Willkommen…zu meiner Website

tembus pandang

Posted on: Desember 14, 2008

Sebentar lagi ada pesta besar! Seperti yang sudah-sudah, kita akan disodorkan pilihan. Sekali ini perlu diteriakkan: pilihan! Dalam saat-saat menjelang pesta demokrasi, kebebasan adalah semacam mantra, semacam hipnotis besar-besaran yang akan menawarkan kepada kita candu. Pun pesta politik diruangkan di dalam riuh-rendahnya retorika, debat publik, kampanye massal, tak terkecuali kibar-kibar bendera warna-warni dan –maaf—mon(k)ey politic dalam berbagai variasinya. Di tengah kepungan bising itulah, raungan kebebasan dan pilihan bebas seolah konyol diperdengarkan.

monkeygunTapi, semuanya tergantung pada individu, pada pilihan bebasnya. Maka, tidak memilih pun termasuk pilihan. Ada bahaya yang coba dihembuskan sebagai isu. Kalangan tertentu mengkhawatirkan eskalasi naiknya angka golput. Golput memang hak seorang pemilih dengan rasionalitasnya sendiri. Sementara kaharusan menyampaikan aspirasi juga memiliki rasionalitas. Kontradiksi ini tak lain fatum (baca: takdir sekaligus malapetaka) yang mengawali—meminjam istilah Habermas—’krisis legitimasi’ yang akut di tubuh masyarakat modern.

Dengan legawa, mari kita sambut era malapetaka. Di balik malapetaka, selalu ada potensi-potensi penjungkirbalikan, semacam bahan-bahan/komposisi bagi kebaruan. Jika berharap masih bisa dibenarkan, maka inilah kondisi chaos yang akan menemukan titik equilibrium-nya pada nomos, sehingga semesta atau cosmos baru akan muncul. Dengan mengawal pilihan-bebas, apapun bentuknya, para binatang politik akan mengalami akibat-akibatnya. Dengannya mereka akan terdidik bijak menerima fatum itu karena kebaikan (tatanan demokratis, adil dan makmur, dan sebagainya) tak pernah gratis diberikan.

Oleh karena tatanan tidak terjadi begitu saja, melainkan diawali chaos, seperti big bang kosmik saat Tuhan bertitah ‘Kun!‘, triadic ‘chaos-nomos-kosmos’ akan susul-menyusul dalam terang dua wajah substansi tunggal ‘dionysian-apollonian.’ Sepertinya, pilihan bebas adalah malapetaka sekaligus tangan kanan dionysian dalam mitologi Yunani kuno. Ia adalah sumber chaos yang diperlukan dalam pembentukan kembali sejarah retak, entah untuk yang kesekian kali. Tanpa pilihan bebas, kedewasaan akan tanggung jawab takkan muncul dan insting untuk mendobrak akan muspra saja; politik akan kehilangan nilainya (kalau bukan malah ‘remeh-temeh tenggelam di laut dangkal’).

***

Bebas berarti lepas dari kungkungan. Musuh itu adalah keadaan terkungkung, dan siapa saja yang membiarkan keadaan itu terjadi. Secara personal, musuh itu dijejer dalam dualisme: eksterior dan interior. Musuh eksterior lebih mudah dihadapi daripada musuh interior. Musuh interior adalah diri kita sendiri. Sebutan bagi musuh interior yang jamak dipakai adalah pengkhianat. Politik yang terbesar adalah siasat untuk menundukkan diri sendiri, musuh interior, yang meliputi mental, pikiran sesat, kepentingan jangka pendek, dendam, dan sebagainya.

Menundukkan diri memerlukan conditio sine qua none (prasyarat utama) berupa waskita dan waspada terhadap potensi terbesar manusia dalam dunia politik. Sebagai binatang politik, manusia mudah mentransformasikan musuh interiornya begitu saja sesuai dengan alur konteks sekelilingnya. Benar kata Nabi: jihad akbar itu adalah perlawanan terhadap kecenderungan (al-hawā) diri sendiri. Politik bukan saja manifestasi di dataran hiruk pikuk dunia sosial, melainkan bersumber dari dataran inner-world (batin) manusia, bahkan pergulatannya lebih hebat. Pemenang dari pergulatan ini barangkali sebagaimana sinyalir Nabi (SAW.) pula: Man ‘arofa nafsahu faqad ‘arafa rabbah(u), semakna dengan datum Yunani kuno “nosce te ipsum”.

Memang tak ada diskon di sini, apalagi gratis-gratisan. Sejarah ‘outer-world’ memerlukan waktu tanpa ujung di dalam perjuangan politik meraih kebebasan, yang terentang setua umur peradaban manusia. Sementara tahap-tahap perjuangan politik ‘inner-world’, menuju kemenangan “‘arofa Rabbah”, juga tak semudah menembus barikade polisi anti huru-hara saat berdemonstrasi.

***

…kebebasan, dalam pengertiannya yang subtil, tentunya tak dapat dimengerti sebatas lepas dari belenggu eksternal. Kebaikan bersama menjadi ideal-ideal di mana politik itu diorientasikan. Oleh karena itu, politik mengambil manifestasi dalam tarik-ulur antara yang-bersama dan yang-sendiri: komunal dan individu. Konsekuensinya, makna kebebasan disesaki dengan pergulatan antara yang sana dan yang sini, the-other dan ego, komunal dan individu. Kebebasan bukan sesuatu, yang bisa dicapai atau didapatkan, melainkan gerak untuk sesuatu itu sendiri…

***

Apa itu politik? Ada pilihan bebas, ada sekerumunan orang, demokrasi, dan bendera warna-warni. Karena harus ada platform bersama dan konsensus, situasinya dipenuhi dengan orang-orang saling menawar. Harga dimusyawarahkan. Ujung-ujungnya, politik telah berganti rupa dengan rupa pasar. Maslahat publik diturunkan dari hasil tawar-menawar harga tadi. Manusia sebagai makhluk politik dimengerti dari perspektif bahwa manusia memiliki watak politik (politis), yang mengambil bentuk segera setelah manusia mendistansikan dirinya dari segala sesuatu, untuk hidup dengan keinginannya sendiri: dengan harganya sendiri.

Suka tidak suka, politik adalah pasar orang-orang memperjual-belikan keinginan. Dalam pesta lelang itu, diperjualbelikanlah komoditas berupa pemimpin, partai, program-program, dan termasuk janji palsu! Tapi dalam konteks pasca-modernisme, dalam pengertian modernism sebagai berhala mitis yang perlu dijungkirkan, subjek-subjek dalam pasar-bebas politik itu bukan lagi kebebasan, kesadaran, rasionalitas: bukan lagi manusia, tapi partai atau tepatnya, sistem birokratif.

Di mana manusia? Nietzsche bilang, di sana manusia tak ubahnya lalat-lalat pasar! Terlihat di dalam pasar jual-beli undang-undang, regulasi dan deregulasi itu, anggota dewan (tak) terhormat kita mirip lalat-lalat berdasi memakai peci.

***

Sekarang fenomena politik masih tetap bikin kaget dan tertegun. Selalu ada yang tampak aneh di sana. Jika kita menyimak narasi Horkheimer dan Adorno, dalam Dialektika Pencerahan, sejarah rasionalisasi adalah sejarah dialektika antara logos dan mitos, dalam rangka manusia mencari keteraturan alih-alih kondisi chaos yang tak dapat dimengerti. Karena di tangan manusia dan sejarah, segala hal bisa saja mati dan membangkai, logos pun ada saatnya menjadi mitos. Habis mitos, terbitlah logos. Demikian seterusnya sampai kita dapati ternyata keduanya bermetamorfosa.

Logos versus Mitos. Sejarah akal manusia diturunkan dari hasil pertandingan sementara dialektika antara keduanya. Jika politik adalah medan dialektika di satu sisi dan, metamorfosa keduanya di sisi lain, akan didapati wajah unik yang akan kita lihat nanti: musuh yang dulu, bukan lagi musuh yang kini. Barangkali di dalam politik, selain tak ada kawan atau musuh yang abadi, keduanya juga—secara sadar/sengaja—harus dibentuk lagi. Dengan ungkapan lain, diformat kembali secara clear dan distinct. Mencapainya diperlukan sense of crisis, kritik atas krisis (penghancuran mitos), dan pemantapan logos baru. Demikianlah…

Dus Politik itu apa? Semacam tempat orang bekerja memahat berhala, sebelum kemudian dianggap musuh dan dihancurkannya sendiri. ‘Ecrasez l’infame!’[1], teriak Voltaire pada berhala gereja setelah sempat juga ia bersembahyang-sujud di bawah kapel-kapel dogma. Seperti dalam cerita kultural Arab kuno, ada saatnya berhala diciptakan dari halawiy (manisan). Ketika lapar, tuhan palsu itu ber-ending di atas meja hidangan para tetua suku.

***


[1] !Hancurkan benda keji itudikutip Nietzsche dalam karyanya ‘Ecce Homo’.

4 Tanggapan to "tembus pandang"

halloo…………..

jiwa-jiwa yang kesepian pasti larinya internetan,,,hehehe

salam…

ini ntho yang mau di sumbangin ke “Rasan-Rasan Bejad’s” ???

enak aja lw blng…! Q kl ksPian larinya k kmar mu!cari kebisingan!tar mlm pd mw bca puisi treak2 kan?

tidjani itu poto yang nembak apanya kamu? Tidjani,, I miss you,,,

AgusR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: