Willkommen…zu meiner Website

Uneg-Uneg…bkin ‘enek’? waw!

Posted on: Agustus 15, 2008

so what...?

so what...?

Aku mengikuti fenomena riuh-rendahnya para artis hijrah ke dunia ’antah berantah’ (politik), asyik dan menggelisahkan… Kau tahu betul, politik dan dunia showbiz itu beda jauh…jauh sekali ’kan? Tapi ada persamaannya juga: kedua peran itu sama-sama berkaitan dengan publik, dengan orang banyak.

Orang banyak/khalayak umum kenal dengan figur artis sebagai penghibur. Politisi juga. Orang banyak berurusan dengannya karena mereka titip aspirasi: titip cita-cita untuk diperjuangkan sampai (kalau perlu) ’berdarah-darah’. Konon….itu konon…

Artis punya massa, punya deretan bahkan jubelan fans. Slank punya ’umat’ slankers, Dewa punya ’Baladewa’. Itu band. Kalau artis individu, ada juga. Orang seringkali dihadapkan pada berita tentang persengketaan antara artis yang satu dengan artis lain: oleh berita infotainment, kita disuruh memilih ’ndukung yang mana. Waduwww…

Ini mengkhawatirkan. Sepertinya di dalam dunia showbiz itu, aroma politis tak ketinggalan hadir di sana. Maka sudah sepantasnya jika artis tertarik untuk pentas sebagai politisi beneran. Tak peduli ngomong gruthal-grathul, yang penting ’saya terkenal’. Strategi politiknya ’aji mumpung’: mumpung saya masih punya popularitas.

Rakyat melongo. Ini apa-apaan? Biasanya di TV disuruh milih ’ketik reg spasi…bla bla bla….’ sekarang disuruh milih untuk urusan njelimet dan serius: masa depan bangsa! Politik itu luhur, tapi sekarang luntur. Politik tak lebih berharga ketimbang milih artis dangdut untuk menang KDI atau AFI. Jyahh!!

Jadi jangan harap dalam pemilu 2009 ada rasionalitas disana. Harapan kosong, tentunya. Bukankah ini masalah selera? Memilih partai karena selera bukanlah hal baru. Kita mengakui bahwa bangsa ini mengacu pada politik kharisma: asal ada tokoh kharismatik, ya dia yang laku. Platform partai, mungkin hanya lipstick doang?

Inilah fenomena dimana akal dan rasionalitas tidak dihargai. Orang-orang bergerak bukan atas dasar landasan kemasuk-akalan. Ini apa lagi? Entahlah….

Semalam aku ikut diskusi bersama komunitas Pendopo LkiS. Ada orang, namanya Darwish Khudlori, yang mengaku 20 tahun mengajar di Perancis. Dia bercerita tentang kajiannya atas gerakan politik berbasis agama. Agama sebagai identitas. Kalau ada sekerumunan orang sama-sama mengaku penganut agama tertentu, maka yang mungkin terjadi adalah bersekutu.

Tantangan hidup mereka disatukan, disamakan, untuk bergerak bersama-sama supaya tantangan terselesaikan. Identitas mungkin embel-embel yang menempel di tubuh kita. Tentunya embel-embel itu bukan alamiah, ia bentukan yang datang belakangan. Embel-embel ini tidak saja eksesoris pantes-pantesan, tapi bahkan bisa jadi kaca mata. Seperti ’kaca mata buram’ lah…

Ini ada kaitannya dengan lunturnya kemasuk-akalan dalam pola kita bersikap, memandang dan bergerak. Semua keputusan kita, seperti milih artis dalam pemilu misalnya, adalah hasil tak terelakkan dari lekatnya embel-embel itu. Kalau identitas itu dimengerti sebagai atribut, maka atribut itu telah menutupi eksistensi kita. Ia sudah menghunjam jauh di kedalaman psikologis…bahkan tak terasa telah memberhala dan mengkristal dalam pikiran dan perasaan.

So? Gerakan politik berbasis agama adalah wujud dari pemberhalaan atas identitas, atas embel-embel yang ’hanya’ atribut itu. Urusannya bukan kemaslahatan manusia, tapi berkuasanya berhala yang diyakininya.

Aku bertanya-tanya: sejak kapan identitas itu mulai dipikirkan orang? Asal-usulnya gimana? Asumsi-asumsi dan koherensi internalnya seperti apa ia disusun dan dibangunkan sampai menjadi berhala di setiap tempurung kepala manusia? ‘Identitas primordial’ kemanusiaan itu sudah cukup berharga, tapi kok masih saja dianggap kurang?

Saya ingat buku otobiografi Karen Amstrong: dia bercerita panjang lebar bla bla bla…dan berakhir pada pengakuan sebagai ‘a freelance monotheist’, hanya seorang bertuhan-satu yang lepas. Pada situasi apa identitas itu perlu dan tidak perlu?

Entahlah…Identitas adalah warisan masa lalu: yang pernah menyapa kita. Kalau demikian, sebenarnya identitas itu sudah tak ada, sudah lewat, tapi dipaksa untuk hadir atau dihadir-hadirkan.

Yang terjadi adalah masa lalu menjadi penentu. Kaki kita berpijak di atas kekinian, tapi kesadaran kita ada di dalam masa lalu. Begitulah..dalam situasi itulah dendam semakin tak terperikan. Romantisme begitu menenggelamkan.

Orang ’politis’ selalu memaksa orang lain untuk hadir dalam masa lalu, masa lalu identitas. Padahal masa lalu itu menyebar, tak tunggal. Tapi berkali-kali dihadapkan kepada kita sebagai yang tunggal. HHhhmmm…capwEek dWeEhh..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: