Willkommen…zu meiner Website

(bukan sampah) serapah

Posted on: Juni 7, 2008

Coba lihat dan amati, orang kesana-kemari menghajar kehidupannya sendiri

Demi apa mereka bertindak represif,

bahkan terhadap tubuhnya sendiri!?

Seberapa nyata mereka, yang bersimbolkan kesucian,

justru menelikung nalar,

demi mitos yang dijejalkan sepotong demi sepotong!

Mereka tak segan mendistorsikan pengertian mata-hati

dengan pengertian syahwat yang beku-leleh

dan cerita-agung apa lagi

yang akan mengisi-kontaminasi kesadaran orang-orang bodoh?

coba lihat dan amati, anjing-anjing nomad itu mencari tulang!

Sampai gemuk dan berlemak badan mereka, lalu tak sadar bahwa kebesaran mereka hanya lemak belaka!

Mereka tak insyaf bahwa kebesaran itu menyimpan aroma bangkai yang ditutupi rapat-rapat…

dan mereka membanggakan!

betapa menyedihkannya…!

Tapi segera setelah aku mengamati,

diriku tampak di cermin sebagai yang tak jauh beda dengan mereka….

Bahkan menangis adalah sia-sia muspra….

Inikah kenapa kita tak semestinya apa-apa kecuali menghitung-hitung diri sendiri

berserah diri kepada Pemilik Segala-kemungkinan yang bakal terjadi

***

adakah masih perlu kita khawatir

ketika detik-detik telanjur menusukkan jarumnya

pada selembar ruh yang tersisa

adakah masih perlu kita meratap

saat manusia hanya sebuih gelembung

yang dihembuskan di udara berdebu luka

adakah perlu seorang aku, kau…kita dan mereka

saat keberadaan sekadar riuh-riuh dosa malapetaka

kemana lagi kita akan berteduh

kemana lagi kita akan berlindung

ketika hitam mata-Nya tampak juling oleh mata dunia

inikah sejarah tempat kita mengkabungkan setetes darah prahara

adakah masih perlu kita berteriak,

saat parau menyumbat mata-hati yang lelah membisu

***

Aku berdiri di ketepian medan

bangkai-bangkai bangkit penuh dendam

dan serigala-serigala berhamburan

menggelegakkan amarah yang lama terpendam

inilah jaman yang membenamkan kita pada mimpi yang telah lama karam

disinilah peradaban ditenggelamkan

nyanyi sunyi meretakkan nalar

di pinggiran mata tombak, terdengar mirip gemerincing

suara rantai-rantai yang diikatkan

pada tiang-tiang kuil yang sebentar lagi lantak

inikah karya agung yang dibesar-besarkan itu?

Tidakkah memang demikian?

***

2 Tanggapan to "(bukan sampah) serapah"

aq belum banyak mngerti tentang sumpah-sumpah itu…..
can u tell me…..???🙂

maap Vit…bukan sumpah, tapi serapah…semacam ekspresi tak puas yg perlu dikeluarkan sbg uneg2…kalo tdk, akan jadi kerak–mengkristal sebagai noda dendam… isinya hanya mau melukiskan keadaan yg menjemukan dan bising…dunia yg kumasuki dijejali oleh orang2 yg bertempur dan mempertaruhkan sesuatu yg faktamorgana belaka….dan mereka begitu ‘pede’-nya…ah!itupun cuma igauan seorang yg sekadar ingin berkata2 (pdhl ia) dlm keadaan tidur pulas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: