Willkommen…zu meiner Website

citransenden(si)?

Posted on: Maret 16, 2009

Kebenaran (bukan) sebagai Citransendental Dunia Virtual*

Perbincangan kita mengenai dunia simulakra (atau simulakrum) hampir tak bisa dilepaskan dari benua wacana yang akrab dikenal dengan “cultural studies” yang seringkali dipertalikan dengan pos-strukturalisme dan pos-modernisme. Titik tolaknya bermula dari kritik-kritik pos-marxis terhadap (r)evolusi mutakhir kapitalisme.

virtualllTelah diakui bahwa seiring kapitalisme menua-renta dan disertai menebalnya konstruksi artifisial atas dunia oleh kemajuan sains dan teknologi, terdapat beberapa kecenderungan di mana dikotomi real-nonreal, substansi-aksiden, atau fisis-metafisis kehilangan relevansinya. Faktanya, sekarang untuk bisa tampil menarik, orang lebih percaya iklan shampo atau majalah mode yang mengekspose setelan terbaru kostum weekend.

Relevansinya demikian: keinginan “untuk bisa tampil gaul” lebih terasa normatif daripada “untuk tampil lebih intelek.” Bagi penghuni dunia virtual, penampilan lebih penting daripada substansi. Penampilan merupakan fenomena yang memunculkan sesuatu yang lain, yang saat ini bersifat melampaui dikotomi real-nonreal di atas, yakni image atau kesan. Kiblatnya umat virtual saat ini tak lain adalah image. Sulit untuk diakui bahwa memutihkan kulit murni merupakan kebutuhan. Ini adalah persoalan kultural, yang kita pinjam dari pengalaman keseharian.

Hemat saya, ada dunia lain yang sadar-tak-sadar menyembul dari genangan dunia artifisial. Dulu orang berdebat tentang objektifitas (yang benar adalah yang objektif), lalu tentang presence (yang benar adalah yang hadir). Sekarang orang lebih percaya tanpa ba-bi-bu kepada image, dari/tentang sesuatu yang semu, yang direproduksikan tanpa batas melalui teknologi informasi dan komunikasi. Sesuatu itu tak nyata tapi seolah di-nyata-kan lalu di-hadir-hadir-kan. Kita menyebut sesuatu itu “virtual.”

Dunia virtual memiliki status ontologis tertentu yang berbeda dengan dunia kongkret objektif dan dunia-hadir. Sebagaimana dunia kongkret dan dunia-hadir bertalian dengan manusia, demikian juga dunia virtual. Dunia-objektif, demikian scientist menyebut, adalah dunia forma. Dunia-hadir, sebagai lanskap berpijaknya gugusan pengalaman eksistesial kita, memiliki makna (meaning) sebagai gravitasinya. Tidak demikian bagi dunia virtual, citra atau image dianggap transendensi yang mengatasi seluruh modus etika masyarakat konsumeris. Sekadar mengistilahkan, penulis menyebutya ”citransenden(si). Tak ayal jika orang-orang merasa perlu dan harus mengkonsumsi minuman ”my body” supaya tubuhnya seindah tubuh Aura Kasih.

Paparan di atas baru sebatas mensketsakan pemandangan kultural masyarakat berbasis industri media. Padahal pertanyaan utama dari tulisan ini adalah apakah mungkin pengetahuan lahir dari dunia virtual? Untuk menjadikan pembahasannya lebih terfokus, sebaiknya kita batasi. Batasan itu antara lain: (1) apa yang dimaksud pengetahuan? (2) apakah itu dunia virtual?

Pengetahuan merupakan representasi konseptual mengenai suatu dunia sehingga sesuatu yang mulanya tak dimengerti menjadi dimengerti. Pengetahuan merupakan pengejawantahan dunia bagi kesadaran manusia. Kesadaran manusia merupakan aktualisasi diri secara eksistensial dan aktualisasi dunia secara konseptual. Pendek kata, pengetahuan tak lain teraktualisasikannya segala sesuatu. Tak ada aktualisasi, tak ada pengetahuan. Karenanya, pengetahuan bersifat eksistensial atau, dalam ungkapan yang terkadang kita dengar, you are what you think.

Meski memiliki status ontologis tertentu yang berbeda dengan dunia-hadir dan dunia-kongkret, dunia virtual tidak menyediakan kemungkinan bagi landasan epistemologis yang bersifat eksistensial. Di dalam dunia virtual, citra menempati tempat sebegitu tinggi sampai mengatasi baik-buruk dan benar-salah yang masih menjadi kriterium dalam dunia kongkret dan hadir dalam pengalaman. Misalnya, secara bawah-sadar, dapat dibenarkan jika seseorang mengkonstruk image tertentu, ganteng misalnya, ketika ber-chatting ria dengan perempuan kenalannya di dunia maya.

Citra yang seolah mentransenden tersebut bukanlah representasi dari realitas, melainkan simulasi yang dikonstruksikan secara terus menerus oleh gerak komodifikasi dan, pada saat bersamaan, memobilisasi kerumunan orang untuk menari menyertai geraknya. Di dalam dunia virtual, gerak manusia bukanlah gerak atas dasar kesadaran, melainkan ketidaksadaran. Baudrillard mengistilahkan, “gerak tarian” itu tak lain merupakan “ekstase massal” di lingkup kebudayaan yang menyediakan arena pemenuhan nafsu tanpa batas terhadap membanjirnya komoditas simulatif tak berhingga.

Tampaknya dunia virtual menyediakan seperangkat teori pengetahuan yang retak sekaligus rapuh sehingga orang tak perlu banyak bertanya untuk apa saya mengirim “pesan” tak penting lewat facebook atau mengenakan celana pencil begitu saja sekalipun tak nyaman.

Landasan epistemologi di dalam jagad simulakra, hemat saya, merupakan akibat turunan dari perkembangan saintifik yang digulirkan atas dasar dikotomi subjek-objek di mana subjektifitas dan objektifitas menjadi tolok ukur utama. Demikian itu bermuara pada ditetapkannya validitas kebenaran berdasarkan objektifitas, meski tak hadir secara eksistensial bagi kesadaran. Dengan rekayasa canggih, orang dapat me-objektif-kan sesuatu yang ilusif sebelum kemudian diacu sebagai kiblat bagi etika dan estetika. Dunia virtual menggantikan objektifitas dengan simulasi, dengan cara melenyapkan representasi (gambaran realitas).

Secara ilustratif, hal di atas dapat dijelaskan melalui perumpamaan peta: lumrahnya, wilayah teritorial mendahului gambaran peta. Tapi dalam dunia virtual, peta-lah yang mendahului wilayah teritorial. Karenanya, ketika dalam filsafat pengetahuan, pengetahuan representasional dan konseptual mengenai dunia dilahirkan dari persinggungan eksistensial dan hadir antara manusia dan dunia, yang benar dalam jagad virtual tidaklah demikian. Tepatya, hubungan manusia dan realitas dunianya dikonstruk sesuai dengan/oleh citra-citra dari dunia virtual.

Sampai tulisan ini selesai dibuat, penulis masih belum mendapatkan pembenaran atas memadainya citra atau image untuk menentukan sesuatu sebagai yang benar dan yang salah secara epistemologis. Tapi masyarakat sudah terlanjur menempat-tinggikannya sebagai landasan etis: semua tindakan dan ”pilihan-bebas”-nya mengikuti apa kata pencitraan (mengikuti trend?)

Tabik…wallahu al-Haqq a’lamu bis Shawab

* untuk diskusi bareng Being community

2 Tanggapan to "citransenden(si)?"

“Imago Dei” kini telah berganti jadi “Imago Virtuali”…

Neologi yang Bung buat, “citransendensi”, bisa jadi sumbangan entri penting untuk filsafat ke depan, ketika nantinya manusia telah memesin, dan mesin telah memanusiawi. Ketika nantinya Google benar-benar menggusur buku dan kitab suci, menjadi sumber kebenaran baru…

Aku menanti lahirnya filsafat masa depan itu Bung, seperti Nietzsche pernah menanti lahirnya manusia masa depan…

ais, sudah lahirlah filosof masa depan yang mengusung benih-benih filsafat masa depan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: