Willkommen…zu meiner Website

(bukan filsafat) tentang kematian

Posted on: Juli 4, 2008

oh, no....!!help me...

oh, no....!!help me...

Ada kudengar seseorang bilang: “kematian? Lupakan itu, kawan! buat apa kau tanyakan itu?” Yang jelas kita tahu bahwa kita semua takkan selamat darinya. Semua orang akan mati. cepat atau lambat. Dan seberapa sering telinga kita dengar kata “kematian”, tak terhitung lagi, bukan? Lihat dan seksamakan berita di TV-mu….bukankah mati tak ubahnya makanan kecil yang tergeletak tak tersentuh di meja ruang tamumu? ya! dari berita-berita kriminal yang berjejalan itu, mati dan kematian hal kecil yang seringkali melintas begitu saja. Kita tak sedikitpun menaruh perhatian padanya selain “oh, si anu mati!” Dengan berita tentang kematian itu, kita disuruh untuk tak perlu heran. Tak perlu kagum. Tak perlu bergidik dan khawatir: mati adalah lumrah, selumrah kentang goreng yang sekejap habis disantap.

Jika kita mendengar ada tetangga kita meninggal, kita hanya berseru “inna lillahi…dst!” Lalu kita segera berpakaian gelap dan melayat. Menemui keluarga duka dan menyampaikan kepada mereka: “aku ikut berduka cita.” Kalau keluarga itu cukup dekat, kita memerlukan diri untuk ikut mengantar ke pekuburan. Sambil tak lupa kita bawa serta kacamata gelap dan payung karena cuaca begitu panas. Atau suatu kali kita melintas di jalan, ada terlihat bendera kuning–yang tentunya bukan bendera parpol mapan–dan orang-orang berkerumun layaknya pesta pernikahan: terlihat akrab mengobrol bahkan bersenda-tawa. “Oh, ada yang meninggal.”

Mati bukan teka-teki besar. Banyak di antara kita, karena malas menyadari kematian, lalu menganggap mati sebagai fenomena alamiah belaka. Atau dengan bermain logika “Paijo mati. Parjo juga mati. Paijo dan Parjo adalah manusia. So, manusia bakal mati.” Dengan mudah kita bisa berlogika. Enteng. Tak sulit dan alur itu seperti hambar tanpa rasa apa-apa. Memahami mati dengan logika pun menjadikan mati bukan teka-teki besar. Mati dan kematian seakan telah kehilangan nilainya untuk layak ditempatkan di dalam benak pikiran dan ceruk kesadaran. Mati bukan bagian dari sisi manusiawi dari diri kita.

Itulah kenapa seringkali kita dengan mudahnya menggunakan pengertian “mati” sebagai antonim dari “hidup.” Kematian kebalikan dari kehidupan. Benda mati berarti tak punya kehidupan. Dengan kata lain, kita kehabisan cara untuk tidak mendefinisikan kematian sebagai kebalikan dari kehidupan. Inilah kelemahan kita. Karena buat apa definisi yang seperti itu? Apa itu menulis? menulis adalah aktifitas yang bukan membaca. Definisi—begitu juga pengertian dan pemahaman—yang berbentuk seperti itu merupakan cermin dari tiadanya kreatifitas berpikir kita.

Kita–atau mungkin saya sendiri–hampir selalu mengartikan kematian sebagai ujung dari kehidupan. Jika waktu adalah absolut, dimana seluruh urutan pengalaman kita terajut di sekujur lintasannya, maka kematian merupakan urutan terakhir dari pengalaman hidup. Dengan demikian, jika kita sekarang hidup maka mati adalah nanti. Jika nanti adalah bukan sekarang, buat apa kita memikirkan sesuatu yang belum terjadi? Inilah jalan pikir yang senantiasa membelenggu eksistensi. Karena tidak memberikan keleluasaan untuk beranjak dari kekinian dan kedisinian.

Memahami kematian dengan alur pemikiran seperti ini, tentunya membuat kematian itu semakin terlihat ironis. Sesuatu yang jauh dari mata, yang bisa mendatangi dengan tiba-tiba, tapi kita sendiri tak kunjung menginsyafi betapa kehidupan ini rentan! Apakah tidak sebaiknya kita memahami kematian dan kehidupan sebagai sesuatu yang bisa saja hadir bersamaan: bahwa sekarang ini kita sedang hidup dan sedang mati sekaligus. Nabi SAW. berkata “manusia itu sedang terlelap. Ketika mereka mati, mereka bangun.” atau kematian lebih mirip gelap senja yang indah namun mencekam…menyembunyikan sesuatu yang misterius tapi tak terjawab?

1 Response to "(bukan filsafat) tentang kematian"

tidjani saya kira saat ini yang ditakuti manusia bukan masalah mati, tapi masalah hidup :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: