Willkommen…zu meiner Website

tradisi: antara kealamiahan dan kemanusiawian

Posted on: November 7, 2008

Pagi itu agak mendung. Jalanan ramai dengan orang-orang hilir mudik. Seperti biasanya, mereka bergerak demi rutinitas. Tak usah dibahas, rutinitas macam apa yang mereka pertaruhkan. Mungkin tanpa ritunitas, mereka akan mati kutu di balik selimut-selimut lembab dan berdebu. Cobalah introspeksi, gerak kita atas nama apa? Kuliah, mengerjakan tugas, ke kantin, nongkrong, ngopi, jalan-jalan, baca buku, makan-minum, pacaran, dan seterusnya. Hidup kita hanya kesana kemari dari rutinitas satu ke rutinitas yang lain.

 

Orang boleh saja menyamakan rutinitas dengan kebiasaan. Karena ia biasa melakukannya setiap harinya secara rutin. Entah pada jam-jam yang tak tentu, yang jelas ia melakukannya secara rutin. Oleh karena sudah rutin, biasa dilakukan, dan orang merasa ‘kerasan’ dengannya, lama-lama kebiasaan itu menjadi tak terpikirkan. Kesalahan orang, seperti kata Edmund Husserl, adalah menganggap kebiasaan ada begitu saja, sudah dari sononya, sudah alamiah, dan tak perlu dipertanyakan. Husserl mengistilahkannya “Natürliche einstellung.”

 

Sepertinya memang kita masih harus meraba kembali kebiasaan, rutinitas, dan—sebagai konsekuensinya—apa yang kita sebut tradisi. Tradisi itu produk masa lalu. Seperti juga kebiasaan atau rutinitas, ia dihasilkan dari pergulatan kita pada potongan–potongan waktu lampau. Sebagai produk masa lalu, ia menempelkan sekian banyak atribut yang sedang/akan kita bawa kemana-mana. Tapi banyak orang telah telanjur hidup-mati dengan rutinitas/kebiasaan atau, katakanlah, tradisi. Banyak orang pula percaya, atribut itu alamiah dan sudah ada dari sononya. Kalau berani bercermin (introspeksi), tentunya kita akan tertawa karena melihat tampang sendiri ternyata begitu konyolnya.

Manusia itu konyol? Ya. Mungkin pahit kalau ini harus diakui. Mengapa? Bayangkan saja kita telah pergi ke toko baju kemarin lusa. Baju yang kita beli itu lalu dikenakan dan tak pernah dilepas sampai sekarang. Lebih konyol lagi, pada baju itu masih menempel bandrol harganya. Seperti itulah kita di hadapan rutinitas, kebiasaan dan tradisi. Apakah kebiasaan kita itu alamiah? Merupakan jati diri? Merupakan watak yang ditakdirkan? Pertanyaan itu mungkin bagi kebanyakan orang masih dianggap aneh. Lumrahnya kita biasa bertanya ‘apa rencanamu besok pagi? Apa agendamu besok malam?’, tapi akan dianggap aneh kalau kita bertanya ‘sejak kapan dan bagaimana mungkin kebiasaan-pagimu seperti itu?’

 

Mempertanyakan tradisi berarti juga menelusuri asal-usul suatu kebiasaan. Asal-usul itu tak pernah ada begitu saja secara alamiah, seturut dengan hukum kausalitas. Ini persoalan manusia, bukan persoalan alamiah. Atau kata orang-orang intelek, tetek bengeknya tradisi itu ada pada wilayah geisteswissenchaften, sementara njelimetnya kausalitas alamiah ada pada wilayah naturwissenchaften. Mempertanyakan tradisi atau kebiasaan berarti juga mengakui bahwa asal-usulnya bukan bersifat alamiah, melainkan hasil tawar-menawarnya kita dengan ‘penjualnya’, yakni segala sesuatu.

 

Persoalan akan lebih komplek ketika kebiasaan itu tidak sekadar kebiasan merokok, mendengarkan dosen kuliah, atau mengurusi agenda organisasi. Itu masih tak seberapa jika dibandingkan dengan kompleksitas permasalahan pada tradisi dan asal-usulnya, yakni tradisi kita beragama. Tradisi keberagamaan kita memiliki asal-usulnya sendiri. Bertumpuk-tumpuk warisan masa lalu agama telah mengambil tempat sangat sentral dalam keberadaan kita sebagai homo religious. Satu sisi kita menerimanya, sementara sisi lain akan dibiarkan gelap dan tersembunyikan. Satu sisi kita ketahui dan perselisihkan, sisi lain tak terpikirkan dan untouchable.

 

Tradisi tentunya bukan sesuatu yang alamiah, melainkan hasil kebudayaan manusia. Teman saya pernah memberiku asumsi dan simpulan bahwa kebudayaan manusia itu ambigu sekaligus clear, berisi kepentingan manusia yang menyakitkan tapi layak diperjuangkan. Pahit dilakukan sekaligus keharusan. Pendeknya, ada bayang-bayang paradigmatik antara hitam dan putih, kejahatan dan kebaikan, positif dan negatif, objektif dan subjektif, kehampaan dan kepenuhan. Demikian seterusnya mengingatkan kita pada konsep oposisi biner.

 

Relevansinya apa? Manusia selalu berhadapan dengan dua realitas: masa lalu dan masa kini. Masa lalu itu realitas. Demikian juga masa kini dan masa depan. Mereka memiliki landasan keberadaannya masing-masing di hadapan manusia. Berhubungan dengan keduanya seperti halnya kita tawar-menawar, berdialog. Inilah yang oleh Adonis tekankan, bahwa dalam proses dinamika kebudayaan terdapat kecenderungan ganda antara sikap menolak dan menerima.

 

Seperti juga masa kini, masa lalu juga berisi hal-hal menyakitkan dan menyenangkan, negatif dan positif. Di sinilah kita perlu mengakui bahwa tradisi dapat menjadi atribut manusia melalui proses tawar-menawar, menarik dan mengulur, juga trial and error. Seperti juga masa kini, di mana kita sedang memilih-memilah mana yang baik dan mana yang buruk, di dalam warisan masa lalu kita dalam wilayah keberagamaan terdapat simpul-simpul dan buntelan berisi tahi dan/atau mutiara.

 

Persoalannya menjadi bergeser sekarang. Dulu kita mengenal prinsip ‘mempertahankan tradisi baik dan menemukan hal baru yang lebih baik’. Prinsip itu seakan sudah menekankan sedari awal bahwa manusia sudah dari sononya mengenal kebiasaan lama (tradisi) yang baik-baik saja, lalu dengannya hal-hal baru-lebih baik dapat ditemukan. Prinsip itu seakan menekankan bahwa masa lalu dan kekinian telah menemukan watak independennya di hadapan manusia, sekadar hubungan afirmatif bukan dialogis. Padahal tradisi bukan bersifat alamiah, melainkan manusiawi. Tradisi memiliki arti dalam kesadaran manusia. Berarti atau tidaknya tradisi (atau kebiasaan/rutinitas) tergantung pada kesadaran manusia.

 

Sampai di sini saya seperti di hadapkan pada 2 penampakan yang saling berseberangan. Orang-orang kini seperti menjalankan rutinitas, kebiasaan dan tradisi secara buta dan ngikut aja, bahkan memandangnya pusat segala-galanya: kalau saya tak masuk kerja, nanti saya dipecat (dikeluarkan dari kampus, dihukum, dikucilkan teman-teman, dianggap murtad, dikafirkan, anti syariat, dsb dst). Idealnya, manusia tidak menjual murah kesadarannya pada tradisi. Sementara itu, rutinitas memang manusiawi: tanpa manusia ia bukanlah rutinitas. Tradisi hanya bisa disebut tradisi karena keberadaan pengikutnya, kebiasaan selalu berwujud kebiasaan manusia. Tidak ada kebiasaan matahari, atau bumi, atau pohon-pohon dan setumpuk buku.

 

***

Dan saya menyusuri jalan ramai pagi itu, di bawah mendung tipis. Dalam suhu udara yang gerah, saya hanya melangkah menuju satu tempat: ruang promosi doktor tempat diadakannya stadium general. Bukan karena tempat, acara, maupun EO (Event Organizing)-nya, melainkan karena Adonis hadir di sana menyampaikan presentasinya tentang Sastra, Islam dan Pembebasan. Tempat, acara, dan EO hanya berarti karena kehadiran Adonis. Dan Adonis sendiri hanya berarti karena pengalaman saya dengan pemikirannya. Adonis yang saya kenal selalu Adonis yang mendiami dunia-hidupKu. Mungkin ini berlebih-lebihan. Yang jelas, pengalaman yang hendak diobjektivasikan atau dieksplisitkan, mula-mula selalu awalnya bersifat personal.

 

Adonis bicara mengenai kebudayaan Arab. Dan presentasinya tak jauh beda dengan yang dituliskannya dalam ats-Tsabit wa al-Mutahawwil. Tentang tradisi, modernitas dan sikap manusia Arab terhadapnya. Menurutnya, Agama selalu berwujud ganda (1) sebagai wahyu dan (2) sebagai pergulatan pengalaman manusia. Dan orang Arab hampir selalu lupa bahwa agama yang ditradisikannya juga merupakan pengalaman kebudayaan. Lalu mempertanyakan agama menjadi terlarang. Juga mempertanyakan al-Quran menjadi ditabukan.

 

Ada pula problem mengenai kreatifitas manusia Arab vis a vis sikap kemapanan yang menempatkan agama sebagai wahyu yang tak tersentuh dan melulu celestrial. Imbasnya, kualitas syair Arab ditentukan oleh sejauhmana ia mengandung nilai-nilai normatifitas agama. Demikianlah kebudayaan Arab sangat dibayang-bayangi oleh masa lalu yang merepresentasikan diri secara a-historis dalam agama, sastra/bahasa dan politik.

Wallahu a’lam


 

[ Sekarang kita dihadapapkan pada pilihan: demi hidup, jalani tradisi atau hidup atas nama tradisi? Bagaimana menentukannya? Apa sikap kita pada tradisi dan hal-hal baru? Hidup kita untuk menghadirkan warisan masa lalu ataukah mewujudkan yang baru? Tuhan menyuruh kita untuk kembali pada awal penciptaan atau mendekati kesempurnaan penciptaan? Barangkali manusia selalu dipermainkan oleh dua matriks dalam dirinya sendiri, yang tampak dan tak tampak, muncul dan tenggelam. Seperti juga iman, ia bertambah dan berkurang, saat menengok ke belakang masa lalu dan menatap ke muka masa depan. ]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: