Willkommen…zu meiner Website

Kenapa kau…?

Posted on: Agustus 25, 2008

Kenapa engkau diam saja? Karena bahasa tak memberiku ruang untuk menampung sekeping tanda tanya…

Kenapa kau lebih suka baca buku daripada mendengar seseorang bicara? Karena buku mengajakku bicara dengan diamnya, sementara orang lain menyuruhku diam ketika ia bicara…

Kenapa kau membuat orang lain marah dengan acuhmu? Karena aku sedang meraba diriku sendiri, sementara mereka sibuk meraba orang lain dan menelanjangiku…

Kenapa kau marah? Karena aku sedang belajar bagaimana marah tanpa menyalahkan yang salah

Kenapa kau marah dengan cara seperti itu? Karena marah dengan menyalahkan yang salah bukanlah hasil pembalajaran, melainkan dipaksakan…

Kenapa kau seperti anak kecil? Karena mereka tak punya beban apa-apa di kepalanya dan matanya belum buta warna…

Kenapa kau tak mau kembali pada masa lalu? Karena masa lalu telah ikhlas memberiku sesuatu, sementara saat ini aku harus menemukan yang baru, sedangkan masa depan seluas laut biru…

Kenapa kau takut pada ketinggian? Karena ketinggian hampir sama dengan kecantikan, membuat kita memandang diri layak sebagai pemiliknya…

Kenapa kau memandang keduanya sama saja? Karena keduanya membuat kita rakus tanpa mau mengakuinya…

Kenapa kau benci orang-orang sombong? Karena menghadapi mereka seperti menghadapi gundukan sampah yang menyebarkan amis bangkai…

Kenapa kau benci orang-orang munafik? Karena menghadapi mereka seperti menghadapi pedagang culas yang menyembunyikan cacat dagangannya…

4 Tanggapan to "Kenapa kau…?"

kadang aku berpikir, apakah filsafat itu tak bisa dibahasakan dalam irama bahasa paling sederhana. sehingga setiap orang akan mudah mencernanya.

yang menarik di blogmu hanya satu menurutku: isi tulisan yang berbobot, dibumbui performance yang meyakinkan. wah, luar biasa! ini yang saya maksud diatas tadi: membacakan filsafat ke dalam persepsi masayarakat umum. harapannya, filsafat semakin membumi di tengah2 masyarakat bingung ini.

memang benar haqi sering bilang, mamak memang Te O Pe!

–masih berkarya

kenapa aku Ada?

Bencilah..maka kau akan terus membenci (hingga sampai akhirat) atau
Cintailah..maka kau akan mencintai dan tempatmu ada di sampingNya

nb. jika kau percaya padaNya

jika aq percaya, maka “hukum cinta” akan berlaku pada saya juga… jika aq tak percaya, masalahnya akan lain, bukan? dan Tuhan tidak akan menjadi Tuhan tanpa sikap manusia: mempercayai-Nya atau tidak. Tuhan bukan Tuhan yang bisa dikenal tanpa manusia, bukan? itulah yang saya perayai: Tuhan tidaklah sendirian disana, tapi adalah manusia itu sendiri. Manusia adalah Tuhan dalam sosok-Nya yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: