Willkommen…zu meiner Website

buat komunitas “penjaskes” (penjahat kesenian)

Posted on: Juli 29, 2008

Kesadaran: Seberapa Pentingkah?

geist...what's up?

geist...what's up?

Sadar atau kesadaran. Suatu yang aneh untuk kita bicarakan saat ini. Bayangkan saja: kita bangun tidur, menyesap kopi pagi sambil membaca koran. Lalu bersiap pergi ke kantor, ke pasar, ke sawah, atau ke kampus. Semuanya kita lakukan begitu saja. Karena menjadi rutinitas, kita mengalaminya sebagai kebiasaan. Saat itulah ”sadar” menjadi aneh dibicarakan. Buat apa? Toh sadar adalah suatu kondisi, suatu momen ketika kita melakukan segala hal. Selama kita melakukan segalanya, kesadaran kita sudah ada dari sononya.

Sadar diartikan sebagai kondisi. Kondisi yang sedang kita alami. Pengalaman menjadi berarti karena kesadaran. Mungkin segera terbersit di benak bahwa kesadaran adalah akar pengalaman: tanpa kesadaran, pengalaman takkan berarti. Memang seperti itu. Adakah yang lebih mendasar dibanding kesadaran? Ungkapan ”pengalaman adalah guru terbaik” mengisyaratkan bahwa pengalaman itu sudah bersifat fundamental. Ternyata ada yang lebih mendasar dibandingkan pengalaman, yaitu kesadaran.

Karena akar-akar pengalaman adalah kesadaran, kita bisa bertanya lebih lanjut: apa akar-akar kesadaran? Pertanyaan ini bersifat membuka, atau men-disclosure, eksistensi manusia. Tema ini tentunya menghabiskan waktu untuk diperbincangkan. Apa pentingnya sih? Tapi tunggu dulu. Mengalihkan perhatian dari hakikat eksistensi manusia membuat kita kehilangan makna dari seluruh aktifitas kita dalam keseharian. Ya, apa akar-akar dari kesadaran manusia?

Anggapan umum mengartikan kesadaran sebagai kondisi ”keterjagaan”. Menyadari ada segelas teh di depan kita berarti bahwa kita tidak sedang dalam kondisi tidur ketika itu. Dengan kata lain: tidak dapat dinafikan, tidak dapat dipungkiri bahwa ada segelas teh yang hadir di depan-ku. ”Ku” disitu memiliki posisi, tempat, atau spasialitas yang memungkinkan gelas dapat menampakkan diri. Tak mungkin segelas teh di Jogja nampak bagi ”Aku” di Jakarta. Oleh karena itu, kesadaran terkait dengan posisi. Posisi adalah aspek kedua dari kesadaran (aspek pertama adalah keterjagaan).

Tentunya tidak serta merta disimpulkan bahwa akar-akar kesadaran adalah keterjagaan dan posisi. Ada hal-hal lain yang perlu disingkap, yakni apa itu posisi? Aku sadar (akan sesuatu) sebagai ”……” Titik-titik di antara tanda petik itu menunjukkan atribut atau peran keseharian kita. Aku sadar (tentang sesuatu) sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang petani, sebagai seorang pedagang, sebagai seorang pegawai, sebagai seorang anggota legislatif dan seterusnya. Posisi bukan sesuatu yang transendental, yang terlepas dari suatu matriks atau terlepas dari suatu cakupan tertentu. Ini yang perlu kita tekankan. Mengapa?

Dengan menyatakan ”posisi” sesuatu berarti kita menegaskan ”titik koordinat” atau spasialitas sesuatu tersebut. Sederhananya, akar-akar posisi adalah spasialitas (kemeruangan) dari segala sesuatu. Kesadaran seorang pedagang akan dagangannya adalah kesadaran yang berada-dalam spasialitas tertentu, yakni dunia dagang-berdagang. Bisa dikatakan, kesadaran tidak pernah bersifat transendental, independen, berdiri sendiri. Kesadaran selalu berwujud kesadaran-akan-sesuatu.

Ya, kesadaran selalu berada dalam posisi, masuk dalam cakupan dunia tertentu. Ini artinya bahwa sadar berarti terlibat di dalam sesuatu. Akar-akar kesadaran adalah keberadaan kita yang senantiasa ada-di-dalam-dunia: dunia kampus, dunia dagang-berdagang, dunia-pertanian, dunia-politik, dunia-sosial, dunia-kebudayaan dan seterusnya sampai yang paling tinggi levelnya. Jika kesadaran dalam pengertian ini adalah basis eksistensial dari manusia, maka semua kegiatan manusiawi seperti berpikir, mencintai, merasakan, mendeskripsikan, mengilustrasikan, mengurai masalah dan seterusnya adalah buah dari kesadaran: semuanya dimungkinkan oleh fakta bahwa kita sedang ”terjaga” di-dalam-dunia.

Secara praktis dalam kehidupan kita sehari-hari, ada persoalan serius yang diakibatkan oleh tidak meruangnya kesadaran kita. Tampaknya benar jika dikatakan, kita tercerabut dari dunia kita sendiri. Tidak saja dalam dunia eksternal, melainkan juga—dan ini yang lebih penting—dunia internal yang paling personal. Tercerabut, atau dalam bahasa Marxis: teralienasi, itu memungkinkan hilangnya pertimbangan-pertimbangan jangka panjang untuk mengindahkan dunia yang kita alami.

Itulah kenapa kita seringkali memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hal-hal negatif dengan alasan ”kesempatan telah mengijinkan”. Contohnya, korupsi, ia dilakukan karena ”ada kesempatan” setelah sekian lama kita hidup di suatu dunia yang nihil kesempatan untuk mengkorupsi.

Maraknya kasus kriminal, dari pemerkosaan sampai pembunuhan berantai, akar-akarnya dapat dikuak bahwa kita telah tercerabut dari dunia sebagai spasialitas ke-”terjaga”-an kita. Seorang pelaku kejahatan, atau yang menurut kita buruk, bisa jadi ia ”dipaksa” untuk terasing, terpenjara dalam masa lalu yang kelam: dibenamkan dalam dendam lama. Hal ini diperparah oleh modus kesadaran yang bukannya ada-dalam-dunia, melainkan kesadaran di hadapan dunia, vis a vis the world. Seperti pertandingan tinju: A versus B, harus ada peng-KO dan yang di-KO.

Imbasnya adalah segala hal yang kita temui layak diobjektifikasikan, dijadikan objek, dan oleh karena itu absah dieksploitasi dan direkayasa. Akhirnya relasi manusiawi antara orang perseorangan, antara individu dan lembaga, antara publik dan negara adalah relasi saling menundukkan, saling meng-KO. Kesadaran kita seakan-akan hanya dinilai dari sejauhmana ia menopang kekuatan untuk merobohkan sesuatu, mewujudkan kehendak atau—dalam istilah positifnya—idealisme.

Memang sepertinya ’harus’ seperti itu. Sayangnya, keharusan itu lebih dimuati konsepsi-konsepsi yang dijejalkan, bukannya konsepsi-konsepsi yang lahir dari proses-proses sadar. Lebih ironis lagi jika yang dijejalkan itu, atau yang tak-sadar itu, dijadikan pertimbangan untuk menundukkan dunia: sesuatu yang menjadi akar persoalan kenapa kesadaran disalahmengertikan sebagai basis fundamental untuk meraup keuntungan dan sarat kepentingan.

Seberapa pentingkah kesadaran? Sejauh keistimewaan manusia sebagai makhluk yang memaknai dunia: manusia bukan hewan, yang menerkam sesama demi makan, karena hewan tak punya dunia untuk ia maknai. Allah a’lamu bis Shawab

4 Tanggapan to "buat komunitas “penjaskes” (penjahat kesenian)"

Kesadaran, ruang, dan pengalaman.

ketiganya sangat identik dengan istilah “filsafat fenomenologi”.

Kesadaran tidak diartikan sebagai “ruh”. dalam Dualisme Cartesian, kesadaran “ada” dan dinamakan “aku”. aku selalu berhadapan dengan obyek. “aku”yang sadar berdiri sendiri (bereksistensi) dan realitas luar juga berdiri sendiri, dimana “aku”selalu berhadapan dengannya. Dalam posisi ini ada posisi biner antara “ruh”/aku / eksisten dan obyek.

dalam fenomenologi “aku” tidak berdiri sendiri. Ia merupakan sesuatu yang selalu mengarahkan diri ke luar. sehingga “kesadaran” bukan keyword untuk memahami fenomenologi. yang menjadi keyword dalam memahami fenomenologi adalah “dunia pengalaman”. “Aku” selalu terkait dengan pengetahuan, pengalaman, persepsi dll. Kesadaran bukan ruh yang darinya “aku” dapat mengemudikan kemana tubuh dapat mengemudikannya. tetapi “aku” adalah totalitas pengalamanku yang bergerak dalam duniaku, dimana duniaku terkait dengan ruang di sekitarku sejauh aku mengalaminya ( horison )

duniaku adalah bagaimana aku mengalami ruang dimana aku yang aktif dan hadir didalamnya. karena disebut sebagai bagaimana aku mengalami, maka hanya manusia yang bereksistensi. dunia hewan tidak bereksistensi, ia tidak aktif dalam mengalami dunia karena ia digerakkan oleh instingnya. aktif bukan berbeda dengan gerak. aktif merupakan suatu yang sadar, memahami, menghayati, mengetahui, memilih, menggerakkan, dan memaknai. apakah hewan mempunyai ciri di atas?

itulah makna dunia, pengalaman, dan kesadaran dalam dunia fenomenologi

sorry ada kesalahan ketik. aktif bukan berbeda dengan gerak yang betul adalah aktif berbeda dengan gerak
ma’af

yupz…betuL…tp tdk lntas “aku” vis a vis “dunia”…dan istilah’na jg bukan “brdiri sendiri” tp ada penekanan pd “otentisitas” yang tak bs direduksi pngrtian’na dg “independensi”…

“aku” vis a vis “dunia” hanya bisa diasumsikan bahwa adanya keterbagian antara “kesadaran” dan “dunia”, atau lebih dikenal dengan dualisme Cartesian. Beda dengan pendapat dari fenomenolog.

Sedangkan otentisitas dlm rumusan fenomenologi klasik lebih mengarahkan perhatiannya pada permasalahan “keaslian” dari penampakan. Jadi akan menyelidiki suatu essensi yang mendasar pada suatu obyek penampakan dengan membersihkan terlebih dahulu prejudice atau asumsi-asumsi yang terlebih dulu terbangun. Sehingga suatu penampakan yang hadir pada kita, langsung kita ketahui berdasarkan pada pra-konsepsi (asumsi-asumsi yang sudah melekat) pada kita oleh karena itu diperlukan adanya penyingkiran dan penundaan untuk mengetahui keotentikan suatu penampakan tersebut.(Tokohnya adalah E. Huserl). Tapi hal ini banyak dilakukan kritikan, karena manusia pasti sudah memiliki suatu prakonsepsi atau prejudice terlebih dahulu sebelum melihat apa adanya suatu obyek penampakan itu. sehingga tidak mungkin kita mengetahui secara pasti suatu essensi murni dari penampakan tersebut.

sedangkan dalam pemikiran Sartre atau Heiddeger lebih menekankan pada aspek “pengalaman hidup” manusia yang menjadi perhatian, sehingga banyak disebut sebagai fenomenologi eksistensial. Sikap otentik dalam Heideggerian lebih dekat diartikan sebagai “keresahan”. keresahan (bukan diartikan secara negatif) merupakan bentuk kesadaran akan keterjatuhan manusia, ia seakan jatuh dalam jurang yang dalam, ia tidak nyaman dengan eksistensinya karena ia bagaikan terlempar di sini tanpa persetujuannya, dan ia harus menyesuaikan dengan ini itu, bergerak progressif dalam waktu dan akan menemui kematian. ia resah karena tak ada jawaban, yang ada hanya asumsi-asumsi metafisis yang melenakannya yang membuatnya nyaman atau ia sibuk dengan kesehariannya sehingga tidak mengalami keresahan atau ia hanya mencari apa itu dunia dari buku-buku ataupun tinggal menuruti pengertian yang diberikan dari orang lain/masyarakat

“Mistik Keseharian” dalam Heidegger berbeda denga mistik tasawuf. ia bersifat kritis dan spekulatif. sedangkan independensi, terminologi itu lebih banyak digunakan dalam paham humanisme/liberalisme tentang kemerdekaan individu dalam berfikir dan bertindak. so, jelas beda dengan otentisitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: