Willkommen…zu meiner Website

sekolah lagi…mencandu lagi…

Posted on: Juli 17, 2008

buat mj_kymous

Siapapun tak akan mengingkari bahwa sekolah adalah lembaga pengetahuan, tempat transmisi segala macam ketrampilan, tempat regenerasi pelaku-pelaku peradaban, dan—terlebih lagi—merupakan basis pembentukan karakter manusia: sebuah lembaga yang melempangkan jalan bagi penanaman tata etika moral dan intelektual kognitif. Karena memang sudah menjadi anggapan umum, bahwa pengetahuan tidak bisa dimonopoli oleh hanya segelintir orang. Sekolah adalah wujud, representasi, yang mencerminkan pandangan bahwa pengetahuan adalah hak semua anggota masyarakat, publik, dan warga negara.

Asumsi ini telah diterima sejak dulu, ketika dalam kebudayaan Barat istilah ”school” (sekolah) menjadi padanan untuk istilah kebudayaan Arab ”mazhab” (jalan). Apa hubungan dan relevansinya, antara kedua pengertian yang tampaknya berbeda jauh itu? Relevansinya adalah bahwa sekolah menyediakan jalan bagi transformasi kebudayaan secara makro, dengan membentuk sejak dini generasi etis dan kognitif sekaligus. Tapi sayang, fakta menunjukkan bahwa orang bisa saja pintar, intelektual, jenius tapi kelakuannya culas dan—tentu saja—tak etis.

Jerman pasca PD (Perang Dunia) II, ada sekelompok pemikir yang mengusung transformasi budaya dan menamakan diri dengan ”Mazhab Frankfurt” (Frankfurt School). Yang tak boleh dilupakan adalah mereka mengkritik dominasi ilmu-ilmu eksakta teknologis atas ilmu-ilmu humaniora, seperti sastra, filsafat, fenomenologi budaya, dsb. Bagi mereka, pengetahuan humaniora lebih layak ditempatkan sebagai pengawal kebudayaan Jerman, daripada ilmu-ilmu teknis. Ini mensinyalir suatu gagasan bahwa menjadi berbudaya dan beradab (berkebudayaan dan berperadaban) itu tidak bisa ditinggalkan hanya karena kemajuan teknologi Jerman sudah—katakanlah, sundhul langit.

Puncaknya adalah ketika pemikir brilian dari Frankfut School, Jurgen Habermas, mempopulerkan teori komunikasi bebas-dominasi. Bahwa segala macam kebijakan publik hanya bisa ditetapkan secara terbuka, tidak melulu oleh pemegang lembaga, melainkan semua partisipan yang terlibat di dalam arus publik itu bisa mengkomunikasikan ide/aspirasinya. Sederhananya, pengetahuan tidak mengenal standart acuan tunggal sehingga kebijakan publik dapat ditetapkan secara terbuka, di dalam masyarakat paling majemuk sekalipun.

Dalam iklim kebudayaan Indonesia, tentunya gagasan tentang komunikasi bebas-dominasi Jurgen Habermas memiliki relevansinya. Bahwa sekarang ini, arus komunikasi budaya telah didominasi oleh kekuatan tunggal pasar: modernitas gaya hidup hanya dikuasai oleh satu bentuk mode. Bisa dibayangkan, bagaimana budaya lokal kehilangan eksistensinya dihadapkan pada gaya punk atau destro, atau anak-anak muda berbondong-bondong berkiblat pada MTV, atau—dalam politik—masyarakat dijejali oleh ide-ide hegemonik mengenai pembangunan, demokrasi, dan sebagainya. Mereka hanya dijejali, tapi signifikansi dan maknanya tak dimengerti. Arusnyanya adalah ikut-ikutan doang.

Tentunya kita tidak sedang merasa kecewa dengan arus seperti itu. Tapi setidaknya kita bisa mencoba membuka mata dan menyadari bahwa hampir semua lembaga memposisikan warganya semata-mata sebagai yang bertanggung jawab, sedangkan hak-hak mereka bisa jadi lebih banyak disembunyikan. Di lingkungan sekolah kita, hampir tak ada keterbukaan informasi mengenai keluar-masuknya anggaran pendidikan itu.

Bahwa tidak ada rembukan-rembukan yang perlu dikomunikasikan antara murid dan guru, juga orang tua, dan masyarakat terkait dengan perubahan kurikulum, misalnya. Atau kenapa UAN diselenggarakan seperti itu, tak adakah solusi lain sekiranya kecurangan-kecurangan menjadi minim, apakah UAN tak bisa dikritisi lebih jauh, dan sebagainya. Tentunya, komunikasi bebas-dominasi antara warga lembaga (masyarakat, anak didik) dan pemegang kebijakan (guru, Depdiknas, Negara) menjadi sesuatu yang perlu kita tegaskan kembali.

Tampaknya sekolah sudah kehilangan spirit untuk mendidik manusia-manusia beradab, karena silau dan mengejar orientasi pada sisi kognitif dan teoretis dari ilmu-ilmu teknis-eksak. Dan ini yang perlu kita sadari sehingga kita bisa mengupayakan jalan keluarnya. Saya perlu menanyakan, adakah di sekolah kita tradisi tahunan untuk lomba penulisan sastra, misalnya? Adakah sehari saja—dalam setahun—sekolah kita mempersilahkan anak didik untuk menggunakan/menghargai pakaian daerah—tidak hanya kebaya saat hari Kartini? Atau pernahkah di sekolah kita diajarkan filsafat, dimana kita diajarkan berpikir bebas, seperti di Perancis yang siswa sekolah menengahnya tak asing dengan filsafat?

Agaknya kitalah yang dikatakan bangsa tanpa kebudayaan, karena bahkan di sekolah menengah kita tak ada mata pelajaran tentang filsafat kebudayaan Indonesia, seperti kita mengenal filsafat Jerman atau Perancis. Benar, bahwa inilah kondisi sekolah kita, sebagaimana buku yang kemarin saya jumpai berjudul ”Sekolah itu Candu?” Mari kita benahi sekolah kita dan kembalikan ia pada spirit dari maknanya dulu, ”school” dan ”mazhab” supaya tidak hanya menjadi candu bagi generasi mendatang.

4 Tanggapan to "sekolah lagi…mencandu lagi…"

kl candu,knp bs pinter2 yah? apa kategori pinter itu tak selamanya baik? or sekolah itu netral tak kenal “baik” dan “buruk”?

yang jelas fungsi sekolah itu:
1. Menyediakan babi-babi yang siap digiling di mesin penggilingan kapitalisme – Global
2. Sebagai ajang menaikkan prestise sosial.

selain itu apa???

tapi kenapa kita kok mau2nya tetep nglanjutin kuliah ya?? klo aku sihh ijazah itu lebih penting .. lumayan buat modal cari calon mertua hahaha

soal Distro, ada even nasional distro: KICKFEST. Even ini juga didukung Dept. Industri. Kekuatan bisnis ini bagus loh mas.. efek positifnya mendorong anak2 muda makin kreatif dan berani berwirausaha.

Di ujungberung bandung, anak2 mudanya terkenal dengan usaha clothing yang cukup menonjol. Daya serap tenaga kerjanya juga bagus.

jadi saya pikir, MTV dan distro silahkan saja masuk, dan nggak bisa selamanya dianggap melemahkan budaya lokal.

toh budaya lokal tidak berkembang dan cenderung ditinggalin karna kesadaran masyarakat dan pemerintah juga kok. kalo dipatenkan negara lain, baru heboh dan nggak terima.

hehe..

thanks atas kritik’na…iya sih…smwa ada (+) dan (-) nya…qt perlu tahu (-)nya untuk antisipasi…bukankah menghindari efek buruk lbh didahulukan ketimbang mengejar efek baik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: