji Islam menyerang dengan batok kepala penuh dendam. Kita sedang merayakan kematian final sebuah komitmen, kebangkitan nasional yang telah meruapkan mimpi semu, dan Pancasila ditikam dari belakang, untuk kesekian puluh kalinya.

Dimana Ketuhanan Yang Maha Esa itu tersisa? Dimana Kemanusiaan yang Adil dan Beradab itu dikuburkan? Dimana itu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dikebumikan, yang ketika kita mengutipnya, tak ubahnya mencium anyir bau kain kafannya? Aku benar-benar berkabung…..

Tak tahukah kita, bagaimana Pancasila disusun dengan letih dengan sisa darah revolusi? Ratusan tahun bangsa ini dibenamkan, lalu muncul ke permukaan berkat Pancasila lahir. Tidakkah ia dilahirkan dengan susah payah? Hasil pembuahan pemikiran Tantular dan Prapanca dan konteks imperialisme ratusan tahun lamanya….lalu dibunuh berkali-kali begitu saja!? Menatap si Pancasila seperti menatap titisan Tuhan yang sengaja ditelantarkan.

Tentang mimpi “keadilan sosial”, aku sangat menyayangkan. Sayang sekali jika ia dikurung dalam mimpi semu, kesadaran palsu, semacam bubuk candu yang direkayasa untuk menipu anak-anak bangsa yang lugu. Kita tertipu, dengan lagu “keadilan sosial” itu, seolah-olah negara ini benar-benar alat untuk mewujudkan mimpi itu. Padahal….tidakkah kalian tahu, hai adik-adikku penggemar chatting, bahwa sosialisme yang berkeadilan itu sudah lama di-black list sebagai ideologi jahat.

Tengoklah TAP No. XXIII/MPRS/1966 yang mencita-citakan “masyarakat sosialis berdasarkan Pancasila.” Sebenarnya era inilah era lahirnya Orde Baru. Belum genap 2 dasawarsa, tahun 1983 dan 1988, prinsip itu diubah. Bangsa ini terang-terangan beralih menjadi pemeluk agama kaum imperialis, Kapitalisme Liberal. Tahun 1998, tahun Orde Baru runtuh, merupakan tahun pertanda bagi kemunculan Indonesia sebagai negara paling liberal di dunia, di bidang ekonomi! (Silahkan baca: Radius Prawiro, Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi, 1998, hlm. 409)

Hari ini adalah hari kemenangan Kapitalisme Liberal, suatu agama yang tidak pernah mentolerir prinsip keadilan sosial. Musuh terbesar Kapitalisme Liberal adalah sosialisme. Pancasila ibaratnya kitab suci yang tak lagi otentik, karena kodifikasi, interpretasi, dan penerapan-penerapannya telah diambil alih oleh para pendeta “kekuasaan negara” yang berhaluan Kapitalisme. Bagaimana kita memahami “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”?

Akhirnya, di ambang kantuk itu, aku tidur….bermimpi ketemu arwah Pancasila. Dia tersenyum kecut, membuang muka, dan berkata tanpa ekspresi: kenapa kamu membunuhku, Saudaraku? Kenapa tak kau ijinkan aku hidup dalam kehidupan bangsamu? Kenapa kau pisahkan aku dari ibuku dalam jarak yang ratusan tahun, jarak yang tak bisa ku bayangkan, lalu setelah itu kau tikam aku tak cukup sekali. Lihatlah kuburku, nisanku bahkan telah luluh lantak, dan jasadku telah hilang lenyap dari liangnya…

Aku bayangkan….bahkan aku merasa tak cukup hanya dengan menciumi kakinya, membasahinya dengan air mataku yang palsu, berharap maafnya yang tak mungkin diberikannya padaku, pada kalian, pada kita semuaaaaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: