Willkommen…zu meiner Website

once again about the Death

Posted on: Juli 14, 2008

Tidak ada hal yang paling kita kenal selain kematian. Juga tidak ada hal lain yang lebih misterius selain kematian. Kita semua mengetahui tentang adanya kematian: ia mengintai kita, dan ia senantiasa membayangi langkah kita kemana dan kapanpun kita berada. Tapi sampai detik ini ia masih merupakan rahasia terbesar umat manusia. Ia membuat segala dunia ciptaan kita tercerai-berai. Segala mimpi dan harapan, kesenangan dan kebahagiaan, terpisah dan musnah seturut ia datang.

Diceritakan oleh al-Ghazali, teolog Islam terbesar, bahwa Nabi (semoga damai dan sejahtera menyertainya) pernah berjalan dan melewati sekerumunan orang yang bergurau dan tertawa terbahak-bahak. Dia berhenti dan menegur: ”hendaknya kalian sempatkan untuk membicarakan si perusak kesenangan.” Lantas ditanyakan, siapa itu si perusak kesenangan? Nabi menjawab: ”kematian.” (Ihya Ulum ad-Din, b. Dzikrul Maut wa Ma Ba’dah) Disinilah relevansi dari pentingnya menguak dan mengkaji kematian dari sudut pandang kita, manusia.

Dalam sudut pandang manusia, terutama dalam teropongan Antroposentrisme, kematian merupakan kebalikan dari kehidupan. Kematian menjadi sesuatu yang diluar kemampuan manusia untuk mengontrolnya. Jika kehidupan merupakan keseluruhan dari pengalaman manusiawi di sekujur waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan, kita bisa meropongan tema ini melalui konsep humanis lebenswelt.”

Disini–mungkin dimana-mana–, kita selalu melontarkan terlebih dahulu pertanyaan aksiologis: bagaimana kita menilai baik-buruknya kematian? Maksudnya, bagaimana kita mendapatkan pemahaman bahwa kematian itu buruk (atau, sebaliknya, baik)? Pada diskursus konvensional, kematian dianggap sesuatu yang tidak dikehendaki atau dinilai sebagai buruk. Sayangnya, penilaian itu dilakukan begitu saja tanpa memiliki landasan argumentatif, lebih-lebih filosofis.

Oleh sebab itu, kita memerlukan penjelasan kenapa kehidupan itu dikatakan baik. Kematian merupakan akhir kehidupan. Hanya penjelasan itu yang bisa menyediakan celah untuk melihat bahwa kematian merupakan suatu hal buruk. Jika kita mati, maka kehidupan kita berakhir. Dengan demikian, berakhir juga kesadaran kita atas segala sesuatu.

Harapan dan mimpi, juga keinginan dan hasrat, yang menjadi momen eksistensial kita saat kini pun kehilangan tempat berpijak. Kematian menjadikan kesemuanya itu lenyap. Inilah hal penting untuk menilai bahwa kematian melenyapkan harapan dan mimpi kita tentang ketercapaiannya di masa depan. Padahal manusia tidak bisa dipisahkan dari kedua hal tersebut.

Seringkali dikatakan bahwa kita boleh kehilangan segalanya, bahkan termasuk ruh, asalkan tidak kehilangan harapan. Harapan tidaklah sekadar suatu kondisi dan ekspresi dari ketaktercukupan diri kita pada masa kini. Harapan mencerminkan kecenderungan pada kemungkinan lain dari kondisi diri pada masa kini. Pada tataran yang paling pribadi, harapan mengakumulasikan seluruh pengalaman masa lalu dan masa kini pada masa depan. Ibarat seberkas sinar, kondisi harapan mengarahkan pada sudut-sudut gelap di depannya.

Saat kematian tiba, harapan menjadi padam sama sekali. Jika diandaikan kesadaran kita masih eksis, padamnya itu menjadi begitu mengecewakan karena hampir tak ada lagi masa depan yang akan mewadahi segala kemungkinan dari mengada-nya kita. Ruh menjadi kehilangan kemungkinannya ketika berhadapan dengan kematian eksistensial. Mengapa? Karena kematian melenyapkan kemungkinan yang pada dasarnya tersedia secara berlimpah ruah oleh aspek kemewaktuan kita dalam masa lalu, kini, dan—tentu saja—masa depan.

Kematian merugikan karena mencegah terjadinya sejumlah kemungkinan dari si mati. Mark Rowlands mengilustrasikan kematian sebagai kejadian perampasan masa depan. Tetapi ada persoalan serius yang bisa diajukan: bagaimana masa depan itu dikatakan ”dirampas” jika kita tidak benar-benar memilikinya? Bagaimana mungkin masa depan itu milik kita jika ia tidak jelas, ia belum terjadi, dan tak memiliki wujud? Menjawab pertanyaan ini, dia menjelaskan ada 2 pengertian masa depan.

Pertama, masa depan kuat atau konseptual dan, kedua, masa depan lemah atau non-konseptual. Konseptual artinya tergambar jelas di dalam mental dan pikiran sehingga apa yang kita lakukan saat ini merupakan upaya untuk mendekati masa depan konseptual. Berbeda dengan masa depan non-konseptual, yang tingkat pengaruhnya atas perilaku dan tindakan kita saat ini sangat rendah. Itulah sebentuk (harapan) masa depan yang tidak cukup kuat mempengaruhi pola laku kita di masa kini.( Mark Rowlands, Kematian dan Makna Kehidupan, 2004, h. 219)

Misalnya, kita memutuskan untuk tidak menambah sebatang rokok yang akan kita hisap. Jika keputusan itu tidak ada kaitannya dengan masa depan kita sekiranya terhindar dari penyakit paru-paru, melainkan hanya karena—katakanlah—malas atau sedang tidak mood, maka tidak ada harapan yang tergambar jelas secara konseptual dalam pikiran kita tentang masa depan. Dalam pengertian ini, adalah benar mengatakan kita tidak benar-benar memiliki konsep masa depan dimana terhindarinya penyakit paru-paru itu menjadi mungkin.

Sebaliknya, masa depan konseptual sebagai sesuatu yang tergambar jelas di dalam pikiran kita mengandung arti ada harapan yang harus terwujud. Untuk mewujudkannya kita perlu mengarahkan perhatian dan kesadaran padanya. Untuk itu, tindakan-tindakan yang kita putuskan pada masa kini akan menjadikan harapan itu semakin mungkin diwujudkan.

Disinilah konteks yang tepat untuk mengatakan kematian itu buruk karena merampas kemungkinan terwujudnya harapan. Dengan kata lain, pengorbanan kita dalam bertindak dan memutuskan segala sesuatu di masa kini menjadi sia-sia karena kematian mengakibatkan masa depan lenyap begitu saja. Kematian adalah hujan deras ketiadaan: ia menjadikan air mata pengobanan tampak sia-sia, seperti hujan deras yang menyapu air mata kita.

Tapi bukankah karena kematian, kehidupan menjadi begitu bernilai dan bermakna? Dengan logika oposisi biner ini, kita lantas menemukan kemungkinan untuk mempertanyakan dari sisi mana kematian merupakan sesuatu yang baik atau—katakanlah—anugerah terindah bagi sementara orang? Pada situasi dan konteks paradigmatif apa yang menampakkan sisi kebaikan dari kematian?

Inilah yang perlu kita kaji lebih dalam karena bahkan Nabi SAW. mengatakan ”bagi orang yang beriman, kematian adalah hadiah terbesar yang paling berharga.”

2 Tanggapan to "once again about the Death"

Wah..wah…mas, merinding ak baca tulisanmu..

hati hati, jangan sangkutkan kematian dengan keimanan.
keduanya sama sama jahat.
kemarin malam, kematian merampas tidur ku yang indah.
sedang keimanan merampas imajinasiku dimasa kacil.

rifqi_M, masih suka melihat bulan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: