Willkommen…zu meiner Website

lagi, tentang konflik…

Posted on: Juni 10, 2008

Konflik terjadi antara sesama manusia. Konflik ringan biasa kita jumpai dimana-mana. Konflik berat, kita menyebutnya perang. Konflik sulit dihindari. Seolah-olah sudah menjadi hukum alam, kita menganggap konflik tak jauh beda dengan kejadian-kejadian alamiah, seperti air mendidih ketika dipanaskan, atau meranggasnya daun-daun saat kemarau. Kalau begitu, kita tidak memperhatikan lagi asal-muasal kenapa terjadi konflik.

Lantas kita duga-duga, konflik adalah hukum pertentangan yang sudah digaris-takdirkan. Lalu kita menyebut-nyebut Tuhan. Menganggap hukum alam sebagai yang sudah digariskan, berarti mentransendensikan hukum alam. Operasionalitasnya absolut, nir-waktu/tempat. Dengan kata lain, konflik adalah wujud dari dialektika abadi yang transenden dari rekayasa manusia.

Benarkah demikian? Tentunya kita tidak bisa menjawabnya dengan alur penalaran sederhana. Seperti yang kita ketahui, bahwa Tuhan adalah absolut, baik tindakan-Nya maupun esensi-Nya. Absolut dalam tindakan, adalah tidak terbatasnya apa yang bisa dilakukan-Nya. Artinya, jika hukum alam adalah absolut, tentunya Tuhan patuh pada hukum itu ketika bertindak sesuatu. Dengan kata lain, ada “benturan asumsional” antara transendensi hukum alam dan ke-absolut-an tindakan-Nya.

Kita tinggalkan persoalan teologis itu. Konflik yang paling mudah tersulut, mudah kita temui dalam bentuk konflik agama/keyakinan. Antara muslim moderat dengan muslim garis keras. Antara muslim liberal dan muslim fundamentalis. Ini menunjukkan, bahwa keyakinan bisa menyulut konflik di kalangan sesama muslim. Baru-baru ini media sibuk meramaikan arus informasinya dengan berita-berita seputar konflik, antara kalangan minoritas yang dianggap sesat dan kalangan mayoritas konvensional.

Ada satu pihak yang diklaim menyimpang. Ahmadiyah dimusuhi karena dinilai tidak mengakui Nabi Muhammad SAW. sebagai Nabi terakhir. Ini berarti Ahmadiyah menyalahi prinsip utama agama Islam. Ada yang menawarkan solusi, lebih baik Ahmadiyah sekalian keluar dari Islam. Tapi ini bukan solusi terbaik, karena bagi pemeluknya Ahmadiyah adalah Islam, dengan mengacu pada ajaran seorang Wali bernama Mirza Ghulam Ahmad. Jelasnya, mereka beda penafsiran dan pemahaman dengan para pemeluk Islam kebanyakan.

Dalam sejarah, orang bisa saja saling bunuh. Bahkan ulama pun dilempari batu, karena dipicu oleh penafsiran dan pemahaman. Di dalam bukunya “Mazhab Tafsir”, Ignas menggambarkan kekacauan yang terjadi pada 929 M di Baghdad. Antara pengikut fanatik Imam Ibn Hanbal dan pengikut Mu’tazilah. Masalahnya seputar penafsiran surat al-Isra’ ayat 79:

…wa mina al-laili fatahajjad bihi nafilatan laka ‘asa ayyab’atsaka Rabbuka maqaman mahmuda….

Yang pertama berpendirian bahwa Nabi Muhammad akan didudukkan di sisi-Nya di Arsy kelak sebagai balasan atas shalat tahajudnya.

Yang kedua menolak penafsiran itu. Tidak mungkin Allah duduk sedemikian rupa dan mengangakt Nabi menjadi teman duduk-Nya. Ayat itu lebih masuk akal jika dipahami tidak melalui model-model antropomorfisme. Yakni Nabi akan ditempatkan pada derajat syafaat yang tinggi. Saat itu, kebanyakan umat Islam hampir tidak sempat memikirkan keberadaan Tuhan. Bagi mereka, jika al-Quran menggambarkan Tuhan dalam bentuk manusia, maka urusan umat hanya tinggal mengimani saja. Tapi pandangan ini menjadi problematik jika dihadapkan pada nalar filsafat, bagaimana menjelaskan transendensi-Nya jika ia seolah-olah mirip manusia?

Konflik ini bisa dijelaskan melalui teori konflik sosial akibat pertentangan dua masyarakat, sebagai buah dari perbedaan nalar dan paradigmanya. Jika kedua pihak mengklaim sah atas kepemilikan privilis tertentu, keduanya cenderung tak menghindari perseteruan untuk memperebutkan privilis sebenarnya, ataupun membuktikan mana yang lebih layak menyandang privilis tersebut.

Kelanjutannya, salah satu ulama besar Imam Thabari, ketika menafsirkkan ayat diatas dengan menghindari model antropomorfis, dengan sedikit banyak menerima model Mu’tazilah, mengomentari “perbincangan (Allah) dengan Nabi di Arsy adalah mustahil (tak masuk akal)”. Buntutnya, ia dilempari oleh pengikut fanatik Imam Ibn Hanbal. Kita heran, ulama dan tokoh besar, pemikir dan filosof itu bahkan dilempari batu. Hari ini kita dapati berita, tokoh-tokoh besar sekaliber Gus Dur, Gunawan Muhammad, Syafi’i Ma’arif, bahkan di-black list oleh sekelompok umat sebagai penyebar fitnah.

Begitulah…..sejarah agama besar, sakral pula, pun menyimpan romantika kelam. Lebih layak disebut tragedi kemanusiaan lantaran persengketaan teologis. Hari ini masih berlanjut persengketaan serupa tanpa kita tahu kapan akan berakhir sama sekali.

Besok ada berita konflik. Besoknya ada lagi. Lusa, ada lagi. Susul menyusul berganti-ganti. Warnanya sama saja, motifnya beda, meski bentuk dan polanya juga sama saja! Khawatir jika memang ini memunculkan persepsi, apalagi suudzon bahwa ini pun jadi bagian dari kehendak Tuhan! Siapa tahu? Apakah konflik (benturan kekerasan fisik) adalah manifestasi hukum alam? Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: