Willkommen…zu meiner Website

hermeneutika vs metafisika

Posted on: September 14, 2008

Pengalaman seperti tak mau berpisah dari pemikiran. Aku mengalami sesuatu yang baru-baru ini menghidupkan getar-getar pikiranku. Ini aneh. Seakan-akan aku diberi kejutan, bahwa yang sedang bergeliat dan bergetar dalam pikiranku membentuk dunia pengalamanku. Keduanya terlihat tarik-ulur dan saling berdialog di dalam dunia internalku. Kata temanku, unifikasi 2 matriks itu “bikin kepalamu krowak!”. Tak apa. Itu penilaian yang berangkat dari pemprioritasan dunia pengalaman di atas pemikiran, suatu asumsi yang lumrah dipergunakan oleh para petaruh dunia! (hehe..)

Setelah membaca buku sejarah hermeneutika Jean Grondin, aku menemukan sketsa mengenai ketidakpastian pijakan metafisis dari akal manusia. Memang, sebelum aku melepas keyakinanku pada objektifitas, aku begitu mendewakan metafisika: sesuatu yang didiami manusia, dan menyuruhnya melihat hamparan dunia luar dari satu jendela saintifik dan rasional.

Tapi, setelah membaca buku itu, aku seperti teringat kembali bahwa dunia luar itu tak pernah bisa digeneralisir, tak bisa di-satu-dimensi-kan dan diprediksi alur fluktuatifnya. Rasionalitas yang dulu dianggap sebagai basis martabat manusia, runtuh ketika di dalam perkembangannya, ia menjelmakan keangkuhan. Humanisme menemukan momentum krisisnya ketika berubah menjadi Dehumanisme teknologis.

Aku tak memiliki kata-kata yang mudah dimengerti untuk melukiskan keadaan dimana rasionalitas kaku telah menjebak manusia pada kubangan beku yang diwasafkan Heidegger sebagai ”teknologis.” Artinya, apa yang dikejar manusia-manusia teknologis adalah sisa-sisa dari kebudayaan metafisis, suatu kebudayaan yang mengimani dunia sebagai yang memiliki substansi tetap dan absolut, yang harus selalu diakses manusia untuk memberikan dia pijakan-tak-tergoyah untuk memandang dan bersikap.

Tentu mudah untuk mengakui bahwa cara berpikir metafisis seperti mengasingkan manusia dari beranda dan tanah pekarangan rumah kesadaran. Bentuknya bisa macam-macam. Jika dirunut satu persatu, cara berpikir itu membenarkan kita untuk (1) mengacu pada satu prinsip a-historis. Karena prinsip itu diaksentuasi secara beragam maka (2) timbul pemaksaan dan hegemoni. Hal itu semakin kondusif ketika yang universal itu diradikalisasikan pada (3) orientasi-orientasi kontrol dan rekayasa atas sejarah, sehingga (4) kontrol itu dielaborasi dalam semangat kemajuan teknologis.

Wajar jika proses dehumanisasi kian tak terperi seturut dengan selalu difondasionalisasikan cara berpikir manusia pada basis-basis metafisis. Sedangkan basis-basis itu merupakan bagian dari humanisme itu sendiri dalam kerangka perlawanan/resistensi atas perangkat-perangkat mitos tradisional. Meng-counter dehumanisme berarti juga menolak humanisme. Entah kenapa tiba-tiba saya teringat canda Gus Dur di acara Kick Andi: ”kita harus membakar lumbung, karena tikusnya sudah (terlalu banyak dan) menguasai lumbung itu.”

Seperti itu jalan pikir yang digunakan Heidegger, ketika terpaksa mengembalikan spirit pembebasan manusia dengan cara membunuh metafisika. Kupikir, dia melakukannya dengan maksud membunuh akses buruk dari jalan pikir a-historis metafisis. Tampak ia sedang merekomendasikan cara berpikir hermeneutik, suatu mode of being ’dasein’ (manusia) di dalam dunianya. Ketika Gadamer muncul untuk melanjutkan kampanye Heidegger, ia mengajukan pertanyaan ”apakah mungkin anti-metafisika sampeyan tidak di bawah terang humanisme? Kalau tidak, so what?”

unknown being of dasein

unknown being of dasein

Kupikir Gadamer seperti sedang meluruskan niat Heidegger. Hermeneutika lantas berubah pengertiannya (dalam benakku) sebagai filsafat tentang makhluk-makhluk terlempar nan lugu yang ingin menghadirkan dunia ke dalam dirinya. Perkembangan epistemologi dari waktu ke waktu menceritakan betapa makhluk-makhluk terlempar yang ‘belum selesai diciptakan’ itu sedang berdialog dengan dirinya sendiri melalui (dan di dalam) dunia. Mau gak mau, dunia itu harus diinternalisasikan, dengan kata lain: dunia itu harus ada di dalam diri manusia. Di sinilah aku bisa mereka-reka, bahwa kritik atas saintisme (dan teknologisme) bermula dari di-eksternalisasikan dunia dari manusia, seakan-akan pikiran itu transenden dan dalam kepenuhannya.

Menurutku, menolak metafisika seperti sehaluan dengan menolak eksternalisasi atas dunia dari penglihatan manusia. Ini melahirkan semacam komitmen untuk senantiasa berkata ”iya” pada dunia, sekiranya ia berkenan masuk ke dalam personalitas dan eksistensi manusia. Inilah yang perlu saya renungkan, apakah martabat manusia akan kembali dipancangkan tinggi-tinggi ketika dunia itu hadir dalam diri mereka? Jika objektifitas—sebagai derivasi dari cara berpikir metafisis—dinafikan, tentunya kita takkan mengenal ”pernyataan.”

Barangkali kita sudah terlalu jauh dimanjakan oleh penggunaan ”pernyataan” (bahasa logis). Yakni, seakan-akan apa yang kita ucapkan/tuliskan secara logis-saintifik, merujuk begitu saja kepada kenyataan objektif. Ia ’begitu saja’, otomatis, karena ada sistem tanda-penanda-petanda yang tetap dan mapan. Oleh karena itu, tentunya dialog dasein (manusia) dengan diri sendiri dan dunia, merupakan martabat manusia yang dibangun di atas perjuangan keras mengkonstruksi makna. Manusia mirip sisypus dalam mitologi Yunani kuno, martabatnya terletak pada keikhlasannya untuk menerima hukuman abadi para dewa.

Hermeneutika versus metafisika, memberiku pelajaran berharga sebagai ’partner’ bagi pengalamanku beberapa hari ini. Ketika seorang kawanku mulai memutus hubungannya dengan masa lalu dan mencibirnya sebagai yang mewariskan atribut-atribut palsu, aku tak bisa menahan diri untuk mengatakan ”judgement-mu itu berangkat dari cara berpikir metafisis, mendepak dan menghakimi dunia masa lalu sementara kau berdiri di atas kaki lokalitas kini dan di sini.”

”Apa alasanmu menggunakan satu prinsip untuk menilai satu aspek dari masa lalu, masa kini, dan masa depanmu?”. Beruntung, jika bukan karena dia berpikiran terbuka dan mau mengakui (meski tanpa ia menyadarinya), tentunya aku anggap dia dogmatis dengan hasil eksperimen (setelah ia ’men-talak tiga’) masa lalunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: