Willkommen…zu meiner Website

keseharian

Posted on: Juni 15, 2008

[I]

Hujan diluar masih deras. Kaca jendela mengembun tebal, tapi tidak menyembunyikan kenyataan buruknya cuaca. Orang-orang seperti biasanya menutupi kejenuhannya dengan saling bertegur sapa, membincangkan apa yang baru saja mereka alami. Di lobi sepi fakultas itu, kami berbincang tentang kelas sosial para akademisi. Maklumlah, kami dapatkan seorang doktor filsafat baru, Dr. H. Zuhri.

Hujan mengguyur semakin deras. Aku heran, ada apa dengan langit. Saat musim mulai menginjak kemarau, hujan turun begitu saja. Seakan-akan melawan ketentuan musim. Aku berpikir, bisakah kita melawan ketentuan? Takdir! Ya…tentunya ini mustahil karena kebanyakan orang selalu membawa takdirnya kemana-mana. Dengan takdir itu, orang percaya diri, memaksa orang lain. Bahkan terhadap lidah kata-kata, mereka paksa juga. Aku menduga, Dr. Zuhri—orang yang kami simak pidato pengukuhannya sebagai doktor—pun demikian juga: ia paksa kata-kata sebombastis mungkin untuk menjawab pertanyaan para penguji.

Disertasinya berjudul cukup bombastis “Studi Islam Kontemporer dalam Perspektif Sosiologi Pengetahuan.” Kata kawan-duduk di belakangku, ujaran bombastis pidato itu seolah membuat kita takjub pada orang berperawakan kecil kurus, Dr. Zuhri, itu. Aku tergelak. Memang orang biasa menutupi kekecilannya. Aku pun demikian. Siapa yang mau hidup dengan kelemahan sendiri? Tapi kita tak boleh melihat hanya pada sisi itu untuk memahami orang lain. Coba timbang-timbanglah diri kita, seberapa kebaikannya..cukupkah mengimpasi keburukannya? Tapi, di tengah hujan deras selepas acara itu, kawan-kawanku masih berkomentar: kita punya doktor baru yang kecil dan imut!

Dengan mudah bisa dibalik komentar itu, orang-orang (berbadan) besar, hanya punya otak dan pikiran kecil. Kau ini bagaimana, badan gede tapi nalarmu kerdil. Ya. Kita ini hanya bisa membanggakan sisi yang tampak, tapi substansinya nihil. Ini masalah terbesar kita: buat apa kebesaran masa lalu, buat apa baju formil itu, buat apa label “doktor”, “gus”, “ketua ini atau itu”, kalau mentalmu miskin, otakmu bebal, hanya bisa misuh dan memaki: semua orang ingin jadi yang terdepan, padahal pikirannya terbelakang. Bukankah tak sulit menjumpai orang seperti itu?

Aku masih ingat kata-kata Dr. Zuhri di atas mimbar: kita ini diciptakan belum selesai. Memang seperti itu. Aku meyakini itu. Memang Tuhan sengaja menciptakan “setengah-matang”, karena separuhnya akan kita selesaikan dalam serentetan pengalaman…dalam waktu yang mengular-ular….dalam sejarah yang harus bergerak dan menyempurnakan-diri. Jika kita belum-belum sudah berbangga diri, dengan apa itu bisa kita lakukan? Label “gus”, label “doktor”, atau daging busuk yang membalut tulang rawan sendi-sendi ini? Kupikir ada rumus matematika baru, (manusia tak sempurna) + (bangga dengan diri sendiri) = ular jahat yang bunuh diri dengan bisanya sendiri.

Tapi sayang…”rumus matematika” itu kurasa sulit diterima orang karena segera setelah Dr. Zuhri bilang “kita ini diciptakan belum selesai,” orang-orang tertawa terbahak. Rumus tajam-lembut itu seakan mampir belaka di beranda kesadaran kita: tragis, ia mampir hanya untuk ditertawakan. Persis dengan nasibnya ketika menampakkan diri, manusia menjebaknya dengan rantai metodologi lalu dikurung dalam beragam teori…bahkan nasibnya akan lebih buruk lagi saat kita bekukan ia dalam institusi formil. Astaghfirullah al-azhiem, Gusti

[II]

Bersama kawan-kawan Mata Air Community, aku ikut burdahan. Kali ini tak seperti biasanya, setelah burdah selesai dibaca tak ada diskusi tentang Tuhan, Cinta (dengan “C” besar, tentu kamu bisa kira-kira sendiri apa maksudnya), tentang Muhammad—cahaya kemilau dan buluhperindu itu. Tak ada diskusi tasawuf.

Aku merasa ada yang janggal. Tapi masih ada canda tawa, mengobral humor, di antara kawan-kawanku. Memang tak afdlol kalau para “mantan santri” itu tak mengintrik satu sama lain. Suasana masih hangat. Tapi aku tetap merasa ada yang beda, seperti suasana yang sengaja diciptakan untuk menyiasati hilangnya sesuatu: tampaknya, seperti yang kurasa, hilangnya sesuatu itu disengaja.

Aku mengira-ngira, bahwa selama ini diskusi Tasawuf itu melenceng. Itu yang sering dibicarakan oleh kawan-kawanku. Aku sendiri masih ingat, pernah bicara setengah emosi karena pembicaraan melenceng dan tak semestinya. Pembicaraan tak pernah lahir begitu saja. Ada seorang yang memproduksi tema, semua orang disuruhnya membicarakannya—dan tentu saja, menalarnya. Seorang itulah yang sengaja di-hilang-kan!

Sudah dua gelas sirup jahe panas kuhabiskan. Saat itu, kawan-kawan mencoba menampilkan hal yang baru sama sekali. Mendiskusikan peristiwa-peristiwa aktual. Sulit bagiku menyusun sadar, sebongkah-demi-sebongkah, bahwa aku sedang terlibat, tepatnya terseret, oleh suasana sentimen. Agaknya, diskusi tentang hal-hal pahit itu sekadar untuk melupakan kebiasaan selama ini. Bagaimana aku bisa menikmati suasana itu?

Tapi memang begitulah yang seharusnya. Aku hilir mudik, pikiranku kesana-kemari, sadarku naik-turun…sampai akhirnya aku tahu bahwa aku harus menerima perubahan ini. Diskusi tasawuf ditinggalkan. Seorang penyair-sufi, yang selama ini mengguyurkan ide kesemuan dunia, hilang. Semuanya digantikan oleh silang-saling pendapat dan pandangan, seputar aktualitas.

Entah, dosa sebesar apa yang harus kami tanggung. Yang kutahu, sejak saat itu aku seperti orang yang dipaksa menanggung sekarung kebaikan-hasil-curian: suatu kesalahan yang harus dilakukan, normatifitas pahit. Sepertinya tiba-tiba sadarku berwarna abu-abu. Hitam tidak, putih pun bukan. Si Alik melirikku, tajam dan menyuruhku bicara: aku tak tahu, aku harus bicara apa?

Yang kuingat, tiba-tiba aku hilang, dengan bibir yang tak sempurna menyembunyikan ambiguitas perasaanku. “Sekarang kita tahu, semua orang hampir mengacu pada otoritas. Kita hampir selalu mentransendenkan prinsip tunggal. Dengannya, kita selalu mentahkim, menilai dan mengadili bahwa ini benar dan itu keliru. Kita lupa, bahwa alasan yang kita pakai memiliki asal-usulnya sendiri.”

Kawan-kawaku di jama’ah burdah Mata Air itu memotong dengan “lalu?” Yupz…Kita tak bisa mengikuti orang-orang yang terlibat dalam perdebatan tentang layakkah Ahmadiyah dibubarkan. Baik yang pro maupun yang kontra, sama-sama mengacu pada otoritas. Padahal, kita hidup tidak dengan otoritas. Maka, kembalikan pada sejarah…pada konteks…dus, pertanyaannya musti kita ubah: bukan “benar atau salahkah?” tapi “tepat atau kurang tepatkah?” Atau memang kebenaran itu lebih berarti ketepatan, yakni sejarah dan kontekslah penentunya, apakah ia tepat dan relevan atau tidak.

Apa relevansi persoalan “Muhammad sebagai Nabi terakhir atau bukan” jika implikasinya memperuncing konflik, sesuatu yang sangat tidak tepat untuk sejarah kita saat ini? Karena Ahmadiyah tidak bikin rusuh, tak bikin onar, maka ia tepat (sesuai) untuk hidup di Indonesia. Tahkim tidak berlaku disini, seperti tak berartinya berdebat tentang seberapa truk garam yang kita perlukan untuk mengasinkan laut.

Adakah jaminan bahwa orang yang berkomitmen dengan Muhammad SAW. sebagai nabi terakhir berkomitmen pula dengan insanawiyyah, menghormati kemanusiaan, menghargai pluralitas tanggung jawab atas keyakinan pribadi—yang adalah faktor penentu tegaknya kedamaian di tanah ini?

Masih sibuk hatiku menyesali ambiguitas perasaan, buah dari normatifitas pahit; kesalahan yang harus dilakukan, aku bilang ke kawan-kawan: peristiwa aktual kita hari ini sangat mengecewakan…(dalam/gara-gara wacana media terkait dengan pro/kontra pembekuan Ahmadiyah) seberapa banyak kesadaran orang dikonstruk untuk meyakini dalam bawah-sadar mereka bahwa yang benar adalah yang ditetapkan negara?

Aku tahu, ujaran ini tak begitu penting, tak seberapa penting dibanding siasat untuk menikmati apa yang hilang dari Burdahan. Adakah kita akan seperti ini terus, menyiasati hilangnya bagian-bagian dari diri kita, satu-persatu?

[III]

Sabtu sore, aku nggegeri kawanku untuk datang menghadiri haul di pondok Krapyak. Aku ingat sms kemarin, “Tijany, malam minggu haul pondok Krapyak.” Itu artinya sama dengan “kau ini alumni—minimal pernah mondok di—pondok Krapyak, maka datanglah!” Ya ya….aku sadar aku harus datang. Meski sms itu bermakna perintah, aku rasa memang aku harus datang. Keharusan itu sebagai pilihan, bukan keharusan yang dikarenaka ada perintah (orang lain). Begitu keharusan yang diajarkan Kant padaku. (istilahnya; Imperatif-kategoris)

Keharusan untuk hadir di acara itu, membuatku harus membujuk kawanku untuk menemani. Jahat betul aku ini, membujuk orang untuk kepentingan pribadi. Tapi karena acara ini bernuansa “ritual,” mungkin bagi kawanku bisa diartikan bahwa aku mengajaknya pada kebaikan. Kuharap memang demikian. Siapa tahu aku dapat nilai positif dari Yang-Baik karena kebaikan itu.

Entah coba atau apa, ban belakang sepeda motor bocor di pertigaan lampu merah, di jalan Mangkunegaran. Setelah ditambal (untungnya hanya beberapa langkah dari tempat ban meletus, ada tukang tambal ban), kami jalan lagi. Tibanya kami mampir ke asrama Nurus Salam dimana adik kawanku mondok disitu. Lalu ke asrama/komplek K. Ketemu aku di sana dengan kawan-kawan lama sesama alumni.

Saat tahlil dibacakan, aku selingi ngobrol dengan kawan-kawan. Kurasa ini kesalahan. Buntutnya, waktu kami turun (komplek itu bangunan baru berlantai dua berlantai keramik, tak seperti dulu waktu aku masih mondok disitu), sandal kami lenyap. Aku gak kaget, biasa…dari dulu, pondok memang kawasan masyarakat “komunis” alias “milikmu, milikku, milik kita semua.” Sandal pun bisa dipakai siapa saja, karena nantinya akan balik (tapi santri tak mau pakai istilah komunis, lebih tampak islami dengan istilah “lana wa lakum ajma’in”, paling banter dilabeli “ghoshob”—meminjam tak bilang—). Karena lama tak balik-balik sandal itu, akhirnya kami pergi dengan nelapak seperti ayam.

Aku dapat pelajaran, bahwa masyarakat komunis yang dicita-citakan Marx butuh, pertama, mental “setia menunggu” yang besar dan, kedua, kerelaan dan keberanian untuk berkorban. Kawanku misuh-misuh. Berkali-kali dia berguman pelan “bejo opo iki..?” (nasib seperti apa ini?). Maklum, dia tak pernah mengalami gimana rasanya jadi santri klutuhuk (betulan), kader “komunis” itu.

Pantas saja, aku ingat betul, kenapa ketika mondok di komplek itu aku sibuk penasaran dengan komunisme dan baca buku-buku kiri (buku peganganku waktu itu berjudul “Kenapa Masih Relevan Membaca Marx Hari Ini”).

1 Response to "keseharian"

Assalam..
dr. Zuhri is a doctor in my village.
HOPE..kenduruan become better.
thanks.!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: