Willkommen…zu meiner Website

eksistensi dan kaum sufi

Posted on: Agustus 12, 2008

bitte .. lösen die Attribute

bitte .. lösen die Attribute

Apa yang bisa kita lihat ketika menemukan sosok-sosok aneh dan nyeleneh di era-era klasik? Dari dulu sampai kini, kenyelenehan selalu menarik perhatian kita. Bukan karena minta diperhatikan, ’caper’, tapi mereka memang memiliki keunikan yang berbeda dengan ukuran lumrah orang kebanyakan. Mereka adalah sufi-sufi aneh semisal al-Hallaj, Dzun Nun al-Mishri, Bahlul, Abu Yazid al-Busthami dan masih banyak lagi.

Saking nyleneh dan kontroversialnya mereka, sampai dicap ’tidak waras’ dan mengganggu ’ketertiban’ pemahaman konvensional. Logika yang mereka bangun dan pergunakan bukanlah logika biasa. Nyaris tidak bisa diterima oleh sepandai-pandainya ukuran orang kebanyakan. Pernyataan mereka dianggap ngawur, nglindur dan ’tak berdasar’. Ucapan sufi yang dinilai kontroversial dan menyimpang lalu diistilahkan dengan ’syathahat’: Ceracau yang diucapkan orang dalam kondisi ’tak sadar’.

Perlu dimengerti dulu bahwa ’tak sadar’disitu maksudnya lebih ditekankan pada kondisi tidak terikatnya seseorang pada situasi tertentu yang umum, yang juga bisa dialami oleh orang kebanyakan. Pendeknya, para sufi acapkali ’nglindur’ dan ’tak sadar’ yang ucapannya menunjukkan ia sedang tidak berada dalam ’dunia ini’. Maka kita sering balingsatan ketika disuruh memahami ucapan mereka. Al-Hallaj pernah meracau ”Ana al-Haqq” (akulah kebenaran), ”laisa fi jubbati illa Allah” (di dalam jubah ini tak lain adalah Tuhan). Ucapan ini bisa dinilai ganjil sehingga sah-sah saja dalam ukuran awam ditetapkan sebagai ucapan menyimpang, tak waras dan menyesatkan.

Sementara itu, Abu Yazid (atau Bayazid) al-Busthami meracaukan ”Subhani ma a’zhama sya’ni” (maha suci aku, alangkah agungnya aku ini). Ialah sudah sewajarnya jika kemenyimpangan ini sangat menggangu ’ketertiban’ pemahaman publik. Oleh karena itu, jika pemahaman publik dipelihara oleh semacam institusi, mereka yang menyimpang sangat rentan dibumihanguskan. Mengapa? Karena kemenyimpangan selalu diartikan pemberontakan, suatu yang mengancam stabilitas dan, oleh sebab itu, mengancam ’kekuasaan’ (yang tidak selalu berwujud ’negara’ ataupun ’organized-religion’).

Pelajaran penting dari cerita ini adalah bahwa orang-orang yang berpikiran bebas, yang memunculkan ’logika’ yang sama sekali baru, keluar dari mainstream konvensi-konvensi institusional, adalah ibarat manusia-manusia unggul yang bereksperimen melakukan pembebasan atas intelegensi dan pemikiran dari segala sesuatu yang membelenggu. Apakah manusia harus dibelenggu? Ada dua point disini.

Pertama, ada kesejajaran antara pemikiran sufistik dengan eksistensialisme yang kita kenal dalam tradisi pemikiran filsafat ( dengan tokoh-tokoh seperti Nietzsche, Mulla Sadra, Muhammad Iqbal, Kierkegaard, Sartre, dan lain-lain). Aliran filsafat humanisme ini menempatkan harkat martabat manusia sebagai yang mutlak, sehingga baik yang berangkat dari tradisi Islam maupun Barat Modern, sama-sama menempatkan manusia sebagai tujuan. Manusia bukanlah alat, melainkan tujuan. Apakah kemenyimpangan para sufi ’nglindur’ seperti al-Hallaj ataupun Bayazid Busthami adalah dalam rangka menahan laju ’keblinger’ (atau kebablasan)-nya lembaga penjaga logika mapan?

Kedua, asumsi dari filsafat eksistensi adalah ’eksistensi mendahului esensi’ atau, jelas TZ. Lavine: eksistensi lebih utama di atas esensi (Sartre: Filsafat Eksistensialisme Humanis, h. 18). Dengan bahasa sehari-hari, kita bisa mengatakan ’aku lebih dahulu ada sebelum segala macam identitas menjadi atributku’. Atau ’ada-nya aku lebih dahulu daripada identitas sebagai—misalnya—warga negara Indonesia, sebagai pemeluk agama anu, anggota partai anu…dan seterusnya. Nyatanya memang apa yang menjadi atribut kita, yang menunjukkan lokalitas kita dalam keseharian, adalah bentukan pengalaman.

Pernahkah kita berpikir mengenai diri kita sendiri tanpa melekatkan satu atribut pun? Apakah atribut-atribut itu sifatnya alami dan wajar? Pernahkah kita mencurigainya? Atau pernahkan kita dirugikan ketika menyandang satu atribut tertentu dalam suatu kesempatan? Apa yang paling diributkan orang selama ini? Atributkah itu? Mungkin atribut itulah yang dilekatkan pada kita untuk dijadikan jaminan bagi ‘ketertiban’ stabilitas yang di-konvensi-sosial-kan itu?

Tentunya kita tak bisa melepas atribut. Masalahnya, atribut itu kadang menjadi ’kacamata setan’ yang mengganggu penglihatan. Tidak jarang kita menolong orang lain karena atribut, bukan karena kemanusiaannya. Kurasa kita perlu belajar pada brother Arthur Gish, seorang for-peace fighter Amerika. Ia menghadang tank Israel yang mau meratakan pasar rakyat Palestina. Seandainya ia tak melepas ’kacamata setan’, tak mungkin ia melakukan tindakan ’tak waras’ dan konyol itu. Dan lagi,—ini yang penting—ia hidup sederhana dan nyufi…(Putut Widjanarko mengenangkannya dengan ”…(ia) environmentalist yang dermawan, bergaya hidup zuhud kaum sufi, dan ’muslim’ yang mencintai damai.”

Terakhir, apakah ucapan al-Hallaj “Ana al-Haqq” atau Bayazid Busthami “Subhani ma a’zhama sya’ni” mengungkapkan kerinduan mereka pada kemurnian eksistensi dari atribut-atribut dunia? Benar jika ada ’gosip’: konon, dalam peradaban Islam para mistikus (sufi) lah yang pertama kali mengkampanyekan kebebasan manusia. Jadi agak aneh kalau ada anggapan bahwa para sufi itu tidak ambil peduli dengan apakah manusia itu bebas atau tidak. Di Maroko, penggerak perjuangan merebut kemerdekaan dari imperialisme Perancis adalah para sufi pengikut tarekat Tijaniyyah. Atau di negeri ini, ada sufi bergelar Hadratus Syaikh Hasyim Asyary dengan resolusi jihad anti-NICA-nya. Ribuan syuhada gugur sampai kita kenal sampai sekarang dengan “hari pahlawan” (setiap 10 November).

Disini Humanisme—sebagai rumah kediaman harkat martabat mutlak manusia—seperti mau roboh saja tampaknya. Tuhan mungkin bukan bertahta di langit, tapi di hati kita…’Dia lebih dekat dari urat leher’, memandang manusia sebagai tujuan (bukan alat untuk stabilitas ’kekuasaan’) dengan sendirinya berarti juga membela Tuhan, meski Nietzsche dan Sartre memilih tak mengakuinya. Benar ‘ceracau’ Gus Dur bahwa Tuhan memang tak perlu dibela.[]

3 Tanggapan to "eksistensi dan kaum sufi"

pengen aku bro dadi sufi
ngerasakke urip ra oo njuntrungane

Bagusss…terus belajar, terus berkarya…
Salam kenal juga dariku, anak Rembang juga ya..!
Ayoo…semangat….kita pemuda harapan bangsa..!hehehhee!
Apa kabar Rembang? rindu aku dengan panasnya, kangen aku dengan pantainya, bermimpi aku untuk secepatnya bisa menghirup udaranya…ahh… asin, anyir, tapi juga semilir..wakakakaka..

waahhh…aQ juga gag mau pulang Brow…bkin sakit ati!hahahahawww…tar klo tiba waktu’Y aQ psti pulang…toh gmn2 dy masih tanah aerQ. kmpung halamanQ…salam bwt nadhief ya…bilang: jangan nakaL…!!!hahaha…suruh dia berjanji akan pulang kampung & berbuat sesuatu utk kampung hlmnY…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: