Willkommen…zu meiner Website

agama, sains, budaya

Posted on: Juni 22, 2008

Kemarin seorang kawan mengajakku membicarakan karakter peradaban Islam. Katanya, mengutip Nasr Hamid Abu Zayd, bahwa “..peradaban Barat adalah peradaban nalar, sedangkan peradaban Islam adalah peradaban teks…” (sayangnya, diskusi ini hanya lewat sms!) Bagi Barat, Nalar merupakan fakultas ultimate yang inhern pada manusia…segenap hukum semesta dapat hadir dalam pikiran rasional manusia melalui teori-teori formal. Sedangkan bagi Islam, teks adalah representasi dari Logos Semesta yang diwahyukan, puncaknya adalah al-Quran, yang abadi dan azali….

Kupikir kedua peradaban ini sama saja, tak ada bedanya… Nalar selalu ber-ending dalam wujud teks, demikian pula teks tak dapat dipahami tanpa nalar…dan keduanya sama-sama menanggungkan potensi resiko dari proses pemutlakan terhadap keduanya. Baik Barat maupun Islam diganjar dengan krisis yang mirip-mirip-berbeda (serupa tapi tak sama). Keduanya pun sama-sama digelapkan oleh dogmatisme (yang satu dogma sains, yang lain dogma tradisional)…Kebudayaan Barat dan Islam bertemu dalam rasa senasib dan sepenanggungan tapi tak sadar karena tak mau mendiagnosis sendiri sakitnya masing-masing.

Dulu, ketika hampir lulus dari sekolah menengah, saya membeli buku terbitan Mizan untuk keperluan menyelesaikan tugas paper. Judulnya “Juru Bicara Tuhan”, karya fisikawan dan teolog Amrik, Ian Babour. Versi Inggrisnya yang asli “When Religion meets Science”. Buku itu sangat menarik, karena didalamnya mengulas hubungan agama dan ilmu pengetahuan dalam konteks perkembangan mutakhir sains modern. Dari buku itu, saya mulai tergerak pada kajian filsafat. Tentang pengetahuan manusia, yang ada kalanya dari jalur transmisi wahyu…yang kemudian menjelma institusi agama, dan ada kalanya dari jalur pengalaman manusia (pengamatan empiris dan rasional) yang lalu mewadag dalam bentuk sains. Keduanya bersitegang di wilayah kebudayaan manusia.

Ada sketsa kasar yang saya dapatkan ketika membaca beberapa teori kebudayaan. Agaknya sketsa itu cukup bisa memberikan gambaran tentang hubungan antara sains, agama, dan pada—batas-batas tertentu—filsafat sebagai lanskap mendasar dari dunia ide/gagasan pemikiran. Bahwa baik agama maupun sains adalah dua bidang yang mendiami struktur konsepsional manusia. Agama diterapkan dalam wilayah kebudayaan (dunia manusia atau humanities—kita menyebutnya “humaniora”) melibatkan segenap potensi manusia, termasuk nalar dan pengalaman. Demikian juga sains. Garis demarkasi ditarik untuk membedakan keduanya, semakin jelas seturut dengan proses reproduksi kebudayaan. Kebudayaan perlu bereproduksi karena untuk kelanjutan eksistensinya, supaya manusia punya model tentang kehidupannya, seturut perkembangan waktu (sejarah) dan tantangannya. Bisa dikatakan; baik agama maupun sains, menyisakan jejak mendalam di balik produk-produk kebudayaan dimana keduanya hidup.

Sangat dimungkinkan, ritual agama tradisional mengandung struktur pola yang melukiskan bagaimana orang-orang jaman dahulu hidup dan berkebudayaan. Sebagaimana, karya-karya Shakespear menyimpan pola kebiasaan orang-orang sejamannya bertindak secara kultural. Demikian juga sains, dalam produk-produknya mencerminkan motif dasariah manusia yang melatarbelakangi perkembangannya sejak awal. Dengan demikian, baik sains dan agama merupakan bidang yang senantiasa berproses, tarik ulur di sekujur waktu dan ruang, tumpang tindih…bahkan saling tukar tempat dan posisi. Sains terkadang di-agama-kan, seperti juga agama pun di-teknis-kan.

Bagaimana rupa kebudayaan kita hari ini? Apakah ada konflik—atau mungkin integrasi—antara keduanya? Saya tak mau buru-buru menjawab. Kemarin kulihat orang membaca tafsir al-Quran di komputernya. Cukup mudah dan asyik. Membolak-balik, kesana kemari, membanding-bandingkan antara tafsir satu dengan tafsir lainnya. Atau ketika saya main ke pesantren Raudlatut Thalibin (yang dipimpin kiyai penyair-budayawan, Kyai Musthofa Bisri), kulihat disana para santri sedang browsing internet…mengutak-atik situs pribadinya.

Bagaimana rupa kebudayaan kita? Rupa-rupanya masih abu-abu. Tekstual bukan, rasional pun bukan….agama dan ilmu pengetahuan agaknya masih belum begitu penting dibanding selebaran kertas bernominal 100.000…. capWeEEEkkk dweEEEeehhh…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: