Willkommen…zu meiner Website

Kebenaran (bukan) sebagai Citransendental Dunia Virtual*

Perbincangan kita mengenai dunia simulakra (atau simulakrum) hampir tak bisa dilepaskan dari benua wacana yang akrab dikenal dengan “cultural studies” yang seringkali dipertalikan dengan pos-strukturalisme dan pos-modernisme. Titik tolaknya bermula dari kritik-kritik pos-marxis terhadap (r)evolusi mutakhir kapitalisme.

virtualllTelah diakui bahwa seiring kapitalisme menua-renta dan disertai menebalnya konstruksi artifisial atas dunia oleh kemajuan sains dan teknologi, terdapat beberapa kecenderungan di mana dikotomi real-nonreal, substansi-aksiden, atau fisis-metafisis kehilangan relevansinya. Faktanya, sekarang untuk bisa tampil menarik, orang lebih percaya iklan shampo atau majalah mode yang mengekspose setelan terbaru kostum weekend.

Relevansinya demikian: keinginan “untuk bisa tampil gaul” lebih terasa normatif daripada “untuk tampil lebih intelek.” Bagi penghuni dunia virtual, penampilan lebih penting daripada substansi. Penampilan merupakan fenomena yang memunculkan sesuatu yang lain, yang saat ini bersifat melampaui dikotomi real-nonreal di atas, yakni image atau kesan. Kiblatnya umat virtual saat ini tak lain adalah image. Sulit untuk diakui bahwa memutihkan kulit murni merupakan kebutuhan. Ini adalah persoalan kultural, yang kita pinjam dari pengalaman keseharian.

Hemat saya, ada dunia lain yang sadar-tak-sadar menyembul dari genangan dunia artifisial. Dulu orang berdebat tentang objektifitas (yang benar adalah yang objektif), lalu tentang presence (yang benar adalah yang hadir). Sekarang orang lebih percaya tanpa ba-bi-bu kepada image, dari/tentang sesuatu yang semu, yang direproduksikan tanpa batas melalui teknologi informasi dan komunikasi. Sesuatu itu tak nyata tapi seolah di-nyata-kan lalu di-hadir-hadir-kan. Kita menyebut sesuatu itu “virtual.” Baca entri selengkapnya »

ist2_6149793-happy-new-year-20091terpujilah Tuhan untuk tahun baru yang menghampiri kita semua, penghuni langit dan bumi

Sebentar lagi ada pesta besar! Seperti yang sudah-sudah, kita akan disodorkan pilihan. Sekali ini perlu diteriakkan: pilihan! Dalam saat-saat menjelang pesta demokrasi, kebebasan adalah semacam mantra, semacam hipnotis besar-besaran yang akan menawarkan kepada kita candu. Pun pesta politik diruangkan di dalam riuh-rendahnya retorika, debat publik, kampanye massal, tak terkecuali kibar-kibar bendera warna-warni dan –maaf—mon(k)ey politic dalam berbagai variasinya. Di tengah kepungan bising itulah, raungan kebebasan dan pilihan bebas seolah konyol diperdengarkan.

monkeygunTapi, semuanya tergantung pada individu, pada pilihan bebasnya. Maka, tidak memilih pun termasuk pilihan. Ada bahaya yang coba dihembuskan sebagai isu. Kalangan tertentu mengkhawatirkan eskalasi naiknya angka golput. Golput memang hak seorang pemilih dengan rasionalitasnya sendiri. Sementara kaharusan menyampaikan aspirasi juga memiliki rasionalitas. Kontradiksi ini tak lain fatum (baca: takdir sekaligus malapetaka) yang mengawali—meminjam istilah Habermas—’krisis legitimasi’ yang akut di tubuh masyarakat modern.

Dengan legawa, mari kita sambut era malapetaka. Di balik malapetaka, selalu ada potensi-potensi penjungkirbalikan, semacam bahan-bahan/komposisi bagi kebaruan. Jika berharap masih bisa dibenarkan, maka inilah kondisi chaos yang akan menemukan titik equilibrium-nya pada nomos, sehingga semesta atau cosmos baru akan muncul. Dengan mengawal pilihan-bebas, apapun bentuknya, para binatang politik akan mengalami akibat-akibatnya. Dengannya mereka akan terdidik bijak menerima fatum itu karena kebaikan (tatanan demokratis, adil dan makmur, dan sebagainya) tak pernah gratis diberikan. Baca entri selengkapnya »

…Seperti dikejutkan kembali bahwa seni disebut seni bukan karena ia bisa diuangkan. Seperti juga kebenaran, bukan disebut demikian karena dianut banyak orang….

Keindahan bisa hinggap pada apa saja. Itulah kenapa menghadapi keindahan adalah suatu tindakan yang sangat subjektif dan personal karena setiap orang selalu ditakdirkan menghadapi apa saja. Menghadapi karya Brey dan memerhatikannya, seperti saat saya menemukan keindahan pada objek-objek lain. Hubungannya sangat personal dan pribadi. Pembacaan saya terhadap karya itu tentu lebih berupa pengalaman, lebih tepatnya: pengalaman (dan aktus) interpretatif.

Jika tulisan ini diharapkan menginterpretasikan lukisan Brey dalam satu kerangka pembahasan mengenai selera pribadi saya, tentunya ini mengecewakan. Buat apa jika cuma dituliskan dalam selembar deluwang ini? Sebenarnya saya mau bercerita saja tentang saat-saat dan apa-apa yang lahir berloncatan ketika saya menghadapi karya Brey. Seperti yang ditegaskan dalam filsafat hermeneutik, tak pernah ada satu interpretasi tunggal yang otoritatif dan nir-waktu. Oleh karena itu, saya hendak menceritakan suatu representasi yang meloncat dari lukisan itu, yang lalu saya tangkap: semacam pesimisme eksistensial. Baca entri selengkapnya »

Pagi itu agak mendung. Jalanan ramai dengan orang-orang hilir mudik. Seperti biasanya, mereka bergerak demi rutinitas. Tak usah dibahas, rutinitas macam apa yang mereka pertaruhkan. Mungkin tanpa ritunitas, mereka akan mati kutu di balik selimut-selimut lembab dan berdebu. Cobalah introspeksi, gerak kita atas nama apa? Kuliah, mengerjakan tugas, ke kantin, nongkrong, ngopi, jalan-jalan, baca buku, makan-minum, pacaran, dan seterusnya. Hidup kita hanya kesana kemari dari rutinitas satu ke rutinitas yang lain.

 

Orang boleh saja menyamakan rutinitas dengan kebiasaan. Karena ia biasa melakukannya setiap harinya secara rutin. Entah pada jam-jam yang tak tentu, yang jelas ia melakukannya secara rutin. Oleh karena sudah rutin, biasa dilakukan, dan orang merasa ‘kerasan’ dengannya, lama-lama kebiasaan itu menjadi tak terpikirkan. Kesalahan orang, seperti kata Edmund Husserl, adalah menganggap kebiasaan ada begitu saja, sudah dari sononya, sudah alamiah, dan tak perlu dipertanyakan. Husserl mengistilahkannya “Natürliche einstellung.”

 

Sepertinya memang kita masih harus meraba kembali kebiasaan, rutinitas, dan—sebagai konsekuensinya—apa yang kita sebut tradisi. Tradisi itu produk masa lalu. Seperti juga kebiasaan atau rutinitas, ia dihasilkan dari pergulatan kita pada potongan–potongan waktu lampau. Sebagai produk masa lalu, ia menempelkan sekian banyak atribut yang sedang/akan kita bawa kemana-mana. Tapi banyak orang telah telanjur hidup-mati dengan rutinitas/kebiasaan atau, katakanlah, tradisi. Banyak orang pula percaya, atribut itu alamiah dan sudah ada dari sononya. Kalau berani bercermin (introspeksi), tentunya kita akan tertawa karena melihat tampang sendiri ternyata begitu konyolnya.

Baca entri selengkapnya »

Berpikir seperti melempar dadu, pikir Mallarme. Konon, Nietzsche juga menyangka demikian, seperti yang ditunjukkan Gilles Deleuze di bukunya tentang Nietzsche. Benarkah berpikir seperti melempar dadu?

Melempar dadu itu seperti main-main, tak serius: tak bisa dipastikan. Mempermainkan dadu, atau bermain dengan dadu, berarti juga bermain dengan kemungkinan yang serba tak pasti. Berpikir adalah permainan tentang/dalam keadaan yang serba tak pasti.

Baca entri selengkapnya »

one sheet of spirit

one sheet of spirit

Selembar ruh

Tampak meringis oleh kepedihan

Kenapa ia? Bukankah kematian berarti kembali pada asal?

Adakah asal yang berupa ketiadaan? Baca entri selengkapnya »