Willkommen…zu meiner Website

Dualitas Muhkamat dan Mutasyabihat

Posted on: Juni 13, 2008

Manna’ Qatthan menulis, di awal penjelasannya tentang al-muhkam dan al-mutasyabih, “Allah menurunkan al-Furqan (al-Quran) kepada hamba-Nya (Muhammad) supaya menjadi peringatan bagi seluruh alam semesta.” Al-Quran diturunkan, melalui Nabi SAW, untuk ditujukan kepada semesta. Ada hal yang ditekankan disini, yakni “al-Furqan”, salah satu nama al-Quran yang artinya “pembeda”. Maksudnya, al-Qur’an memisahkan yang benar dari yang batil, jelas bahwa al-haqq berbeda dengan al-bathil.

Hanya ada semesta yang bisa menerima penurunan al-Furqan, yakni manusia. Maksudnya, audiens (atau dalam istilah retorikanya, al-mukhothob) itu tak lain adalah manusia. Penurunan itu dimaksudkan untuk memberikan peringatan. Qatthan melanjutkan, maksud peringatan itu adalah demi aqidah dan dasar-dasar yang lurus: agama Islam. Tentunya, pembahasan mengenai turunnya wahyu, dalam kerangka orientasi dan maksud seperti itu, haruslah melalui medium komunikasi yang jelas dan terang sebagai anugerah-Nya untuk manusia. (Mabahits fi Ulum al-Quran, Mansyurat al-‘Ashr al-Hadits, 1973)

Disinilah kemudian di dalam al-Quran muncul pembahasan mengenai kejelasan, ayat-ayat yang jelas, keberbeda-bedaan lafadz, menunjukkan pada dasar-dasar di satu sisi dan cabang-cabang (persoalan agama) di sisi lain. Dan sebagai konsekuensinya, jika ada kejelasan dari ayat-ayat Quran, ada juga ketidakjelasannya. Ini berkaitan dengan aspek tidak terbatasnya al-Qur’an dalam memberikan “informasi langit”. Artinya, ada persoalan mengenai kejelasan signifikasi ayat yang dihadapi oleh manusia. Sudah barang tentu persoalan (muhkam dan mutasyabihat) ini muncul, pertama karena faktor ayat itu sendiri, kedua karena faktor manusianya.

Jika ayat merupakan suatu informasi (ikhbar), maka pertanyaan bisa muncul pada aspek medium informasinya. Disini, sebagai konsep teknisnya, Qatthan menggunakan “kalam” (pembicaraan) yang sudah natural di tengah-tengah kehidupan manusia. Bilamana kalam itu jelas? Bilamana kalam itu tak jelas? Dia secara eksplisit menerangkan terlebih dahulu apa yang diistilahkannya “ihkam al-kalam” dan “tasyabuh al-kalam”. Dengan “ihkam al-kalam” dimaksudkan bahwa pembicaraan itu bisa dijadikan pegangan (acuan yang meyakinkan) kalau yang benar dan yang bualan terpisah secara jelas. Jika tidak, yakni kedua “oposisi-biner” itu malah mirip-mirip atau berkesesuaian (tanasub) satu sama lain, itulah yang disebutnya “tasyabuh al-Kalam.”

Kalam, dengan kedua sifatnya tersebut, kemudian bisa dimengerti sebagai yang jelas dalam satu tempat/situasi, bisa pula tak jelas (ambigu, “mendua” maksudnya) dalam tempat—situasi, struktur teks—yang lain. Di dalam al-Quran, dimana terdapat 6666 ayat (menurut pendapat yang masyhur), ada konsep ayat muhkam dan ayat mutasyabih. Dengan pengertian, sebagaimana yang dijelaskan Subhi as-Shalih, bahwa konsep itu bersifat perspektifistik atau tergantung sudut pandang. Lebih terangnya, bisa saja kita menyebut seluruh ayat Quran itu muhkamat jika dilihat dari sudut pandang bisa dijadikannya ia pegangan, dimana tidak lemah dalam alfadz dan maknanya. (Mabahits fi Ulum al-Quran, Dar al-‘Ilm lil Malayin, Beirut: 1981)

Atau, menurut Subhi as-Shalih, bisa pula dikatakan, seluruh ayat al-Quran itu mutasyabihat jika dilihat dari sudut pandang ayat-ayatnya serupa, saling mirip dan berkesesuaian, tidak dapat diunggulkan yang satu atas yang lain, dalam hal balaghah dan kemu’jizatannya. Maka, persoalan yang sebenarnya bukan pada wilayah ini, melainkan pada aspek keberadaan muhkamat dan mutasyabihat di dalam al-Quran secara bersamaan. Kembali pada asumsi “ada yang muhkam dan ada yang mutasyabih.” Dan bagaimana pula sikap kita terhadap ayat-ayat yang, pertama dan terutama, termasuk dalam kategori mutasyabihat?

Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita singgung terlebih dahulu pengertian Al-Quran sebagai wahyu. Wahyu merupakan proses komunikasi—yang mentransmisikan suatu informasi tertentu—. Nasr Hamid Abu Zaid menekankan makna sentral wahyu adalah pemberian informasi secara rahasia. Ditambahkan “secara rahasia” dimaksudkan sebagai keterangan atas proses itu. Sementara ada 2 pihak yang terlibat di dalamnya, maka pihak ketiga menyebutnya “rahasia”. Artinya, informasi itu bukan sembarangan dan hanya “orang pilihan” terlibat dalam proses komunikasi itu. (Tekstualitas al-Quran, 2005)

Ayat afirmatif pertama tentang asumsi “ada mutasyabih, ada muhkam” ini adalah ayat ketujuh dari surat Ali Imran (Selanjutnya, silahkan buka surat dan ayat tersebut). Subhi Shalih menjelaskan ada perbedaan pandangan mengenai tema ini di kalangan ulama, tapi secara implisit mengarah pada pengertian bahwa ayat muhkam merupakan ayat yang menunjukkan makna secara jelas, tak samar. Sedangkan mutasyabih adalah ayat yang tak mengandung (khola yakhlu) signifikasi/rujukan jelas atas maknanya. Tentu tidak lantas disimpulkan bahwa ayat mutasyabihat tidak mempunyai maksud. Maksud tentu tetap ada, tetapi sifatnya tak tunggal, plural, bergerak, dinamis, fluktuatif, dan sudah barang tentu menyejarah (baca: kontekstual).

Mutasyabihat sendiri terbagi menjadi 3: al-mujmal (pengertiannya bersifat umum, tidak detil), al-muawwal (yang perlu ditakwilkan), dan al-musykil (yang sulit dipahami). Tidak ada keperluan untuk membahas atau mempermasalahkan kejelasan signifikasi dalam pembacaan atas ayat-ayat muhkamat karena, lanjut Subhi Shalih, pembacaan itu sebatas untuk memahami maksudnya. Maka, yang jadi persoalan adalah ketidakjelasan di dalam ayat mutasyabihat dikarenakan (1) sulit dimengerti (2) tidak terperinci (3) perlu ditakwil. Ini menunjukkan bahwa persoalan ini memang harus dibahas. Dengan kata lain, makna dan arti di dalam al-Quran “tidak dibiarkan” apa adanya tanpa ada kaitan dengan latarbelakang anasir-anasir manusiawi (Humanisme atau Insanawiyyah).

Sebagai contoh, jamak diakui di kalangan umat Islam, bahwa pernyataan al-Quran “tangan Tuhan di atas tangan-tangan mereka” tidak bisa dibiarkan dengan menunjuk arti literernya, apa adanya. Disini, (ayat) itu termasuk kategori mutasyabih, yakni ambigu dan perlu/harus ditakwilkan karena tidak relevan dengan aspek rasionalitas, dan akan menjadi problematik di wilayah I’tiqadiyah.

Konsep muhkam-mutasyabihat ini jelas merupakan cerminan dari pemikiran tentang ilmu Allah. Ilmu (pengetahuan) Allah adalah mutlak, dan tidak semuanya diinformasikan kepada manusia. Maka, wahyu sebagai proses komunikasi melukiskan bagaimana yang mutlak berhubungan dengan yang nisbi, yang terbatas, yakni manusia. Oleh karenanya, informasi dari pengetahuan-mutlak ada kalanya tidak terungkap sepenuhnya oleh manusia. Ada yang rahasia, tak mudah diketahui oleh orang awam, dalam transmisi informasi wahyu tersebut.

Kita meyakini bahwa hanya Nabi SAW yang dapat memahaminya. Sehingga, kesimpulan yang paling mungkin adalah, mutasyabihat dari ayat-ayat al-Quran hanya diketahui oleh Allah sementara manusia hanya bisa mengafirmasikannya (baca: mengimaninya). Sampai disini mereka (yakni orang-orang yang tidak memperbolehkan verifikasi rasional dalam permasalahan agama) berpendapat bahwa mempersoalkannya adalah bid’ah, dengan alasan tak pernah dilakukan oleh generasi awal muslim.

Sementara itu, seperti yang ditulis Subhi as-Shalih, Abu al-Hasan al-Asy’ari berpendapat tentang bisa diketahuinya makna dan signifikasi ayat-ayat ambigu. Alasan pertamanya, kalimat “orang-orang yang mendalam ilmunya” (dalam Ali Imran: 7) bukan berkedudukan sebagai mubtada’ (subjek, pangkal pernyataan), melainkan fa’il kedua setelah Allah. Selain itu, Abu Ishak as-Syirazi menambahkan hujjah itu dengan (1) ayat itu berupa pujian atas orang-orang yang berilmu, dan oleh karena itu (2) Allah melimpahkan ilmu-rahasia-Nya kepada mereka.

Tentunya, kedua pemikir Kalam itu bersepakat tentang bisa dipahaminya ayat-ayat ambigu (samar) karena hukum-hukum ilmiah-rasional inhern di balik kode-kode informasi wahyu. Sebenarnya muassis (peletak dasar) mazhab Asy’ariyyah itu memilih jalan tengah antara signifikasi-tekstual dan signifikasi-pentakwilan dalam konteks perdebatan teologis. Signifikasi-tekstual dipegang oleh kelompok Mujassimah (antropomorfis), dimana kalimat “tangan Tuhan” memang “tangan Tuhan”, untuk menekankan bahwa Allah memiliki sifat-sifat, sebagaimana yang diinformasikan-Nya sendiri secara apa adanya, literer-tekstual.

Pandangan ini ditolak oleh Mu’tazilah, yang menafikan sifat-sifat Allah untuk menghindari pen-tajsim-an (memandang Allah sebagai yang bertubuh) atas wujud-Nya. Untuk mendukung hujahnya, Mu’tazilah menetapkan takwil atas ayat-ayat ambigu yang berpotensi mengingkari asumsi transendensi Tuhan yang tidak mungkin berwujud seperti manusia. Artinya, ayat-ayat semacam itu hanya bisa dibaca dalam kaitannya dengan aspek rasionalitas. Namun, seturut dengan prinsip “pengetahuan-mutlak vis a vis pengetahuan-nisbi”, atau “komunikasi yang bersifat rahasia” informasi itu tetap membuka kemungkinan bagi kemenduaan makna yang meniscayakan adanya kelemahan (tidak memenuhinya) potensi-rasional manusia.

Oleh karena itu, tampaknya ar-Raghib al-Asfahani mengembalikan mutasyabihat pada pengertian al-mujmal, al-muawwal, dan al-musykil dimana ia membagi mutasyabihat menjadi 3 kategori (1) informasi yang tak seorang pun mengetahui kecuali Allah (2) diketahui melalui takwil dengan metode-metode (sarana) tertentu (3) yang diketahui oleh orang-orang tertentu saja, ibnu Abbas misalnya, sebagaimana riwayat menceritakan. Dengan demikian, ini tidak saja merupakan moderasi di antara pilihan antara gagasan kemungkinan pengetahuan manusia dan ketidakmungkinannya.

Dr. Subhi as-Shalih pada bagian akhir penjelasannya mengenai persoalan dualitas muhkam-mutasyabih membawa tema tersebut pada hikmah di balik ke-mutasyabih-an (beberapa) ayat-ayat al-Qur’an. Dengan mendasarkan argumennya pada pemikiran Ibnul Labban, ia menarik suatu asumsi, bahwa keberadaan ayat-ayat ambigu itu melempangkan kemungkinan bagi potensi dinamis pengetahuan dan pemahaman manusia.

Demikianlah, perkembangan rasionalitas dan kemanusiaan umat Islam mengalami perkembangan ketika terlibat di dalam situasi pembacaan reflektif atas ayat-ayat al-Qur’an. Tanpa mutasyabihat (atau, dalam pengertian yang lain, tanpa ambiguitas) tak mungkin ada pertanyaan-jawaban yang adalah sebentuk dialog dua pihak yang eksis bersamaan dalam perjalanan waktu: al-Quran dan umat Islam, Tuhan dan umat manusia. Lantaran keberadaan mutasyabihat kita bisa senantiasa melakukan pembacaan aktif-reproduktif atas Kitab Suci, suatu pembacaan yang tak pernah habis menguakkan dimensi makna, atau dengan istilah Ali Harb: pembacaan atas apa yang tak-terbaca. Pada dasarnya, al-Quran turun untuk mengajak manusia beranjak dan tergugah untuk memikirkan apa yang sebelumnya tak terpikirkan.

Wallahu a’lamu bis Shawab
Referensi
• al-Qatthan, Manna’, Mabahits fi Ulum al-Quran, Mansyurat al-‘Ashr al-Hadits, 1973
• as-Shalih, Subhi, Mabahits fi Ulum al-Quran, Dar al-‘Ilm lil Malayin, Beirut: 1981
• Abu Zaid, Nasr Hamid, Tekstualitas al-Quran, terj. Khoiron Nahdliyin, LKiS, 2005
• Abd. Mun’im, Taib Thahir, Prof. KH., Ilmu Kalam, penerbit Widjaja Djakarta:1986
• Harb, Ali, Hermeneutika Kebenaran, terj. Sunarwoto Dema, LKiS, Yogya: 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: