Willkommen…zu meiner Website

Sophos within Transformers

Posted on: Juli 8, 2008

“d3_optimuz” adalah salah satu—dari 4 buah—nickname-ku di mig33. Waktu aku GC-an bersama saudara-saudaraku, aku di-intrik “optimuz? Optimuz prime? Dia ‘kan robot kalahan di film Transformers?” Lho? Bukannya dia itu jagoannya? Buktinya, Megatron kalah di tangannya. Sedetik kemudian aku teringat dengan film aksi tentang robot-robot: ada dua pihak robot yang saling memperebutkan Cube. Tentu saja, seperti film-film lainnya, ada jagoannya dan ada musuhnya.

Kubu Autobots, sebagai jagoannya, dipimpin oleh Optimuz Prime. Sedangkan kubu Decepticons, kubu yang jahat itu, dipimpin oleh Megatron. Diceritakan bahwa Cube, yang jadi rebutan antara dua kubu itu, merupakan benda kosmik yang menyimpan energi murni semesta. Radiasinya bahkan bisa menjadikan mesin-mesin bumi hidup dan berkekuatan luar biasa. Syahdan, ketika Cube jatuh ke bumi, Megatron memburunya. Tapi karena mendarat tragis di kutub es, ia membeku dan mangkrak.

Baru setelah diketemukan secara tak sengaja, ia lalu diangkut dan di-chryostasis (dibekukan) oleh pemerintah Amerika Serikat (maklum! Film ini produk Amerika). Para pengikut Megatron lalu berusaha mencari pemimpinnya. Berbarengan dengan itu, kubu autobots mendengar kabar bahwa Cube ada di bumi, sementara Decepticons dan Megatron hampir akan mendapatkannya. Maka, karena didorong oleh keinginan supaya tidak terjadi perang dahsyat dan penghancuran di bumi oleh Megatron (dengan kekuatan cube itu), Autobots turun ke bumi.

Misi para Autobots dimaksudkan untuk menyelamatkan manusia sedunia: jika Autobots gagal, maka musnahlah penduduk bumi, atau—setidaknya—mereka menjadi budak para aliens robot jahat, Decepticons. Perang besar antara 5 robot Autobots dan Decepticons, dengan jumlah yang sama, pun terjadi. Beruntungnya, karena ini meyangkut manusia juga, dan masa depannya, militer Amerika pun nyemplung juga ke medan pertempuran untuk membantu Autobots.

Film ini penuh adegan-adegan spektakuler dan mengagumkan. Baik aksi (pertempuran)nya, adegannya, teknologi pembuatan film, sains fisika dan—tentu saja, yang membuatku terpana, film ini tebal dengan nuansa pemikiran filsafat: tentang kebebasan manusia, pengorbanan, kebaikan universal, moralitas, Humanisme, bahkan ketuhanan! Suatu ketika, di sepotong adegan filmnya, Ironhead (salah satu Autobots) mempertanyakan kenapa mereka harus berkorban. Optimus Prime bilang, “(karena) tak ada pengorbanan, tak ada kemenangan.”

Jika dirunut lebih mendasar lagi, kesediaan Autobots untuk rela berkorban demi manusia adalah karena mereka lebih maju dan kompleks. Berkali-kali (tepatnya, sejauh yang kutahu: 2 kali), Optimus Prime mengingatkan bahwa Autobots memiliki kesadaran bebas: membela kemaslahatan manusia adalah pilihan bebas, sesuatu yang di dalam filsafat Humanisme menjadi kriteria dari kebaikan universal.
Jika mereka tidak bebas melakukan kebaikan, tentunya tindakannya itu tak bisa dikatakan sebagai baik.

Karena tingkat kemajuan evolutif Autobots lebih tinggi daripada ras manusia, merekalah yang bertanggung jawab untuk menghindarkan bumi dari kejahatan kosmik berupa ”penyalahgunaan Cube oleh Decepticons.” Sederhananya, semakin ”canggih” kita, semakin bertanggung jawab kita atas terhindarinya hal-hal yang tak baik: kejahatan, keburukan, kerusakan, dan semacamnya.

Agaknya saya tidak perlu mengulang-ulang untuk menyatakan bahwa manusia—sebagai makhluk yang paling bertanggung jawab—harus menghindari kerusakan yang akan menghancurkan semua makhluk di bumi. Selain karena dorongan etis itu sudah berkali-kali diteriakkan (tapi tampaknya selalu diacuhkan). Toh semua orang sudah tahu itu. Tapi, bahkan dalam kasus pengalaman saya sendiri, mungkin—pengetahuan tak selamanya menjadikan kesadaran kita tergerak.

Yang parah adalah sudah bodoh (tak berpengetahuan), tak sadar pula! Terkait ini, ada kata-kata bijak Optimus Prime sangat menyentuh: (ras manusia tak boleh punah karena) mereka ras primitif dan kasar. Mereka spesies muda yang masih harus belajar banyak. Tapi aku lihat ada kebaikan dalam diri mereka.” Tentunya jika Optimus Prime itu kita, proposisinya akan lain ”ras anu jangan dibunuh…kelompok mereka jangan didiskriminasi…yang minoritas jangan dimusuhi karena mereka, bagaimana pun juga, masih harus punya kesempatan untuk mengembangkan diri, menjadi lebih baik di mata kita.”

Sebenarnya kisah ini sudah ada sejak tahun 80-an. Tapi kemudian diperbarui oleh sutradara (juga produser) top Michael Bay pada tahun 2007. Film-film garapannya selalu menarik apresiasi tinggi dari para pecinta movie sedunia. Sebut saja Armageddon, The Rock, Pearl Harbor, dan Bad Boys. Film ini termasuk kategori science-fiction, yaitu suatu karya fiktif yang sifatnya ilmiah, menyesuaikan dengan perkembangan sains.

Ada buku bagus yang ditulis seorang dosen filsafat Universitas Exeter Inggris Mark Rowland (setahuku dia sentimen banget ‘ma Friedrich Nietzsche), “Menikmati Filsafat Melalui Film Science-Fiction.” Buku terbitan Mizan (2004) itu mengulas filsafat di balik film-film terkenal (Frankenstein, The Matrix, Terminator, Minority Report, dll). Tapi karena ia menulis buku itu pada 2003, Transformers tidak tercantum di buku itu.

1 Response to "Sophos within Transformers"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: