Willkommen…zu meiner Website

Harga manusia di hadapan pengalamannya: buat Mas Zacky

Posted on: Agustus 18, 2008

hhhmmmm...

hhhmmmm...

Salam alaikum…

Saya baca tulisan Bro dalam dua judul “Esai: Adonis dan Übermensch Kebudayaan” dan “Kebangkitan Arab: Dalam Kedigdayaan Sastra”, sangat menarik. Tulisan itu seperti lukisan tentang seorang juru kampanye kebebasan manusia. Tulisan (atau lukisan) Bro itu menarik perhatian setelah sebelumnya saya membaca dua jilid karya terjemahan Indonesia yang terbitan LKiS itu, juga tentang orang yang sama, meski dalam kapasitasnya sebagai seorang pemikir/sarjana.

Saya mulai meraba-raba, apa hubungannya agama dengan sastra, dalam rentangan masa lalu-masa kini juga masa mendatang. Dr. Abd. Malik mengakui Adonis orang pertama yang menolak tesis Jurjani: ad-Dīnu bimu’zalin ‘an al-Syi’r, agama terpisah dari puisi. Dia terhitung unik karena memadukan metode analisis sastra dengan analisis pemikiran/wacana, dalam kapasitasnya sebagai penyair.(lih. Esai ”Falsafatul Ittibā’ wal Ibdā’ ’Inda Adūnis”)

Dengan begitu, persoalannya berkisar pada hubungan antara manusia dan ciptaannya sendiri. Ada silang-saling hubungan antara manusia, agama, teks-teks, nalar, modernitas, budaya…kondisi keterkungkungan dan sebagainya. Lalu ada ’gosip’: Adonis berteriak atas nama manusia, atas nama martabat dan harga manusia. Jadi saya terbawa pada simpulan eksistensialis atas individu Adonis. Seorang penyair yang pemikir seperti Adonis tampak seperti memaknai kebudayaan dalam eksistensialitasnya yang tak terbatas.

Jika Adonis bicara banyak tentang manusia Arab dan represi abadi teks-teks sakral agama, mungkin itu tak menarik. Itu wacana yang terus diulang-ulang. Formasinya saja yang dimodifikasi, tapi substansinya sama. Tapi jika ia bicara tentang kosmologi waktu, masa lalu- masa kini-dan masa depan, dan kecenderungan manusia yang tak kunjung bisa berdamai dengannnya, menjelmakan pemikiran Adonis sebagai suatu bentuk kreatifitas yang mencengangkan. Subjektifitas saya, Adonis menemukan alienasi waktu atas manusia: kakinya menjejak kekinian, tapi kesadarannya karam dalam masa lalu.

Masa lalu memiliki piranti macam-macam, dan menurut Adonis (seperti Bro tulis), adalah “masa lalu terkait dengan pendasaran prinsip-prinsip keagamaan yang amat statis.” Secara faktual Islam muncul belakangan setelah manusia Arab terlebih dahulu memiliki fondasi kebudayaan: mereka sudah punya pengalaman hidup jauh sebelum Islam muncul. Tapi kemudian seluruh manifestasi agama menjadi tuan atas manusia Arab berikut pengalamannya.

Ini persoalan harga manusia. Ada pertanyaan yang muncul di benak saya, Bro pasti tahu jawabannya. Atau Bro berpotensi lebih besar dalam menjawab pertanyaan saya. Meski semua pertanyaan tak bisa dijawab selain oleh penanya-nya sendiri. Pengetahuan dicari manusia, disistematisir sedemikian rupa sampai kondisinya berbalik: bukannya manusia yang memilikinya, tapi pengetahuanlah yang kemudian menundukkannya. Seperti Muhammad mencari dan menemukan Islam, lalu Islam berbalik mencari (bahkan memburu) manusia Arab.

Apakah si Adonis meletakkan harga manusia di dalam struktur pengetahuan dan kebudayaannya? Mengembalikannya pada tempatnya semula? Bahkan dalam telusuran-telusuran itu, apakah Adonis berepistemologikan harga manusia? Apakah Adonis seorang eksistensialis? Dalam sorotannya atas seluruh fondasi Arab-Islam, seorang fenomenologis-kah dia?

Salam alaikum…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: