Willkommen…zu meiner Website

melepas bingkai kebebasan

Posted on: Agustus 5, 2008

Setiap kali berpidato di hadapan rakyatnya, Umar ibn Abdul Aziz selalu menyampaikan muqaddimah seperti ini:

Ich will der Freiheit...

Ich will der Freiheit...

Innamā khuliqtum lil ābad…lakinnakum tantaqilūna min dārin ilā darin

”Sesungguhnya kalian diciptakan untuk keabadian, hanya saja kalian harus perlu pindah-pindah dari satu dunia ke dunia lain.”

Barangkali dalam sejarah peradaban Islam-Arab, hanya dia sosok pemimpin politik yang sekaligus filosof, seorang aristokrat yang merasa ”terpaksa” ketika diangkat sebagai maharaja dinasti Umayyah di Damaskus.

Ya, manusia memiliki wajah ganda: wajah duniawi dan wajah ilahi. Keberadaan kita sebagai yang mendunia, adalah manifestasi dari wajah duniawi. Sedangkan yang kedua, merupakan tujuan yang hendak dicapai dalam proses mengadanya. Benar yang dikatakan Umar ibn Abd Aziz (RA.): bahwa kita diciptakan abadi. Atau jangan-jangan kita tak pernah diciptakan (oleh siapapun?)

Bahkan Ibn Araby menjelaskan bahwa manusia itu tidak muncul dari proses penciptaan. Kita bukan diciptakan oleh Allah karena keberadaan manusia merupakan manifestasi dari Yang-Ilahy. Logika tradisional yang berdasar pada “creatio ex nihilo” (tercipta dari ketiadaan) memang benar untuk menggambarkan kreatifitas Ilahy—atau penciptaan-Nya. Ada sebab (yakni Allah) bagi akibat (yakni munculnya manusia). Terhadap pertanyaan “untuk apa” peciptaan itu, logika ini tidak bisa menjawab akurat. Jadi tidak mungkin Ada itu berasal dari ketiadaan, yang adalah kekosongan.

Kenapa logika ini dikatakan logika tradisional? Karena dalam memahaminya diperlukan energi intelektual yang relatif rendah: bagi kalangan awwam mudah diterima. Bagi kalangan intelektual, pemikir dan filosof, asumsi ini diperlukan untuk menekankan keharusan normatif. Apa relevansinya? Dalam sudut pandang persoalan ”kebebasan manusia”, sebagai prinsip moral, keterciptaan manusia mengkonsekuensikan kepatuhan pada Sang Pencipta.

Oleh karena itu, lamat-lamat bisa kelihatan bahwa doktrin tradisional keterciptaan manusia paralel dan kongruen dengan ajaran untuk menjalankan kepatuhan. Memang pada batas-batas epistemologisnya, konseptualitas ”creatio ex nihilo” tidak melanggar prinsip kebebasan manusia. Namun dalam tataran aksiologisnya, sebagai ”makhluk” yang nggremet di muka bumi, kebebasan hampir kehilangan maknanya dalam tatarannya yang hakiki.

Secara ontologis, kebebasan manusia memiliki singularitas mutlak, tunggal, dan tak terbatas. Dalam kehidupan yang serba menekankan makna “keterciptaan manusia”, yang-tak-terbatas itu menjadi salah urus. Oleh karena itu, dalam berbagai kasus manusia gagal dalam mengelola kemutlakan kebebasannya. Dari berbagai kasus keseharian itu, kita mencandra dan mengalami ada dua bentuk sikap: (1) sebagian manusia phobia dengan kebebasan yang dimengerti sebagai yang berkonotasi negatif, stereotipikal, dan miring.

Sementara itu, (2) sebagian manusia menyalahgunakan kebebasan. Oleh golongan yang pertama, kebebasan adalah suatu kecenderungan menyimpang dari tata kehidupan yang mapan, suatu pemberontakan, selalu berbentuk “alternatif lain”, dan destruktif. Golongan ini berasal dari kalangan berprivilis, establish dan menghendaki stabilitas. Sedangkan di kalangan golongan kedua, kebebasan adalah suatu kondisi yang lahir dari nihilnya segala bentuk batasan-batasan etis: bebas adalah melakukan apapun sejauh ia suka, ia ingini.

Asal-usul keinginan tentunya tak berasal dari diri sendiri, tapi ada iming-iming, rayuan dan godaan yang datangnya dari luar. Oleh karena itu, kebebasan yang disalahgunakan oleh golongan kedua yang ”mana suka” bukanlah kebebasan, karena ia diperbudak belaka oleh rayuan-iming-iming dan sebagainya. Kekeliruan konsepsi keduanya tentang kebebasan memang berbeda, tapi mengarah pada satu kesepemahaman bahwa kebebasan merupakan kondisi, suatu entitas yang berwujud ”sesuatu”.

Jika demikian, ketika kita bebas berarti kita sedang di dalam kondisi kebebasan. Kebebasan menjadi bingkai bagi setiap sikap dan pilihan, dimana tidak ada ikatan, tiada taqlid, pendiktean, dan semacamnya. Apa yang kita kerjakan adalah hasil dari apa yang kita putuskan. Pilihan dan tindakan bebas tentunya berada di dalam kondisi kebebasan. Apakah ini sama saja dengan ketidakbebasan, karena kita sedang berada-di-dalam kondisi kebebasan?

Lalu ada cerita: konon manusia itu bebas hanya dalam pemikirannya. Lain pihak mengatakan, kebebasan terletak pada keterpisahan manusia dari anasir-anasir duniawi. Bagi kalangan para pemikir bebas, kebebasan intelektual adalah mutlak karena ia merupakan cermin dari gerakan non-materiil (substansial?) dari suatu level ma’qulāt (intelligible) ke level lain yang al-lāma’qulāt (non/un-intelligible). Sedangkan gerak substansial ruhani menuju keterlepasan yang kian sempurna dari anasir-anasir duniawi, bagi kalangan mistikus/sufi, menjadi alternatif selain wilayah pemikiran bebas-konseptual.

Sepertinya lebih memuaskan jika kebebasan dimengerti sebagai suatu gerak, daripada membatasi pengertiannya sebagai suatu kondisi/entitas. Perbedaannya sangat signifikan, seperti perbedaan antara partikel dan gelombang dalam fisika kuantum. Ujung-ujungnya, kita dapat menarik kesimpulan mengenai kebebasan, bahwa ia memiliki dua penampakan yang ”tergantung sudut pandang”. Ia merupakan kondisi yang didambakan manusia demi tegak-berdirinya eksistensi dirinya. Maka jika kondisi itu lenyap, manusia berusaha meraihnya kembali.

Bukti tentang tak kunjung diraihnya kebebasan menunjukkan bahwa ia bukan kondisi, melainkan gerak substansial yang sifatnya berkelanjutan, kontinue dan abadi. Dengan kata lain, kebebasan akan lenyap seturut dengan berhentinya gerak substansial itu. Pemikiran bebas, sebagai cara manusia mewujudkan kebebasannya di wilayah pemikiran, akan segera jumud (beku/statis) segera setelah ia di-kondisi-kan. Pemikiran bebas bukan diorientasikan supaya manusia nyaman dalam kondisi kebebasannya. Dengan kata lain, tak ada kondisi yang layak ditempati krasan-krasan oleh manusia.

Apakah kebebasan berarti senantiasa mewujudkan kemungkinan lain dari kondisi yang melingkupi kita? Barangkali saya lebih ikhlas mengucapkan ”iya” daripada ”tidak”. Ini persoalan keikhlasan. Bukankah kita perlu kompromi, tidak memaksakan diri dan orang lain, untuk sekadar mengalah—pura-pura kalah demi orang lain—?

11 Tanggapan to "melepas bingkai kebebasan"

mau kritik nihh…
kamu itu sebenarnya kreatif, tetapi saking kreatifnya kamu tuhh, menulis terus menerus di blog, sehingga blog kaya’ tumpukan tulisan. harus ada seninya dong kapan harus memposting kapan enggak, dan pikirkan juga interval waktu pembuatan posting.

saya juga mempunyai keinginan memposting tulisan. Ada kasus A yang harus dikomentari atau mempunyai bentuk suatu bentuk ide tertentu, tidak semuanya saya tulis dan terus aku postingkan. Mending untuk mencegah bentuk “kreativitas tak terkendali” ini diperlukan metode pengendaliannya. Klo cara pengendalianku adalah dengan memberikan komentar sebanyak-banyaknya ke posting temen. atau membuat/memperbaharui setting layout, membuat banyak blog dari wordpress, blogger, friendster, ataupun multiply.

Klo kamu terserah.. yang jelas kalo ketemu entar aku kasih kamu tips-nya aja dech… yang jelas nge-net itu pekerjaan menyenangkan, dechhhh… kita bisa kritis atau bisa usil tapi bisa juga sok gaul dan mungkin bisa aja sok alim hahaha….

iyya iyyaa…Bang…hu’umm…thank 4 ur critics…(ayo nongkrong ng kopma aE…)

terlalu merenungkan sesuatu… terkadang justru membuat “kabur” sesuatu… ada kalanya… tidak mempertanyakan akan sesuatu adalah sesuatu yang paling bijak..

-aku-

kondisi kaya’ itu bukan hanya kamu yg ngrasain, tapi juga aku. bnyk pertanyaan2 yg harus kita jawab, tapi jawaban kita, terlalu banyak kontradiksi apabila dikritik, dan apabila kita tidak menjawabnya terlalu menggelitik untuk dicari jawabannya.
keyakinan, suatu hal yg negatif bagi para filsuf. mungkin tergantung kamu, pilih Nietzche atau Kierkegaard. sudah saatnya kita menentukan eksistensi diri kita, bukan otak kita lah yang menentukan “ide ttg realitas apa” yang harus kita miliki, tapi kitalah yang berhak menentukannya.
Klo yg pertama yang dipilih, maka kita akan terus menerus mencari “fatamorgana kebenaran”. Ia akan pergi meninggalkan kita secepat kita lari mengejarnya.
jangan sampai otak membeku sehingga tak mampu menyelidiki mana yang haq, tapi jangan sampai pula otak kita mencair sehingga kebenaran akan kabur. kitalah yang mampu menjaga equilibriumnya.

saya mencintai kebebasan…dan hnya ddlam pikiran saja manusia msh mgkn disebut bebas. Atau setidaknya relatif lbh bebas ketimbang ddalam keseharian faktual…jika merenungkan mnjadikan abstrak segala sesuatu, itu karena yang direnungkan belum banyak dijamah oleh akal manusia…selain itu, ada keterbatasan bahasa untuk bisa mengungkapkannya…saya lebih condong untuk melihat bahwa pemikiran adalah peng’hadir’an, yakni menghadirkan sesuatu yang tidak/belum pernah (di)hadir(kan) dalam pengalaman kita sebagai thinker-being… JIka demikian, asumsi anda perlu saya balik: ketika dipikirkan, sesuatu akan mnjadi riil dan hadir dan ‘bergeliat’ dalam alam pemikiran kita…Allah al-Haqq a’lam bihi…
untuk bang arifin: filsafat bukan menyuruh kita memilih yang ini atau menolak yg itu…berfilsafat menurutku adalah proses pencarian, bukan menyikapi yang sudah ada…memilih Heidegger atau Kierkegard bukanlah sikap yang berfilsafat…

saya lebih condong untuk melihat bahwa pemikiran adalah peng’hadir’an

“cogito ergo sum..”

iya… dechhh….

kapan kita ketemu nichhh???? kok jadi kangen nih ama adik hehehehe

aQ tak bgitu suka dg ‘gosip’…(bntuknya mcm2: konon, katanya, qila wa qola…) tp utk sekadar legitimasi boleh jg…Umar bin Abd Aziz, khalifah aristokrat Umayyah, konon bilang “kebaikan bukanlah suatu yang qt dengar lalu kita mengamalkannya…melainkan apa yg kita renungkan/pikirkan dari Wujud (Allah) lalu kita mengamalkannya”…(Qishash al-Abidin wa Sholatihim, b. Umar Ibn Abd Aziz)

pernahkah qta berpikir, yang bebas itu justru adalah yang terbatas? kala yang bebas dan yang terbatas bercampur satu sama lain, semuanya menjadi kabur. yang tersisa tinggallah pikiran. BERGERAKLAH! jangan terlalu banyak mikir JAN! bagiku, tak jarang otak sering bohong. fakta tidak akan pernah berubah jika hanya dipikir. haha.

oke oke dweEehH…kl senior udh bilang gtu, sami’na wa (la) atho’na aja…hahaha

ndenger tapi nggak taat???,.. oooo, kurangajar!! hahaha🙂 :))

Tapi klo dik Tijani klo konsisten ama kebebasan, bukankah adik ini masih terikat ama asumsi “metafisika kehadiran”??

tapi ga ada hubungannya ama milih filsafat kierkegarrd/Nietzche. keduanya adalah pilihan model eksistensi… mengabdi pada satu bentuk tunggal keyakinan (kierkegaard) atau mengambil sikap Kuasa terhadap realitas nyata yg tak bisa dibagi dalam ide benar/salah (Nietzche).

Sebenarnya ga ada kebebasan penuh, seseorang itu ditentukan oleh prakonsepsi dan prejudicenya dulu sebelum menentukan sikap atau fikiiran apa yang akan diambilnya, termasuk kamu. dan prakonsepsi/prejudice itu ditentukan oleh faktor bawaan, sosial, budaya dan keadaan dirinya.

so juga mesti kebebasan mesti mengimplikasikan “akibat” apa yang ditanggungnya dari suatu perbuatan. Jadi pilihan tindakan kita ditentukan oleh akibat,dan tanggungjawab apa terhadap pilihan tindakan kita.

so???? kebebasan dlm studi filsafat, terbagi menjadi dua model pembicaraan: model pembicaraan ontologis (hakekat kebebasan) ama ethika (kebebasan dalam artian tindakan).

– tinjauan ontologis lebih memfokuskan tentang, bagaimana kebebasan itu mungkin? bagaimana manusia mengalami kebebasan?

– tinjauan ethika biasanya lebih memfokuskan tentang: bagaimana tindak kebebasan dinilai? melalui sudut pandang moral apa kebebasan dilakukan peninjauan? apa keterkaitannya dengan relativisme nilai, kemutlakan nilai, nilai universal dsb? bagaimana hubungannya dengan motivasi, proses tindakan, akibat perbuatan dll??

Bicara tentang kebebasan itu memang relatif mudah, tetapi menguraikannya dan mencari essensi tentang kebebasan itu sendiri yang sulit.

oke ini dulu yachh.. dah ngantuk.. mo tidur… hehehe…:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: