Willkommen…zu meiner Website

seni rupa sbg cermin

Posted on: Desember 5, 2008

…Seperti dikejutkan kembali bahwa seni disebut seni bukan karena ia bisa diuangkan. Seperti juga kebenaran, bukan disebut demikian karena dianut banyak orang….

Keindahan bisa hinggap pada apa saja. Itulah kenapa menghadapi keindahan adalah suatu tindakan yang sangat subjektif dan personal karena setiap orang selalu ditakdirkan menghadapi apa saja. Menghadapi karya Brey dan memerhatikannya, seperti saat saya menemukan keindahan pada objek-objek lain. Hubungannya sangat personal dan pribadi. Pembacaan saya terhadap karya itu tentu lebih berupa pengalaman, lebih tepatnya: pengalaman (dan aktus) interpretatif.

Jika tulisan ini diharapkan menginterpretasikan lukisan Brey dalam satu kerangka pembahasan mengenai selera pribadi saya, tentunya ini mengecewakan. Buat apa jika cuma dituliskan dalam selembar deluwang ini? Sebenarnya saya mau bercerita saja tentang saat-saat dan apa-apa yang lahir berloncatan ketika saya menghadapi karya Brey. Seperti yang ditegaskan dalam filsafat hermeneutik, tak pernah ada satu interpretasi tunggal yang otoritatif dan nir-waktu. Oleh karena itu, saya hendak menceritakan suatu representasi yang meloncat dari lukisan itu, yang lalu saya tangkap: semacam pesimisme eksistensial.

Istilah itu bukan rumus. Bukan teori atau konsep. Anggap saja, untuk menghindari penteorisasian atas karya seni, bahwa pesimisme eksistensial adalah ekspresi verbal yang muncul sekoyong-konyong pada saat saya sedang menghadapi karya Brey. Mengapa pesimisme, dan bukannya yang lain? Seperti jenis karya seni rupa lainnya, karya ini tidak pernah berbicara dengan dirinya sendiri. Melalui pengamat, tepatnya: interpretator, sebuah karya memiliki kemungkinan untuk berbicara. Lukisan itu sedang menyampaikan pesannya kepada saya. Oleh karena itu, ada persinggungan antara cakrawalanya sebagai karya rupa dan cakrawala saya sebagai interpretator.

Ini seperti mengingat kembali filsafat Husserlian, bahwa cogitan (the knower) dan cogitatuum (the known) tidak pernah memiliki pijakan sendiri-sendiri saat suatu pengalaman perjumpaan itu tergelar, atau ketika persinggungan antar-cakrawala itu memeristiwa. Hubungan persinggungan ini bukan berdasar pada objektifitas, bukan pula subjektifitas. Tepatnya, menghadapi karya seni (rupa) sebenarnya menghadapi manusia dan kemanusiaan yang nota bene adalah diri kita sendiri. Kita seperti bercermin, melihat raut muka sendiri. Melihat dan memahami karya Brey seperti menatap bayangan manusia saat ini.

Cermin itu tampak menyodorkan cerita. Seorang presiden berpidato, perempuan keriput menangis sendu, bendera setengah tiang, dan sepatu sial merk Converse. Tak ketinggalan, sekerumunan orang-orang berwajah pucat dan lelah berdemonstrasi. Hampir tiap muka diwarnai putus asa. Mereka seperti dirundung malang tak berkesudahan. Tapi kenapa ada sosok seorang presiden di sana? Dan orang-orang berdemonstrasi dengan latar belakang letusan gunung berapi dan banjir? Terbersit makna bahwa lukisan Brey dimuati oleh pesan-pesan politis yang, meski tak salah dan sah-sah saja, seakan-akan kesenduan dan nasib malang manusia itu akibat struktur politik yang salah urus.

Saya jadi teringat dengan isu lama ‘pertarungan manikebu vis a vis lekra’ dalam sejarah kebudayaan Indonesia modern, dulu di tahun ’60-an. Tapi cukuplah. Tak perlu dibahas lagi. Brey ingin meneriakkan slogan-slogan kritis berkaitan dengan fenomena sosial-politik negeri ini. Brey seperti tak merasa pede kalau karyanya tanpa ikut bersuara-kritis seperti itu. Maksud saya, adakah kemungkinan bagi seorang pelukis untuk lepas dari jeratan determinative sejarah ‘kerumunan’ politik?

Apakah nilai eksistensi seorang seniman, khususnya perupa, tergantung pada sistem yang melingkupinya? Karyanya bernilai sejauh memuat pesan-pesan sistem (ide-ide politis)? Tentunya ini tak cukup dijawab dengan sekali-dua-kali diskusi dan gerakan riil di wilayah yang sering kita sebut ‘abu-abu’ (politik adalah wilayah dimana kita rindu akan kemenangan melebihi kebenaran—yang benar termanifestasi pada yang-menang, kebenaran seperti berwarna abu-abu di wilayah ini). Tapi sebaiknya kita tak lama-lama membahas permasalahan ini. Ini berarti, diakui atau tidak, kita (saya, Brey, atau entah siapa lagi) masih menyimpan semacam harapan-tak-sadar bahwa ada satu otoritas (sang presiden) yang memegang semacam ‘kartu as’ tentang nasib manusia (rakyat, mahasiswa, demonstran, perempuan keriput, dll).

Tapi, alih-alih otoritas itu memiliki harga dan nilai pentingnya bagi kemanusiaan, faktanya malah sebaliknya: otoritas seperti rekayasa belaka yang sebenarnya tidak memberikan jaminan pada kita dalam beberapa (untuk tak mengatakan; segala) hal. Di dalam lukisan itu tergambar suatu kepedihan nan muram, raut muka lelah dan beku, kematian eksistensial. Saya tidak percaya jika seorang seniman tidak memiliki kegelisahan. Oleh karena itu, saya menafsirkan bahwa tentunya Brey ingin menyatakan (atau memberikan peringatan propetik) bahwa kemuraman eksistensial itu merupakan konsekuensi dari suatu sikap yang meletakkan harga kemanusiaan sub-ordinat di bawah otoritas.

Yups! tugas hermeneutik berkutat pada penafsiran suatu karya untuk menyingkap inner-world senimannya, bahkan melebihi yang bisa disingkap oleh seniman itu sendiri. Itulah kenapa penafsiran itu tanpa henti, mengalir, timbul-tenggelam, sejauh kita masih mengalami persinggungan dan perjumpaan antar-cakrawala dengan segala sesuatu.

Komunitas Pendopo LKiS, 28 Nov. 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: