Willkommen…zu meiner Website

Nihilisme Bahasa dan Semesta Kemanusiaan

Posted on: Agustus 25, 2008

”..aku menulis dalam bahasa yang meniadakanku…” Demikian Adonis membuka esainya ”an-Nās al-Qur’ānī wa Āfāq al-Kitābah”. Lugas dan ”menggigit.” Sekilas tampak seperti tak memiliki hubungan sama sekali dengan judulnya yang maksudnya ”Teks Qurani dan Cakrawala Penulisan”. Apakah bahasa merupakan kekuatan, suatu daya yang mampu menekan dan mendorong, yang mewujudkan dan meniadakan?

Kajian mengenai bahasa sebagai kekuatan tentunya bukan kajian baru dalam filsafat. Kajian ini telah banyak menarik perhatian sejak dipergunakannya perangkat teknis konseptual yang bernama discourse. Apa yang kita sebut wacana merujuk pada wilayah operasional dari praktek-praktek penundukan dan penguasaa, ada peran kekuatan dan kekuasaan di sana. Di sinilah kita kemudian mengenal istilah analisis politik wacana.

Namun, analisis politik wacana tidak mengakar pada asal-usul ontologis linguistiknya. Padahal di level inilah perjumpaan eksistensial antara manusia dan bahasa itu terjadi. Tak heran jika dari basis pemikiran dan kegelisahan ini, gaya bahasa dan makna puitik karya-karya Adonis sangat memukau dan menghadirkan semesta kemungkinan yang tanpa penyudahan (Zacky Chairul Umam, Kompas 11 November 2007). Tapi sayangnya, dia tidak banyak mengungkit akar-akar eksistensial Adonis ketika menghadirkan semesta tak terperi itu dalam karya-karya sastranya.

Kita tahu bahwa hampir segala lini kehidupan manusia tidak ada yang berada di luar bahasa. Bahasa adalah ekspresi sekaligus kode. Maksudnya, sebagai ekspresi, bahasa mencerminkan alam personal. Alam personal kita menjadi semacam horison dari ”kehendak, maksud, dan keinginan.” Dengan bahasa, apa yang dipikirkan /dimaksudkan seseorang dapat juga dipikirkan orang lain—yang menangkap maksudnya. Kita menyebut proses ini sebagai alur komunikasi.

Tapi bagaimana yang personal itu dapat diakses oleh orang lain? Inilah yang menjadi wilayah operasional dari “kode-kode” sebagai elemen kedua dari bahasa: sesuatu yang disepakati oleh suatu masyarakat/orang banyak. Elemen kedua inilah yang sifatnya menyatukan atau menghimpun semua kehendak/maksud dari seorang individu. Di dalam elemen kedua ini, atau dalam Strukturalisme Saussurean disebut ’langue’, individu harus meletakkan kehendak linguitiknya kepada ’daya penyatu’ dari bahasa. Dalam pengertian ini, komunikasi berarti mematuhi aturan linguistik yang ditetapkan dalam suatu ruang publik.

Demikianlah. Secara (dan di dalam) bahasa, kode-kode yang difundamenkan merupakan induk atau imperium linguistik yang sifatnya menundukkan alam personal. Perlu disadari bahwa hampir menjadi tak terpikirkan jika pada tataran bahasa individu telah kehilangan otentisitasnya, alam personalnya. Padahal secara fenomenologis, alam personal adz-dzat li adz-dzat’ (secara konseptual berarti ’subjek untuk subjek’) menempati prioritas lebih primer dan utama daripada alam publik.

Dalam bahasa sehari-hari, kemerdekaan lebih utama daripada keterkungkungan: merdeka berarti menentukan nasib sendiri oleh dan untuk sendiri. Dengan demikian hubungan dengan subjek lain tidak bisa tidak ditopang oleh eksistensi subjek, kesadaran akan diri sendiri memungkinkan seseorang mampu menjalin hubungan dengan orang lain. Adakah ’area atau kawasan bahasa’ di mana seseorang kehilangan kesadaran akan diri sendiri? Atau dengan kata lain, apakah kode-kode (aturan) lisnguistik itu menundukkan personalitas seorang pengguna bahasa?

Tentunya elemen kedua bahasa yang menghimpun kode-kode sosial, yang ’harus’ dipatuhi, merupakan kawasan di mana seseorang bisa-bisa saja hanyut dan larut otentisitasnya. Dengan ungkapan lain, ditempatkannya kode-kode itu sebagai yang primer menjelmakan bahasa bersifat menghilangkan alam personal, yang tentunya….meniadakan kesadaran akan diri sendiri. Bukannya subjek untuk subjek itu sendiri melainkan subjek untuk objek di luar dirinya.

Bahasa dan nizham (atau undang-undang) merupakan akar dari pembahasan Adonis di dalam esai ini. Pada dasarnya kita hidup di dalam 2 alam ketiadaan: bahasa dan undang-undang. Maksudnya, secara bahasa kita selalu mengacu pada yang telah ada mapan sebagai kode-kode. Ini artinya manusia dalam berbahasa hanya bisa mengacu padanya lantaran bahasa itu telah difundamenkan. Berbahasa berarti menempatkan diri di dalam struktur bahasa itu. Demikian itu meniadakan alam personal manusia untuk kemudian menjadikannya objek yang harus patuh pada yang sudah di-undang-undang-kan dalam bahasa.

Adonis melihat bahwa nizham meniadakan manusia dari internalitas personalnya yang unik untuk kemudian ditetapkan tercakup di dalam eksternalitas yang umum. Di dalam pengalaman kita berbahasa, kesadaran akan alam personal kita menjadi lenyap karena kesadaran kita selalu tertuju secara spontan pada kekuatan eksternal yang menuntut ketundukan dan kepatuhan. Pertanyaan ironisnya, jika ’sadar’ menjadi ukuran/kriterium dari manusia sebagai manusia, maka apakah tidak berarti bahwa bahasa merupakan area di mana manusia sudah sejak awal kehilangan eksistensinya?

Bahasa: Ruang Imajiner Tanpa Batas bagi Kemungkinan Manusia

Esai Adonis menampakkan apa yang tersembunyi dan nyaris tak terpikirkan oleh kita. Jika selama ini bahasa dianggap tidak ada sangkut pautnya dengan eksistensi freelance manusia, tak terkait sama sekali dengan problem klasik hurriyatul insan (kebebasan manusia), Adonis melukiskan sketsa-sketsa menarik mengenai akar-akar eksistensial betapa sudah sedari awal kemerdekaan kita telah mengalami dekadensi abis: kita bahkan tergenang di dalam diri kita sendiri yang sebenarnya telah kehilangan otentisitas.

Dalam satu sudut pandang, Adonis terlihat seperti sedang menghadapi satu objek yang memiliki 2 substansi sekaligus. Bahasa, baginya, tak lain merupakan anugerah bahwasanya manusia mampu menjelmakan konsep-konsep alam pikirnya menjadi kata, kalimat, paragraf…dan seterusnya. Sementara di sisi lain, manusia seperti tercekat di dalam aturan-aturan linguistik. Maka, di sini akhirnya nampak pula bahwa kesadaran akan bahasa dan kesadaran akan kenyataan bahwa manusia sadar akan bahasa, menarik pemikiran kepada ruang gelap dari kesadaran kita sendiri.

Di sini, lukisan tentang ”kesadaran akan kesadaran” tampak seperti lukisan yang janggal. Ada berapa lapis kesadaran manusia itu? Paul Sartre melihat bahwa makhluk itu ada dua: (1) subjek-untuk-subjek itu sendiri dan (2) subjek-dalam-dirinya. Yang pertama adalah manusia, yang hubungannya dengan dunia ditopang oleh keinsyafan/kesadaran akan dirinya sendiri, sementara yang kedua tidak ditopang oleh kesadaran dalam bentuk apapun. Kita menyebut makhluk yang kedua itu dengan ’benda-benda/objek’. Relevansinya adalah bahwa kesadaran ada dua: yang terarah pada dirinya sendiri (internal) dan pada objek-objek/benda-benda (eksternal).

Implikasinya, sangat mungkin seorang subjek hanyut ketika menghadapi objek/benda lain di luar dirinya. Ini dikarenakan oleh salah-kelolanya pada lingkup kesadaran internal. Oleh karena itu, sangat mungkin juga dalam kondisi itu seorang subjek kehilangan akses dari kenyataan akan negatifitas dunia di sekelilingnya. Hal ini tidak saja menyeret manusia ke dalam ruang gelap kejahilan. Lebih dari itu, menutup mata dari negatifitas meniadakan manusia itu sendiri sebagai makhluk yang senantiasa bergerak mengatasi negatifitas dan, secara sekaligus, melengkapi diri dan dunianya.

Jika asumsinya kebebasan manusia adalah kesanggupan mengelola ketiadaan dan ke-ada-annya sendiri, mengkoreksi apa yang keliru, mewujudkan apa yang belum ada, mengatualisasikan segenap potensi, maka bisa dikatakan bahwa alam ketiadaan merupakan area yang mendorong manusia untuk menyempurnakan dirinya. Ini berarti pula bahwa negatifitas bukanlah hal buruk secara normatif. Dengan ungkapan “bahasa yang meniadakan”, Adonis tak bermaksud mengajak kita memusuhi bahasa. Negatifitas bahasa berarti ada nihilitas yang menyimpan jutaan kemungkinan bagi makna-makna baru yang bisa dilekatkan pada bahasa.

Jika aku sadar akan kebodohanku (negatif), maka ada sesuatu yang mestinya diwujudkan. Ketiadaan pengetahuan merupakan kondisi yang diakibatkan oleh tak kunjung diwujudkannya pengetahuan. Kebebasan eksistensial adalah moment-moment ketika manusia mewujudkan apa yang tidak/belum ada menjadi ada. Hidup di alam ketiadaan mendorong manusia untuk senantiasa mewujudkan kemungkinan lain dari ada-nya. Kemungkinan itu bukan terletak pada apa yang telah ada, bukan masa lalu dan warisannya.

Oleh karena itu, gerak kreatif manusia hanya memiliki arti bahwa ia menciptakan kemungkinan, mengaktualisasikan apa yang awalnya hanya potensial, dari tiada menjadi ada. Tiada bukanlah kekosongan tanpa isi, melainkan potensi-potensi yang sebenarnya tak terbatas. Mewujudkan potensi pengetahuan, misalnya, berarti mengarahkan perhatian pada tiadanya pengetahuan untuk kemudian diaktualisasikan. Alur itu sebagaimana ungkapan Adonis “…menghantarkan subjek di dalam rimba yang tak diketahuinya…” Oleh karenanya, secara logis, mencari pengetahuan bukan sekadar memasukkan data untuk diawetkan dalam kepala, melainkan menjadikan data sebagai pengetahuan baru untuk kemudian dimaknai.

Justru bahasa yang meniadakan adalah ibarat medan perang imajiner yang mendidik ruhani manusia supaya senantiasa bergerak atas nama pembaharuan, kreatifitas, dan penciptaan terus-menerus atas segala hal yang belum tercipta, menemukan hal-hal baru, mewujudkan yang belum ada, membaca dan memikirkan segala yang belum terbaca dan terpikirkan. Inilah takdir yang ditetapkan atas otentisitas manusia.

Sekali lagi ini menunjukkan bahwa apa yang dikampanyekan oleh Adonis tentang supremasi manusia secara eksistensial adalah dalam kerangka kreatifitas kebudayaan, suatu kerangka yang ditiupi ruh martabat manusia yang telah lama karam oleh/dalam masa lalu, mengacu pada (warisan) apa yang sudah ada. Melalui an-Nās al-Qur’ānī wa Āfāq al-Kitābah, pandangan ini cukup menyentak dan menyilaukan mata para pengusung kemapanan di wilayah linguistik. Dan barangkali daya tarik Adonis terletak pada bagaimana dia mengkaji banyak hal, termasuk dunia kebahasaan dan kesusasteraan, di bawah naung nan agung filsafat humanisme. []

12 Tanggapan to "Nihilisme Bahasa dan Semesta Kemanusiaan"

mampir….

blogwalking dari purwokerto

blogwalking daripurwokerto

halo.. gi maen2 niy ke blog km. isi blog nya keren loch. trus gambarnya juga lucu2..

monggo…monggo…lamkeNaL Bung… LamkenaL jg buat kwn2 pengkaji politik di unsoed…

wuuuhhh… keren boeng!!! mantap!!! bila ada yang kata yang lebih bisa memadai daripada “mantap”, itulah yang aku maksud!!! sukses, Boeng!!!

keren dr hongkong?hehe… ah!sekadar igauan org yg baru saja mimpi ttg hal itu Bung…

wah, kok tambah gila aja ente Mak!

huoyyy…borjuu!!lamoo tak jumpo!!aq lg brsolo-carrier jd org ‘gila’! tnpa bgtu, aq gag bs bkin org laen ‘gila’!!!hehehe…. salam bwt kawan2 roses Ju…

Spertinya ilmu pengetahuan jg spt itu. Bermula dari nalar yang kritis kmudian menjadi kian dan semakin dogmatis. atau..????

wadduh……..okey banget tp hehehe……kyakya g smua dapat teraplikasikan dg sempurna dlm kehidupan hari-hari ini, tau sendirilah…….!tapi sipp koq….

berpikir itu satu hal, smntara ‘aplikasi’ adalah hal lain. Yang prtama sprti membuka hutan, sdngkan yg kedua adalah bercocok tanam. Bercocok tanam butuh kondisi yg berbeda sama sekali dg saat kita mmbuka hutan…kira2 bgtu. Lam kenal dari pengelola blog ini…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: