Willkommen…zu meiner Website

kebenaran relatif

Posted on: Juni 22, 2008

Sejauhmana kebenaran relatif (nisbi) itu? Sebuah pertanyaan yang menggelitik. Orang kebanyakan tak perlu melontarkan pertanyaan itu. Lagipula kebenaran itu buat apa? Mungkin mereka lebih nyambung dengan pengetahuan. Apakah beda antara pengetahuan dan kebenaran? Kupikir memang beda. Masing-masing memiliki levelnya sendiri-sendiri. Dan di setiap level itulah orang-orang berurusan dengan keduanya dalam pengalaman hidupnya.

Bagi seorang teknisi, pengetahuan adalah sesuatu yang dapat memudahkan persoalan…sesuatu yang dapat dipelajari di kursusan-kursusan, sekolah-sekolah, di kampus. Dari pengetahuan itulah seorang teknisi akan dapatkan keahlian. Pekerjaan mereka tak terlepas dari pengetahuan teknis, sehingga dia berpikiran bahwa nilai kebenaran pengetahuannya terletak pada sejauhmana ia terampil/piawai menyelesaikan persoalan dalam pekerjaannya.

Sebenarnya hubungan pengertian antara keduanya tergantung pada posisi kita, latar belakang kita. Pendek kata, peran kita dalam kehidupan sehari-hari. Seorang tukang batu, punya pengertian yang berbeda dengan seorang geolog, meski urusannya–suatu saat—sama-sama seputar batu. Seorang dokter punya pengertian yang beda dengan dukun, meski sama-sama menghadapi gejala penyakit yang sama. Dan hampir kesemuanya mengembalikan pemahaman mereka bahwa pengetahuan itu bersifat teknis dan itulah sebentuk pengetahuan yang benar.

Lalu orang kebanyakan tak perlu mempermasalahkannya, sekalipun itu sudah klasik dan seakan-akan alamiah. Barangkali menteknologikan pengetahuan, menarik nilai kebenaran pengetahuan dari sudut pandang teknis, memang sudah dianggap wajar. No probem! Tak banyak yang berpikiran bahwa pemaknaan atas pengetahuan seperti itu memiliki sejarah, punya asal-usulnya sendiri, baik secara sosiologis maupun antropologis. Berarti kehidupan manusia—tepatnya, aspek manusiawi—lah yang menjadi faktornya. Logisnya, kalau terjadi kesalahan, kesalahan itu bukan kesalahan alamiah sepenuhnya. Ada human error disana.

Maka ketika seseorang mengungkit isu filsafat “sejauhmana kebenaran relatif itu?”, saya lantas pasang kuda-kuda. Bukan untuk menghajar si penanya, tapi sekadar menyiapkan tangan-tangan gaib (kalau dalam gagasan “Pasar Bebas”, istilahnya “invisible hands”) untuk meraba fondasi terdasar dari pikirannya (sejauh yang bisa saya lakukan). Agaknya spekulasi saya tepat, bahwa dia mengartikan kebenaran sebagai prinsip—dengannya segenap pengalaman dan fakta-fakta partikular digeneralisirkan/disubordinatkan di bawahnya—. Asumsi ini dibangunkannya diatas konsep “orisinalitas” dan “way of life”.

Tak ada yang memungkiri bahwa kita memang memilih hidup mudah dengan mengembalikan segala masalah pada orisinalitas standart (acuan) dan disanalah kita beroleh “way of life”. Karena memang sudah sewajarnya jika acuan itu akan menjadi penentu bagaimana kita hidup…kehidupan akan lebih mulus ketika ditekniskan dengan sebentuk pengetahuan prinsipil yang ditetapkan dengan segala piranti pemikiran sebagai yang transenden (bukan relatif, historis, dan mutlak). Singkatnya, inilah asal-usul kenapa ada jalin-jejalin yang dikonstruksikan manusia di wilayah pemikiran mendasarnya sehingga kita dapati bahwa pengetahuan bersifat teknis, dan itulah kebenaran.

Maka, dengan hati-hati perlu kita jawab pertanyaan diatas dengan menekankan terlebih dahulu bahwa “kebenaran relatif bukan lantas kebenaran yang tak bisa dipertanggungjawabkan”. Kebenaran relatif bukan kebenaran yang tidak bisa mentekniskan hidup (kalau itu masih layak dilakukan). Kebenaran relatif tidak lantas sebaiknya dibuang saja karena berlawanan dengan orisinalitas prinsip (tertentu). Kebenaran relatif juga tidak lantas memotong “way of life”. Kebenaran relatif adalah…sebentuk kebenaran yang mendidik kita rendah hati dan tidak sok-sok’an.

Apakah dengan “prinsip transendental” (agama, mazhab, ilmu pengetahuan, filsafat, wordview dan semacamnya), dengan prinsip absolut, prinsip otentik….kita lantas berkewengan untuk memaksakan pola bagaimana kita hidup? Apakah dengan prinsip absolut “monoteisme”, kita berhak memaksakan pengertiannya pada hidup seorang pemeluk Hindu—yang berdewa banyak, tidak monoteis? Apakah dengan teori evolusi kita berhak, boleh-boleh saja, melarang anak kecil menyanyikan “pelangi…pelangi…ciptaan Tuhan” ….atau jika al-Quran adalah orisinalitas prinsip transendental, Islam adalah “way of life”, sebentuk kebenaran absolut, lantas umat Islam boleh menyalahkan “way of life” lain….

Kebenaran tetaplah kebenaran…bagaimana ia dimaknai sebagai pengetahuan teknis, atau dimaknai sebagai kebenaran absolut atau relatif, adalah urusan manusia. Artinya, secara sosiologis dan kultural, manusialah yang menetapkan ia absolut, ia relatif, pragmatis, teknis, eksistensial, representatif, presentatif…dan sebagainya. Dan kesemuanya memiliki asal-usulnya sendiri. Lupa akan asal-usul membuat kita buta: ketika berjalan, terbentur-bentur dan ketika marah, kita kalap—menyerang membabi buta. Itulah kenapa orang yang mengabsolutkan prinsipnya, suka menggebyah uyah, tak peduli lagi dengan orang lain, siapapun kalau keliru musti ia hajar.

Bolehlah kita tetapkan ia sebagai “way of life” karena kita tak mau sesat. Atau untuk memaknai kehidupan kita, menghidupkan alam spiritual dan religius… Kebenaran pun perlu ditekniskan karena kita ingin kemudahan hidup pada level praktisnya…. Tapi untuk sementara waktu kita perlu berhati-hati, bersikap rendah hati, sabar, tidak brutal seperti orang-orang garis keras itu, dengan merelatifkan keyakinan doktrinal kita. Inilah yang dimaksudkan oleh kalangan yang berpikiran bahwa al-Quran itu bukanlah absolut. Kekeliruan mereka terletak pada satu aspek, tapi tepat (saya tidak mau menggunakan kata “benar”) pada aspek lain.

Akhirnya, bagi saya, kebenaran relatif adalah sebentuk kebenaran yang kita tetapkan untuk menjadikan kita lebih sadar dan bisa mengambil setiap hkmah dari segala peristiwa yang mungkin terjadi…kebenaran yang menjadikan kita senantiasa belajar dan mempelajari dunia dan kehidupan…yang mengajari kita bagaimana menghormati yang lain, tidak memaksakan diri atas mereka…rendah hati di hadapan segala kemungkinan…Allah kita adalah Allah relatif, yakni Tuhan yang masih perlu kita kenali lebih jauh lagi…

Wallahu a’lamu bis Shawab….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: