Willkommen…zu meiner Website

keseharian2

Posted on: Juni 20, 2008

here is my everydayness

here is my everydayness

Sudah dua hari ini aku di kampung halaman. Bersua dengan keluarga. Setelah sekian lama aku tak pulang, rasanya mencair sudah beban rinduku pada mereka. Masih ingat aku, bagaimana setelah ujian akhir semester, masih ada urusan-urusan yang membuat rencana mudikku terkatung-katung. Terkendala dan harus aku pending sementara waktu. Memang menyebalkan, bagimu. Tapi lain soal, bagiku. Kita hidup memang untuk persoalan kok! Untuk tanggungan. Untuk tanggung jawab. Untuk tidak seenaknya saja, untuk tidak bilang “eLo, eLo..guE, guE”

Mulai dari urusan BEM, persiapan penerimaan mahasiswa baru, sampai harus menghadiri beberapa undangan dan sebagainya. Sekarang, aku bisa lega: tak ada beban yang berarti. Tapi sepertinya prediksiku meleset. Aku bersangka-sangka, jika sudah di rumah, menikmati sepotong waktu liburan, aku lepas dari beban tanggungan. Ternyata tidak!

Kemarin saat asyik browsing internet, sebuah sms masuk. Dari Najib, kawanku mahasiswa Filsafat di UGM, sms itu lalu aku baca. “Tijany, silahkan buka inbox emailmu. Ada hal penting yang perlu perhatianmu.” Ya. Lalu kubuka Yahoo-ku, dan isinya surat yang meminta tulisan di jurnal “Kacamata”, punya fakultas Filsafat UGM.

Waww!! Dengan deadline pertengahan Juli, tulisan itu harus selesai. Kupikir dan kutimbang-timbang. Ternyata memang tidak ada sampai 20 kilo! (hehehehe….). Surat itu memang hanya beberapa kilobyte (sangat kecil untuk ukuran data komputer), tapi maksudnya besar! Yang berurusan denganku tentu bukan beberapa kilobyte (KB) itu, tapi…aku harus buka-buka referensi, menghimpun data, menganalisis, mengkonstruk suatu tulisan yang bagiku terhitung ruwet temanya!

Belum genap urusan tulisan di jurnal itu, saudaraku mengajakku bergabung mengadakan event. Tak tanggung-tanggung: Festival seni-budaya generasi muda Rembang! Festival Bang-Bang, begitu saudaraku—Bisri Mustofa namanya—menyebut. Dia keponakan wakil bupati, dan tentu saja urusan proposal mudah baginya. Aku dimintanya membuatkan proposal, terkait dengan landasan pemikiran dan tujuan dari kegiatan itu. Ini berat. Aku sendiri tak yakin bisa terlibat aktif atau tidak, karena tanggal 23 Juni sudah harus berada di Jogja lagi.

Tak apa. Jika urusanku cuma membuat proposal, why not?! Yang jelas, dengan pemikiranku, aku respect dengan kegiatan seperti itu. Lagipula acara itu akan menjadi ajang kreasi dan ekspresi anak-anak muda Rembang. Jadi ketimbang vacuum tak ada kegiatan saat liburan, ada baiknya jika komunitas-komunitas, grup-grup band, kelompok-kelompok seni lainnya unjuk gigi. Dan event itulah yang akan memfasilitasinya.

Daripada tawuran…daripada terkontaminasi oleh virus-virus nalar politis (hari ini sedang gencar kampanye cagub Jateng)…daripada mlongo karena tak lulus sekolah (banyak yang seperti itu lho!), lebih baik berekspresi seni..sambil lalu menghimpun kesadaran akan apa itu transformasi budaya…

Semoga saja….waktuku mengisi liburan di rumah bermanfaat: merancang tulisan filsafat dan nyelesein proposal festival Bang-Bang. Generasi muda Rembang, bangkitlah!! Bang-Bang! (Rem-BangBang-kit!)—aku ingat, pas masih kecil diledek mas iparku (orang Lampung): Rembang Bangkit tapi kok nDeprok terus?!?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: