Willkommen…zu meiner Website

demi Sejarah….

Posted on: Juni 8, 2008

Suatu ketika kawanku mengajakku membicarakan dunia sebagai suatu keterarturan. Sejarah berjalan secara linear dan pengetahuan manusia lahir dari latar kebijaksanaan untuk menguak rahasia keteraturan dunia dan linearitas sejarah. Segera saja aku bergidik. Lalu aku mencoba mengikuti kemana ia arahkan pemikirannya. Dengan menduga-duga, aku mulai bisa meraba batang-batang yang mengkerangkai pemikiran itu. Dunia, sejarah, manusia, pengetahuan, keteraturan, dan…prediksi-kontrol dan seterusnya.

Pikirannya menandaskan bahwa manusia mengalami fakta-fakta. Dengan mengabstraksikan fakta-fakta yang tumpahruah, pengetahuan kita diperoleh dengan menarik prinsip-prinsip umum yang tunggal. Jika prinsip itu kita peroleh, pengetahuan menjadi mungkin. Sama mungkinnya dengan dipergunakannya pengetahuan itu untuk memprediksi dan mengontrol apa yang bakal terjadi. Demikianlah, semakin tahu manusia semakin mendekati ia pada posisi Tuhan. Dengan kata lain, masa depan sudah hadir secara potensial di dalam benak pikiran dimana pengetahuan pasti itu bersemayam.

Dari penjelasannya itu, tampak bahwa ia memaknai pengetahuan sebagai hasil abstraksi kita atas tumpahruahnya fakta-fakta yang kita alami. Pengalaman dan kehidupan itu tak pernah terjadi melenceng dari ketentuan prinsip-prinsip tunggal. Jika dunia itu keteraturan, ia mirip sebuah arloji: putarannya tak pernah berubah, kecepatan dan percepatannya konstan, dan fluktuasi (berubahnya pola gerak-perubahan) itu tidak ada. Kita bisa memprediksi dan mengontrol apa yang bakal terjadi, dalam alur sejarah yang berjalan linear.

Rupa-rupanya ia bukan bicara dengan mulutnya sendiri, tapi mulutnya itu sekadar instrumen untuk menyampaikan pikiran Newton dan Pascal. Jika demikian, dia menyamakan dunia pengalaman manusia dengan sekumpulan fakta-fakta alamiah. Paradigma ini jelas mengacu pada Positivisme. Dan menyatakan adanya ketunggalan prinsip dan kode-kode matematis ilmiah teoretis yang mencakupi seluruh fakta yang mungkin terjadi, baik di ranah pengalaman manusiawi dan ranah alamiah (material-fisis). Lantas kemudian saya ingat apa kata buku-buku filsafat: dunia kita sudah ditundukkan oleh superioritas dunia teoretis ilmiah formal. Hampir menjadi tidak mungkin kita memahami dan memaknai pengalaman tanpa harus dirujukkan pada teori-teori ilmiah.

Sebenarnya, ada dua wacana “pintu masuk” untuk menolak dominasi dunia teoretis ilmiah formal atas dunia penghayatan, yakni Otentisitas keberadaan dan linguistikalitas pemahaman. Memahami keduanya memerlukan sorot pandang yang mampu menembus dan melampaui asumsi-asumsi lama warisan modernisme, karena di dalam wacana tersebut terkandung spirit pembebasan dari superioritas dan dominasi dunia teoretis ilmiah formal dalam rangka mencari kealamiahan yang unik murni dari dunia manusia (humaniora).

Wacana pertama, yakni Otentisitas keberadaan, adalah wacana yang menempatkan manusia bukan sebagai pusat keberadaan. Sementara metafisika-kehadiran mengasumsikan hadirnya prinsip-prinsip order simetrisitas dunia objektif di dalam alam subjektif, dikampanyekannya keberadaan manusia sebagai yang terjebak dalam suatu jejaring besar dimana masing-masing elemen terjalin satu sama lain merupakan kritik terhadap sentralitas—dunia teoretis ilmiah formal—manusia.

Sebagai kelanjutan alur filsafati ini, masing-masing memiliki rujukan keberartian (baca: signifikasi)-nya pada waktu dan tempat (locus dan tempus) tertentu. Maka, keberadaan manusia yang otentik adalah keberadaan yang bukannya lepas dari sejarah, melainkan berada di dalamnya. Manusia otentik adalah manusia yang sadar akan, dan secara bersamaan berada dalam, sesuatu sebagai pijakan sejarahnya.

Jika asumsi ini dipakai untuk merefleksikan bagaimana manusia menghadapi dunia, maka sudah barang tentu tidak ada prinsip yang beroperasi di luar pengalaman manusia. Atau, bisa pula dikatakan, prinsip seperti itu tidak mengakui adanya keberbedaan signifikasi yang mungkin muncul dalam konteks ruang-waktu yang berlainan. Ini tampak makin jelas sebagai pertanda bahwa signifika(n)si itu bukan berbasis pada logika semata. Ia tidak bisa dimonopolisir oleh kode-kode teoretis ilmiah formal. Dunia ekspresif yang “lepas”, dunia-hidup yang unik, plural dan berbeda merupakan dunia lapis pertama yang dihayati manusia secara unik dan otentik.

Kedua, linguistikalitas pemahaman. Ia dimengerti dengan menilik aspek bisa-dibahasakan-nya pemahaman, sebagaimana aspek bisa-disejarahkan-nya keberadaan dalam wacana Otentisitas keberadaan. Artinya, jika keberadaan itu unik karena senantiasa bergerak bersama dan di dalam jejaring besar kehidupan di dalam “faktisitas”, demikian pula pemahaman manusia. Kita mengerti dan memahami, memberikan arti dan memaknai, tidaklah melalui bahasa metafisik dan “huruf-huruf langit” yang signifikasinya diandaikan begitu saja secara alamiah dan lepas dari konvensi-konvensi dan ekspresi otentik.

Memahami lebih mirip permainan poker: kita silih berganti menukar potongan-potongan kartu bergambar maksud-maksud. Dari kartu paling bontot sampai permainan itu tak bisa lagi dilanjutkan. Bukan gambar di setiap kartu itu yang penting dan fundamental, melainkan bagaimana kita sebagai pemain senantiasa saling menunggu dan menyesuaikan setiap kartu supaya permainan tak selesai sebelum waktunya. Dalam sebuah adegan dramatik dalam film Namesake karya Mira Nair, seorang ayah mengajak anak semata wayangnya ke laut, menyusuri tanjung kecil dari bebatuan buatan. Berhenti di ujung tanjung, sang ayah berkata: “ingatlah pada suatu saatmu nanti akan perjalanan kita ini. Kita berjalan sampai tak ada jalan lagi yang bisa ditelusuri.”

Dari aspek ini, tampaknya kritik itu dialamatkan pada hilangnya sisi linguistik dari pijakan kita di dalam memahami sesuatu. Ketika pemahaman adalah pengungkapan kenyataan di dalam diri manusia, karena kesadaran diarahkan kepadanya secara sadar dan sengaja, maka terbentuklah komunikasi dua-arah sekaligus. Ini menunjukkan bahwa kesengajaan menjadi kunci, dalam arti kesadaran bukan bekerja begitu saja tanpa pilihan sadar. Pengalaman mengikuti watak dan gerak-ke-luar dari kesadaran. Oleh karena itu, dengan sengaja kita menyadari sesuatu pada suatu saat, dan mungkin pula tidak demikian pada saat yang lain. Sifatnya linguistik dan historis.

Linguistikalitas pemahaman berkorelasi dengan historisitas pengalaman. Atau bisa pula dibalik: linguistikalitas pengalaman dan historisitas pemahaman. Dalam tradisi saintifik, pengalaman dan pemahaman telah dieksplorasi secara luas di ranah epistemologi. Keperluannya adalah mencari landasan bagi metodologi pengetahuan. Induksi, deduksi dan silogisme logis bekerja secara simultan terhadap pengalaman dan pemahaman (asumsi dasar) sehingga pengalaman menjadi terlepas dari pijakannya.

Maka, sebenarnya saat kita berlogika ekstrim kita seperti memaksa pengalaman dan pemahaman eksistensial keluar dari wataknya sendiri, mengusir mereka demi suatu kehadiran pengetahuan tentang realitas objektif di dalam subjektifitas kita. Dengan bahasa Gadamerian, metode saintifik membatasi pengungkapan otentik dari pemahaman (atau kebenaran) kita akan dunia. Disinilah akar-akar persoalan kenapa logika, ketika diterapkan di dalam ragam matriks pengalaman dan pemahaman, mengkonstruksikan basis argumentatif bagi dogmatisme, baik dogma agama maupun non-agama.

Krisis pemikiran kita berkisaran pada tidak diakuinya simetrisitas dan asimetrisitas dunia kita sekaligus. Memang kita bisa mengakui dan menggariskan persepsi tentang absurditas kehidupan kita, atau ambiguitas internalnya. Tidak ada prinsip tunggal yang self-evident, cukup dan terbukti dengan dirinya sendiri, yang bisa diakses oleh manusia. Seperti apa kata Kant, bahwa pengetahuan kita tentang sesuatu tergantung pada pengalaman inderawi (terhadap)nya. Sudah semestinya pengalaman dan pemahaman tentang dunia dikembalikan pada dimensi kesejarahan dan keberadaannya.

Entah bagaimana, tiba-tiba aku teringat dengan firman Tuhan dalam salah satu rubrik di al Quran-Nya tentang Sejarah “Wal ‘Ashri…inna al-insaana lafii khusrin. Illa alladziina amanu wa ‘amiluu as-shalihati wa tawashau bil haqqi wa tawaashau bis sabri” . Demi Sejarah…sungguh manusia itu benar-benar bangkrut (dan merugi)…kecuali orang-orang yang percaya teguh (dan optimis) …mewujudkan kebaikan dan (bersamaan untuk) saling mengingatkan supaya senantiasa mengacu pada Yang-Benar dan bersabar (atas segala kemungkinan yang terjadi).

Bahwa sejarah adalah ibu kandung pengalaman yang masih produktif men-design pengalaman yang mungkin…kita dituntut bersabar atas apapun yang bakal terjadi. Apa yang dipercaya kawanku tidak memiliki relevansi dengan nilai-baik dari kesabaran…kepastian metafisis di dalam benak pikiran lebih mirip penyederhanaan masalah yang sangat berpotensi mengingkari bentuk-bentuk lain kreatifitas-Nya. Benar bahwa sekarang kita sedang mempertuhankan apa yang menghalangi kita untuk mengantisipasi segala yang tak terprediksi. Inilah jaman yang sulit mendidik manusia rendah hati dan berserah diri, terhadap pluralitas bersedia toleran dan lapang hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: